Derita Penyintas Covid-19 Bertahan Hidup dengan Ventilator

CNN Indonesia | Kamis, 28/01/2021 12:20 WIB
Rasa sakit masih terbayang dalam benak penyintas Covid-19 kala menjalani hari-hari perawatan menggunakan ventilator. Ilustrasi. Rasa sakit masih terbayang dalam benak penyintas Covid-19 kala menjalani hari-hari perawatan menggunakan ventilator. (AP/Jae C. Hong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rasa sakit masih terbayang dalam benak penyintas Covid-19 dengan gejala berat, Anggun Wibowo, kala menjalani hari-hari perawatan menggunakan ventilator.

Pria 42 tahun itu mengaku dalam acara Mata Najwa di Trans7, Rabu (27/1), memiliki penyakit penyerta alias komorbid berupa tekanan darah tinggi. Hal itu yang membuatnya harus dirawat di instalasi gawat darurat (IGD) dari 21 Juli hingga 5 Agustus 2020.

Awalnya, Anggun hanya merasakan flu. Namun tiga hari mengonsumsi obat tak membuat kondisinya membaik. Ia pun memilih memeriksakan diri dan mendapati hasil positif Covid-19.


Anggun mengaku sempat menjalani isolasi mandiri. Namun kondisinya tak kunjung menunjukkan perbaikan. Bahkan, ia mulai batuk disertai bercak darah.

"Karena sudah ada sesak napas, saya tahu sudah harus ada pertolongan lebih intensif, makanya saya mau dirawat," papar Anggun.

Atas saran dokter, Anggun dirawat di IGD. Namun gejala berat yang dialami Anggun membuat dokter menyarankan ia menggunakan ventilator. Dokter pun memberikan catatan, pemasangan alat bantu bernapas itu berisiko.

Usai berunding dengan keluarga dan mencari tahu soal ventilator, Anggun pun setuju menggunakan alat bantu itu demi kesembuhannya.

Anggun menyebut ia harus dibius total sebelum pemasangan ventilator. Dalam kondisi itu, sebuah alat berbentuk mirip cangkul dimasukkan untuk membuka kerongkongan Anggun dan dilanjutkan dengan selang hingga tenggorokan.

Setelah tindakan tersebut, Anggun tidak sadar dalam waktu 35 jam. Padahal, umumnya pasien akan siuman dalam waktu 12 hingga 13 jam.

"Tapi sampai 35 jam saya baru siuman, itu keluarga sudah kebingungan," katanya.

Anesthetist with patient , the patient is the one lying down , and the anaesthetist is the one standing up .Ilustrasi. Penderitaan menggunakan ventilator baru Anggun rasakan ketika sudah sadar. (iStock/sturti)

Penderitaan menggunakan ventilator baru Anggun rasakan ketika sudah sadar. Anggun menyebut pasien dengan alat bantu nafas itu tidak akan bisa berbicara karena hilang suara. Jangankan bicara, menelan atau mengeluarkan ludah pun tak bisa.

Untuk mengeluarkan ludah, Anggun harus dibantu perawat dengan cara dipompa. Anggun mengaku selalu meminta bantuan perawat untuk dipompa setiap dua jam sekali. Sebab, jika tidak dikeluarkan ia akan tidak bisa bernapas.

"Jadi semua cairan itu untuk dikeluarkan dari tenggorokan harus dipompa keluar, dan itu sakitnya minta ampun." kata pria yang terkena Covid-19 dua kali ini.

Kala menjalani perawatan, Anggun mengaku sempat ragu bisa bertahan hidup. Hal itu ia alami pada hari ketiga hingga keenam perawatan. Kala itu ia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuh, bahkan hanya sekadar mengganti baju dan mengubah posisi bantal.

"Hari ketiga, keempat, sampai hari keenam itu sudah 'waduh, saya nggak mampu' karena sudah sakit beneran," katanya. "Bahkan makan saja harus disuntikkan lewat hidung, jadi makanan cair. Itu yang bikin kayaknya sudah enggak mampu."

Anggun merasa beruntung dan terbantu dengan dukungan yang diberikan keluarga juga sahabat-sahabatnya. Setiap hari, mereka selalu melakukan panggilan video dan mengajak mengobrol meski Anggun tak bisa bicara.

Bukan hanya keluarga, Anggun juga merasa terhibur dengan kehadiran para perawat juga dokter yang merawatnya selama 16 hari. Anggun menyebut kunjungan mereka bukan hanya sekadar mengecek kondisi pasien dan mengantar makanan.

"Biasanya mereka mengajak bercanda, mengajak ngobrol apalah walaupun saya enggak bisa bales," kata Anggun yang menyebut bahwa melawan Covid-19 harus dengan imun tubuh dan dengan pikiran yang tenang.

(sya/end)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK