Tenaga kesehatan mengambil sampel melalui tes usap atau swab test untuk mendeteksi virus corona. (Foto: CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Satuan Tugas Penanganan Covid-19 merespons pernyataan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menyebut strategi surveilans tes, telusur, tindakan (3T) rapuh menangkal pandemi virus corona(SARS-CoV-2). Ridwan Kamil juga mengatakan penerapan protokol kesehatan 3M berupa memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan sangat rendah.
Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Alexander K Ginting tak sepakat dengan pernyataan tersebut. Dia mengklaim sejauh ini timnya bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memenuhi target jumlah pengetesan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Sebenarnya bukan jebol atau rapuh. Sistemnya sudah berpedoman terhadap apa yang diminta oleh WHO tentang 3T dan 3M," tutur Alex saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (2/2).
Perihal testing, Alex menjelaskan selama ini tim surveilans Kemenkes bersama tim pelacakan kontak Satgas covid-19 fokus menyasar warga di tingkat desa atau kelurahan untuk melacak kasus terkonfirmasi, kontak erat, dan warga yang bergejala.
Sehingga pemanfaatan media pemeriksaan tidak habis untuk testing acak. Ia pun menyebut sejauh ini telah menggunakan teknik deteksi Covid-19 baik menggunakan metode tes usap (swab) Polymerase Chain Reaction (PCR), rapid antigen, maupun tes cepat molekuler (TCM).
Adapun perihal laporan data yang fluktuatif serta mayoritas kasus yang disumbang DKI Jakarta, menurut Alex kemungkinan lantaran masih lamanya hasil laboratorium.
"Testing sudah tersedia banyak walaupun alat beragam seperti PCR, rapid test antigen, TCM dan seterusnya. Yang penting waktu tunggunya jangan lebih dari satu hari," jelas pria yang sempat menjabat Staf Ahli Eks Menkes Terawan Agus Putranto tersebut.
Infografis Beda Tes Corona: Rapid Tes, Antigen, PCR. (CNNIndonesia/Basith Subastian)
Soal lama tidaknya hasil swab keluar memang tergantung pada kerja laboratorium. Akan tetapi, menurut Alex sejauh ini kapasitas laboratorium pemerintah memadai. Hanya memang, lanjut dia, perlu penguatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Lebih lanjut perihal tracing atau penelusuran kontak, menurut Alex selama ini strategi tracing dilakukan melalui aplikasi yang sifatnya agresif dan terintegrasi.
Sesuai pedoman WHO, Alex mengklaim memasuki 2021 ini Indonesia berhasil melampaui target tracing tahun sebelumnya dari segi kecepatan identifikasi kontak erat. Sedangkan untuk pemantauan kontak erat, diakuinya masih di bawah capaian 2020.
Adapun sebelumnya Kemenkes menyatakan kini angka tracing telah mencapai 1:30. Artinya setiap satu orang yang positif Covid-19 akan ada 30 kontak erat atau warga setempat yang berinteraksi dengan pasien ikut dites.
"79,4 persen kasus baru dapat diidentifikasi kontak eratnya dan mulai dikarantina dalam waktu 72 jam sejak dikonfirmasi. Angka ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020. Sedangkan 23,6 persen kontak erat dipantau selama 14 hari, dan angka ini masih di bawah capaian tahun 2020," rinci Alex.
Sedangkan soal poin terakhir dari 3T yaitu penanganan atau treatment. Alex mengakui kendala utama memang perkara ketersediaan fasilitas kesehatan yang mulai penuh, tempat karantina mandiri, jumlah SDM dan, pemenuhan kehidupan warga yang menjalani isolasi mandiri.
"Siapa yang mengawasi yang diisolasi dan karantina selama 14 hari? Siapa yang kasih makan? tentunya Puskesmas dengan jangkauan terbatas," ungkap dia.
Oleh sebab itu, Alex mengatakan kini pemerintah terus berupaya mendorong Posko Satgas Covid-19 agar mampu membantu proses dan penyediaan karantina mandiri di desa. Ia juga meminta peran Kementerian Desa bersama Kementerian Dalam Negeri untuk mendukung logistik bahan pokok keluarga yang dikarantina selama 14 hari.
Terpisah, mengenai protokol kesehatan 3M berupa memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak diklaim meningkat di tengah lonjakan kasus Covid-19.
Hal tersebut diungkap Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Harmadi. Kata dia, tingkat kepatuhan masyarakat justru meningkat antara 15-25 persen dalam dua pekan terakhir.
"Dalam dua minggu tetakhir terjadi tren peningkatan kepatuhan 3M. Kembali ke kondisi September-Oktober 2020," kata Sonny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/2).
"Memang di masyarakat ada kondisi pandemic fatigue, seperti halnya di banyak negara lainnya. Kejenuhan ini berdampak pada menurunnya kekhawatiran tertular virus dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan," sambung dia lagi.
Adapun beberapa strategi yang bakal diterapkannya saat ini untuk mencegah 3M kendor adalah dengan mengaktifkan posko desa dan kelurahan demi membangun kesadaran serta pengawasan di tingkat komunitas.
Selain itu, menurut Sonny, Satgas juga menerbitkan buku panduan yang bakal diberikan ke setiap keluarga dan merekrut duta perubahan perilaku yang bertugas memberikan edukasi langsung di tengah masyarakat.
"Menggandeng emak-emak dan berbagai komponen masyarakat sebagai duta perubahan perilaku yang mengedukasi masyarakat. Saat ini jumlah duta mencapai 76.909 orang," terang dia lagi.
Infografis Agar Tak Tertular Virus Corona.(CNN Indonesia/Fajrian)
Sonny pun berharap tingkat kepatuhan masyarakat terhadap 3M dapat terus meningkat. Apabila ditemukan ada kelalaian masyarakat dalam menerapkan 3M, maka ia tak segan meminta Satgas daerah untuk memberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku.
"Mendorong satgas daerah untuk memperkuat penegakan aturan bagi para pelanggar protokol kesehatan," pungkas Sonny.
Pandemi Covid-19 di Indonesia telah melewati bulan ke-11 sejak kasus pertama diumumkan pada awal Maret 2020. Tapi hingga kini wabah belum juga bisa dikendalikan. Kondisi ini ditunjukkan masih terjadinya lonjakan kasus harian.
Data Satgas Penanganan Covid-19 hingga Senin (1/2) mencatat jumlah kasus positif Covid-19 sebanyak 1.089.308 orang dengan 16 persen di antaranya atau 175.349 berupa kasus aktif. Dari total kasus positif, sebanyak 883.682 orang dinyatakan sembuh dan 30.277 orang meninggal dunia.
Sementara angka kasus terus bertambah setiap hari, tingkat keterisian rumah sakit untuk perawatan pasien Covid-19 di berbagai daerah pun di atas ambang batas ketetapan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Satuan Tugas Penanganan Covid-19 merespons pernyataan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menyebut strategi surveilans tes, telusur, tindakan (3T) rapuh menangkal pandemi virus corona(SARS-CoV-2). Ridwan Kamil juga mengatakan penerapan protokol kesehatan 3M berupa memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan sangat rendah.
Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Alexander K Ginting tak sepakat dengan pernyataan tersebut. Dia mengklaim sejauh ini timnya bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memenuhi target jumlah pengetesan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Sebenarnya bukan jebol atau rapuh. Sistemnya sudah berpedoman terhadap apa yang diminta oleh WHO tentang 3T dan 3M," tutur Alex saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (2/2).
Perihal testing, Alex menjelaskan selama ini tim surveilans Kemenkes bersama tim pelacakan kontak Satgas covid-19 fokus menyasar warga di tingkat desa atau kelurahan untuk melacak kasus terkonfirmasi, kontak erat, dan warga yang bergejala.
Sehingga pemanfaatan media pemeriksaan tidak habis untuk testing acak. Ia pun menyebut sejauh ini telah menggunakan teknik deteksi Covid-19 baik menggunakan metode tes usap (swab) Polymerase Chain Reaction (PCR), rapid antigen, maupun tes cepat molekuler (TCM).
Adapun perihal laporan data yang fluktuatif serta mayoritas kasus yang disumbang DKI Jakarta, menurut Alex kemungkinan lantaran masih lamanya hasil laboratorium.
"Testing sudah tersedia banyak walaupun alat beragam seperti PCR, rapid test antigen, TCM dan seterusnya. Yang penting waktu tunggunya jangan lebih dari satu hari," jelas pria yang sempat menjabat Staf Ahli Eks Menkes Terawan Agus Putranto tersebut.
Infografis Beda Tes Corona: Rapid Tes, Antigen, PCR. (CNNIndonesia/Basith Subastian)
Soal lama tidaknya hasil swab keluar memang tergantung pada kerja laboratorium. Akan tetapi, menurut Alex sejauh ini kapasitas laboratorium pemerintah memadai. Hanya memang, lanjut dia, perlu penguatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Lebih lanjut perihal tracing atau penelusuran kontak, menurut Alex selama ini strategi tracing dilakukan melalui aplikasi yang sifatnya agresif dan terintegrasi.
Sesuai pedoman WHO, Alex mengklaim memasuki 2021 ini Indonesia berhasil melampaui target tracing tahun sebelumnya dari segi kecepatan identifikasi kontak erat. Sedangkan untuk pemantauan kontak erat, diakuinya masih di bawah capaian 2020.
Adapun sebelumnya Kemenkes menyatakan kini angka tracing telah mencapai 1:30. Artinya setiap satu orang yang positif Covid-19 akan ada 30 kontak erat atau warga setempat yang berinteraksi dengan pasien ikut dites.
"79,4 persen kasus baru dapat diidentifikasi kontak eratnya dan mulai dikarantina dalam waktu 72 jam sejak dikonfirmasi. Angka ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020. Sedangkan 23,6 persen kontak erat dipantau selama 14 hari, dan angka ini masih di bawah capaian tahun 2020," rinci Alex.
Sedangkan soal poin terakhir dari 3T yaitu penanganan atau treatment. Alex mengakui kendala utama memang perkara ketersediaan fasilitas kesehatan yang mulai penuh, tempat karantina mandiri, jumlah SDM dan, pemenuhan kehidupan warga yang menjalani isolasi mandiri.
"Siapa yang mengawasi yang diisolasi dan karantina selama 14 hari? Siapa yang kasih makan? tentunya Puskesmas dengan jangkauan terbatas," ungkap dia.
Oleh sebab itu, Alex mengatakan kini pemerintah terus berupaya mendorong Posko Satgas Covid-19 agar mampu membantu proses dan penyediaan karantina mandiri di desa. Ia juga meminta peran Kementerian Desa bersama Kementerian Dalam Negeri untuk mendukung logistik bahan pokok keluarga yang dikarantina selama 14 hari.
Kepatuhan 3M Diklaim Meningkat
Seorang warga mengenakan masker dan mencuci tangan, menerapkan protokol kesehatan ketika di pasar. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Terpisah, mengenai protokol kesehatan 3M berupa memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak diklaim meningkat di tengah lonjakan kasus Covid-19.
Hal tersebut diungkap Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Harmadi. Kata dia, tingkat kepatuhan masyarakat justru meningkat antara 15-25 persen dalam dua pekan terakhir.
"Dalam dua minggu tetakhir terjadi tren peningkatan kepatuhan 3M. Kembali ke kondisi September-Oktober 2020," kata Sonny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/2).
"Memang di masyarakat ada kondisi pandemic fatigue, seperti halnya di banyak negara lainnya. Kejenuhan ini berdampak pada menurunnya kekhawatiran tertular virus dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan," sambung dia lagi.
Adapun beberapa strategi yang bakal diterapkannya saat ini untuk mencegah 3M kendor adalah dengan mengaktifkan posko desa dan kelurahan demi membangun kesadaran serta pengawasan di tingkat komunitas.
Selain itu, menurut Sonny, Satgas juga menerbitkan buku panduan yang bakal diberikan ke setiap keluarga dan merekrut duta perubahan perilaku yang bertugas memberikan edukasi langsung di tengah masyarakat.
"Menggandeng emak-emak dan berbagai komponen masyarakat sebagai duta perubahan perilaku yang mengedukasi masyarakat. Saat ini jumlah duta mencapai 76.909 orang," terang dia lagi.
Infografis Agar Tak Tertular Virus Corona.(CNN Indonesia/Fajrian)
Sonny pun berharap tingkat kepatuhan masyarakat terhadap 3M dapat terus meningkat. Apabila ditemukan ada kelalaian masyarakat dalam menerapkan 3M, maka ia tak segan meminta Satgas daerah untuk memberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku.
"Mendorong satgas daerah untuk memperkuat penegakan aturan bagi para pelanggar protokol kesehatan," pungkas Sonny.
Pandemi Covid-19 di Indonesia telah melewati bulan ke-11 sejak kasus pertama diumumkan pada awal Maret 2020. Tapi hingga kini wabah belum juga bisa dikendalikan. Kondisi ini ditunjukkan masih terjadinya lonjakan kasus harian.
Data Satgas Penanganan Covid-19 hingga Senin (1/2) mencatat jumlah kasus positif Covid-19 sebanyak 1.089.308 orang dengan 16 persen di antaranya atau 175.349 berupa kasus aktif. Dari total kasus positif, sebanyak 883.682 orang dinyatakan sembuh dan 30.277 orang meninggal dunia.
Sementara angka kasus terus bertambah setiap hari, tingkat keterisian rumah sakit untuk perawatan pasien Covid-19 di berbagai daerah pun di atas ambang batas ketetapan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).