Dilema Dokter ICU di Antara Antrean Pasien Covid yang Kritis

CNN Indonesia | Kamis, 28/01/2021 08:57 WIB
Keterbatasan ruang ICU membuat dokter Amelia RSUD Kota Depok, kerap dihadapkan pada pilihan pasien Covid-19 mana yang harus didulukan mendapat perawatan. Ilustrasi (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amelia Martira Sjafii kerap menahan napas sejenak kala jemarinya menggenggam gagang pintu ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Kota Depok, Jawa Barat. Ibu tiga anak itu harus mempersiapkan mental, menyambut ragam wajah penyintas Covid-19 yang membutuhkan penanganan.

Bau obat, suara mesin monitor ICU, ventilator, suara tarikan napas, hingga wajah lelah penghuni ruangan ICU membuatnya kerap bertaruh. Apakah hari ini Tuhan bersamanya menolong pasien untuk pulih ataupun sebaliknya, Tuhan mencabut nyawa pasien untuk selamanya.

Kulit pasien yang memucat dan detak jantung terhenti sempat membuat Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif ini merasa sedikit frustrasi kala harus menyaksikan kematian kerap menghampiri bangsal rumah sakit.


"Jadi kita bisa frustrasi, 'Saya sudah melakukan pedoman dan rekomendasi A,B,C yang dikeluarkan, tapi pasien tetep meninggal," kata Amelia saat bercerita melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Rabu (27/1).

Kondisi tersebut sempat membuat Amelia stres sendiri. Belum lagi, ia harus membuat sebuah keputusan atas nyawa manusia yang terpapar Covid-19.

Dokter kelahiran 1976 ini mengaku terpaksa memilih salah satu yang harus ditangani terlebih dahulu manakala puluhan pasien dengan gejala berat yang sama mengular membutuhkan bantuannya.

Dengan kondisi yang serba kritis ini, Amelia harus mempertimbangkan berbagai aspek saat memutuskan untuk memasukkan daftar antrean pasien yang harus dirawat dalam ruang ICU.

Pertimbangan itu antara lain dengan melihat tingkat potensi hidup pasien, penyakit bawaan atau komorbid yang dimilikinya, dan juga beberapa hal etis lain soal kehidupan pribadi pasien.

"Ini menjadi pusat kegalauan teman-teman sejawat, karena dalam waktu bersamaan orang dengan kasus dan kegawatan yang sama itu ada di dalam satu waktu yang sama," ujarnya.

Amelia bercerita belum lama ini dirinya terpaksa memilih seorang lelaki berusia 47 tahun yang merupakan seorang kepala keluarga dengan tanggungan anak, ketimbang seorang perempuan berusia 72 tahun.

Keduanya memiliki kondisi serupa dengan nasib tak jauh beda. Saat itu hanya satu ruangan ICU yang tersisa. Kondisi tersebut tak mungkin sanggup menyelamatkan dua orang sekaligus.

Dalam keadaan ini, Amelia harus memilih mana yang punya potensi bertahan hidup tinggi dan menilik sedikit peran orang tersebut dalam keluarganya. Dadanya sesak. Ia pun harus menyampaikan ribuan permintaan maaf kepada sosok ibu yang sepuh itu.

"Ini menjadi dilematis karena ini persoalan etika, jadi kita harus secara jernih memilah tersebut, dan itu ada di pemikiran para dokter," katanya.

Itulah gambaran rutinitas Amelia saat ini. Kesedihan yang kerap dialami itu membuatnya 'mati rasa'. Ia hanya bisa memastikan tangan dan hatinya bekerja secara maksimal, meski nyawa itu bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan semaunya.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu selalu berusaha membangun komunikasi dengan pasiennya. Ia khawatir momen itu adalah suara terakhir yang keluar dari kerongkongan si pasien.

Menurut Amelia, pasien Covid-19 yang ditanganinya kebanyakan masih sadar, meski sesak napas. Ia selalu meminta izin kepada pasien untuk melakukan proses intubasi atau pemasangan alat bantu napas ventilator pada tubuhnya. Saat yang sama, pasien meminta izin untuk berdoa sejenak.

"Mereka minta izin untuk diberikan waktu sejenak untuk mereka berdoa, dan itu sebagai etika sesama manusia, humanis, dari pekerjaan ini," ujar Amelia.

Proses Intubasi Pasien

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK