Nasib Kuburan Menteng Pulo, Romani & Kambing-kambing
Melani Putri | CNN Indonesia
Senin, 01 Feb 2021 10:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Permukan warga berdiri di kawasan makam China, TPU Menteng Pulo II, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/ Melani Putri)
Jakarta, CNN Indonesia --
Krisis pemakaman di ibu kota boleh jadi karena tata kelola yang tidak maksimal. Di sejumlah tempat pemakaman umum (TPU), makam-makam tua tak terurus berdiri bersisian dengan rumah-rumah penduduk.
Romani (60) tengah duduk di sisi kuburan China, TPU Menteng Pulo II, Jakarta Selatan, pagi itu. Ia menemani anaknya yang sedang beres-beres jajanan anak-anak.
Romani bukan seorang penjaga makam. Ia tinggal bersama suami, anak, dan cucunya di kawasan permakaman tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumahnya berdiri di antara makam-makam China yang sudah tak terawat. Persis di depan rumahnya, ada sepetak makam yang entah milik siapa.
Nisannya bertuliskan aksara mandarin yang mulai pudar. Bentuknya pun sudah tidak utuh dan hampir sejajar dengan tanah.
Sementara di sekitarnya, berjejer makam tua dengan nisan yang sudah rusak. Semak-semak tumbuh liar di antar batu-batu nisan yang retak dan penuh coretan tersebut.
Permakaman China tersebut dibangun pada 1947. Sementara Romani mulai menetap di kawasan tersebut sejak 1960. Sejak kecil dirinya sudah terbiasa melihat prosesi pemakaman Tionghoa.
"Sebelum saya lahir juga makamnya sudah ada," kata Romani.
Meski rumahnya berdiri di atas makam tua, Romano mengaku memiliki tanahnya berdasarkan warisan orang tua. Ia juga rutin membayar iuran listrik dan RT/RW. Beberapa kali rumahnya juga dicek oleh kelurahan setempat, namun tidak pernah sekali pun diminta pindah, bahkan digusur paksa.
"Sejak di sini, rumah milik bapak saya, kemudian saya tempati bersama suami yang memulung," ujarnya.
CNNIndonesia.com mencatat ada belasan rumah baik yang permanen maupun semi permanen, yang berdiri bersisian dengan kuburan-kuburan tua kompleks pemakanan Tionghoa di TPU Menteng Pulo.
Tak jelas lagi batas antara makam dan pemukiman. Yang jelas, keberadaan rumah-rumah itu memakan cukup banyak lahan. Sekitar dua atau tiga kali lapangan futsal. Di tengah krisis lahan pemakaman, luasan lahan sekecil apapun dalam kompleks pemakaman, sesungguhnya sangat dibutuhkan.
Romani mengaku tidak tahu harus ke mana jika ia diminta pindah dari rumah yang telah ditempatinya selama 60 tahun tersebut. Ia yang hidup dengan seorang anak, seorang menantu, dan tiga orang cucu tersebut mengaku betah tinggal di area pemakaman tua tersebut.
"Pindah ke mana ya, sudah betah di sini aja," kata Romani.
Ia juga mengaku agak enggan jika pemerintah memintanya pindah dan menempati rumah yang lebih laik. Perempuan yang dahulu bekerja sebagai tukang sapu jalanan di Ibu Kota itu beralasan, kepindahannya tidak lantas membuat perekonomiannya membaik.
"Kalau pindah, nanti di sana kerja apa, di sini kan bisa buka warung kopi, ya hidupnya begini aja," ujarnya.
Warga lainnya, Ranti (23) juga mengaku sudah menempati pemukiman di makam tua tersebut sejak lahir. Ia tak pernah sekalipun pindah dari pusara orang Tionghoa dan Budha tersebut.
Namun berbeda dengan Romani, rumah semi permanen Ranti pernah digusur oleh pihak TPU karena menempati tanah makam.
"Kejadiannya tahun 2017 apa 2018, katanya ada keluarga pihak makam yang mau ziarah," kata Ranti.
Namun ia dan keluarganya tak gentar. Setelah ziarah selesai, ia kembali membangun rumah semi permanen yang jaraknya masih berdekatan dengan makam tua tersebut.
"Ya dibangun lagi, bikin lagi rumahnya, orang TPU atau dinas datengnya kalau ada yang mau ziarah aja," tutur Ranti dengan anak dipangkuannya.
Ada risiko ketika Ranti memilih tinggal bersisian dengan makam tua yang sudah ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Tak jarang, ular melintasi pintu rumahnya saat siang hari.
Warga di sana juga memiliki beberapa hewan peliharaan, macam kawanan kambing kurus, ayam, hingga bebek. Hewan-hewan itu saban hari mencari makan di area kuburan tua tersebut.
Kuburan China yang tidak terurus di TPU Menteng Pulo II, Jakarta Selatan. (Foto: CNN Indonesia/ Melani Putri)
Di kuburan China lainnya, di Kebon Nanas, Jakarta Timur, pemandangan serupa juga tersaji.
Bersambung...
Sedikit berbeda dengan kuburan China di Menteng Pulo II, pemakaman China di Kebon Nanas memiliki ukuran yang lebih besar.
Di beberapa makam dengan luas 5x5 meter tersebut, terletak kasur, selimut, juga beberapa jemuran pakaian yang digantungkan menggunakan tali rafia.
Harsono (55), warga yang tinggal di TPU tersebut mengaku tetap membayar uang kontrakan setiap bulannya. Tarif dipatok Rp400 ribu per bulan.
Rumahnya semi permanen berukuran 5x8 meter, berdiri persis di samping makam. Ia tak masalah harus bertetangga dengan para 'penghuni' pusara.
"Mau di mana lagi, yang ada di sini, yaudah di sini," tuturnya.
Warga lainnya yang juga menempati makam tua di Kebon Nanas, Yahsudi (68) mengaku sudah tinggal di makam tersebut sejak 2010. Awalnya, ia adalah pemulung yang tinggal di bilangan Otista, Jakarta Timur.
Yahsudi tinggal seorang diri menempati sebuah makam tua yang lebarnya kurang lebih 3x4 meter dengan atap dari tembok.
Untuk mendapat privasi, ia membentangkan kain dan baliho menggunakan tali rafia yang diikatkan di empat tiang makam.
Yahsudi mengaku tak masalah jika diberikan tempat tinggal oleh pemerintah. Ia juga enggan tinggal di atas pemakaman yang entah milik siapa. Keadaan ekonomi dan himpitan hidup di ibu kota lah yang membuatnya terpaksa tinggal di sebuah lahan pemakaman.
"Tinggal di atas makam gini kan sebetulnya enggak boleh ya, ini karena ekonomi," ujarnya.
Dijanjikan Tempat Tinggal
Salah satu petugas di TPU Menteng Pulo mengatakan ada sekitar 51 makam tua yang masih dibayarkan pajaknya oleh pihak kerabat. Sisanya, merupakan makam tak bernama.
Pria yang enggan disebut identitasnya ini tidak bisa memberikan angka pasti berapa jumlah makam tua yang ada di TPU Menteng Pulo II. Namun untuk blok AA I, diperkirakan ada sekitar 250-300 makam tua.
Hanya sekitar 10 persen dari total tersebut yang masih memiliki nama.
Perihal pemukiman penduduk di wilayah kuburan tua tersebut, ia tidak berkata banyak. Namun ia mengaku, pernah mendengar kabar bahwa Pemkot Jakarta akan memberikan tempat untuk para warga yang tinggal di tanah areal pemakaman tersebut.
"Dulu pernah katanya mau disiapkan rumah tinggal, kita data semua, orang-orang itu punya KTP Jakarta, tapi programnya belum lanjut sampai sekarang," katanya.
Hingga kini, pihak TPU dan dinas terkait masih membiarkan warga menempati lahan pemakaman tersebut. Ia mengatakan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta pernah akan menggusur lahan tersebut, namun niat tersebut diurungkan.
"Namanya orang kecil ya, mau gimana lagi," ujarnya.
Mereka-mereka yang menempati tanah pemakaman tua tersebut berprofesi sebagai pemulung, tukang sampah, atau membuka warung di rumahnya.
Krisis pemakaman di ibu kota boleh jadi karena tata kelola yang tidak maksimal. Di sejumlah tempat pemakaman umum (TPU), makam-makam tua tak terurus berdiri bersisian dengan rumah-rumah penduduk.
Romani (60) tengah duduk di sisi kuburan China, TPU Menteng Pulo II, Jakarta Selatan, pagi itu. Ia menemani anaknya yang sedang beres-beres jajanan anak-anak.
Romani bukan seorang penjaga makam. Ia tinggal bersama suami, anak, dan cucunya di kawasan permakaman tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumahnya berdiri di antara makam-makam China yang sudah tak terawat. Persis di depan rumahnya, ada sepetak makam yang entah milik siapa.
Nisannya bertuliskan aksara mandarin yang mulai pudar. Bentuknya pun sudah tidak utuh dan hampir sejajar dengan tanah.
Sementara di sekitarnya, berjejer makam tua dengan nisan yang sudah rusak. Semak-semak tumbuh liar di antar batu-batu nisan yang retak dan penuh coretan tersebut.
Permakaman China tersebut dibangun pada 1947. Sementara Romani mulai menetap di kawasan tersebut sejak 1960. Sejak kecil dirinya sudah terbiasa melihat prosesi pemakaman Tionghoa.
"Sebelum saya lahir juga makamnya sudah ada," kata Romani.
Meski rumahnya berdiri di atas makam tua, Romano mengaku memiliki tanahnya berdasarkan warisan orang tua. Ia juga rutin membayar iuran listrik dan RT/RW. Beberapa kali rumahnya juga dicek oleh kelurahan setempat, namun tidak pernah sekali pun diminta pindah, bahkan digusur paksa.
"Sejak di sini, rumah milik bapak saya, kemudian saya tempati bersama suami yang memulung," ujarnya.
CNNIndonesia.com mencatat ada belasan rumah baik yang permanen maupun semi permanen, yang berdiri bersisian dengan kuburan-kuburan tua kompleks pemakanan Tionghoa di TPU Menteng Pulo.
Tak jelas lagi batas antara makam dan pemukiman. Yang jelas, keberadaan rumah-rumah itu memakan cukup banyak lahan. Sekitar dua atau tiga kali lapangan futsal. Di tengah krisis lahan pemakaman, luasan lahan sekecil apapun dalam kompleks pemakaman, sesungguhnya sangat dibutuhkan.
Romani mengaku tidak tahu harus ke mana jika ia diminta pindah dari rumah yang telah ditempatinya selama 60 tahun tersebut. Ia yang hidup dengan seorang anak, seorang menantu, dan tiga orang cucu tersebut mengaku betah tinggal di area pemakaman tua tersebut.
"Pindah ke mana ya, sudah betah di sini aja," kata Romani.
Ia juga mengaku agak enggan jika pemerintah memintanya pindah dan menempati rumah yang lebih laik. Perempuan yang dahulu bekerja sebagai tukang sapu jalanan di Ibu Kota itu beralasan, kepindahannya tidak lantas membuat perekonomiannya membaik.
"Kalau pindah, nanti di sana kerja apa, di sini kan bisa buka warung kopi, ya hidupnya begini aja," ujarnya.
Warga lainnya, Ranti (23) juga mengaku sudah menempati pemukiman di makam tua tersebut sejak lahir. Ia tak pernah sekalipun pindah dari pusara orang Tionghoa dan Budha tersebut.
Namun berbeda dengan Romani, rumah semi permanen Ranti pernah digusur oleh pihak TPU karena menempati tanah makam.
"Kejadiannya tahun 2017 apa 2018, katanya ada keluarga pihak makam yang mau ziarah," kata Ranti.
Namun ia dan keluarganya tak gentar. Setelah ziarah selesai, ia kembali membangun rumah semi permanen yang jaraknya masih berdekatan dengan makam tua tersebut.
"Ya dibangun lagi, bikin lagi rumahnya, orang TPU atau dinas datengnya kalau ada yang mau ziarah aja," tutur Ranti dengan anak dipangkuannya.
Ada risiko ketika Ranti memilih tinggal bersisian dengan makam tua yang sudah ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Tak jarang, ular melintasi pintu rumahnya saat siang hari.
Warga di sana juga memiliki beberapa hewan peliharaan, macam kawanan kambing kurus, ayam, hingga bebek. Hewan-hewan itu saban hari mencari makan di area kuburan tua tersebut.
Kuburan China yang tidak terurus di TPU Menteng Pulo II, Jakarta Selatan. (Foto: CNN Indonesia/ Melani Putri)
Di kuburan China lainnya, di Kebon Nanas, Jakarta Timur, pemandangan serupa juga tersaji.
Bersambung...
Cerita dari Kebon Nanas
(CNN Indonesia/ Melani Putri)
Sedikit berbeda dengan kuburan China di Menteng Pulo II, pemakaman China di Kebon Nanas memiliki ukuran yang lebih besar.
Di beberapa makam dengan luas 5x5 meter tersebut, terletak kasur, selimut, juga beberapa jemuran pakaian yang digantungkan menggunakan tali rafia.
Harsono (55), warga yang tinggal di TPU tersebut mengaku tetap membayar uang kontrakan setiap bulannya. Tarif dipatok Rp400 ribu per bulan.
Rumahnya semi permanen berukuran 5x8 meter, berdiri persis di samping makam. Ia tak masalah harus bertetangga dengan para 'penghuni' pusara.
"Mau di mana lagi, yang ada di sini, yaudah di sini," tuturnya.
Warga lainnya yang juga menempati makam tua di Kebon Nanas, Yahsudi (68) mengaku sudah tinggal di makam tersebut sejak 2010. Awalnya, ia adalah pemulung yang tinggal di bilangan Otista, Jakarta Timur.
Yahsudi tinggal seorang diri menempati sebuah makam tua yang lebarnya kurang lebih 3x4 meter dengan atap dari tembok.
Untuk mendapat privasi, ia membentangkan kain dan baliho menggunakan tali rafia yang diikatkan di empat tiang makam.
Yahsudi mengaku tak masalah jika diberikan tempat tinggal oleh pemerintah. Ia juga enggan tinggal di atas pemakaman yang entah milik siapa. Keadaan ekonomi dan himpitan hidup di ibu kota lah yang membuatnya terpaksa tinggal di sebuah lahan pemakaman.
"Tinggal di atas makam gini kan sebetulnya enggak boleh ya, ini karena ekonomi," ujarnya.
Dijanjikan Tempat Tinggal
Salah satu petugas di TPU Menteng Pulo mengatakan ada sekitar 51 makam tua yang masih dibayarkan pajaknya oleh pihak kerabat. Sisanya, merupakan makam tak bernama.
Pria yang enggan disebut identitasnya ini tidak bisa memberikan angka pasti berapa jumlah makam tua yang ada di TPU Menteng Pulo II. Namun untuk blok AA I, diperkirakan ada sekitar 250-300 makam tua.
Hanya sekitar 10 persen dari total tersebut yang masih memiliki nama.
Perihal pemukiman penduduk di wilayah kuburan tua tersebut, ia tidak berkata banyak. Namun ia mengaku, pernah mendengar kabar bahwa Pemkot Jakarta akan memberikan tempat untuk para warga yang tinggal di tanah areal pemakaman tersebut.
"Dulu pernah katanya mau disiapkan rumah tinggal, kita data semua, orang-orang itu punya KTP Jakarta, tapi programnya belum lanjut sampai sekarang," katanya.
Hingga kini, pihak TPU dan dinas terkait masih membiarkan warga menempati lahan pemakaman tersebut. Ia mengatakan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta pernah akan menggusur lahan tersebut, namun niat tersebut diurungkan.
"Namanya orang kecil ya, mau gimana lagi," ujarnya.
Mereka-mereka yang menempati tanah pemakaman tua tersebut berprofesi sebagai pemulung, tukang sampah, atau membuka warung di rumahnya.