Mahasiswa Papua Tuntut USU Copot Gelar Profesor Yusuf Henuk

CNN Indonesia | Selasa, 02/02/2021 15:49 WIB
Ikatan Mahasiswa Papua di Medan berdemo menuntut pencopotan Guru Besar USU Yusuf Leonard Henuk terkait kasus dugaaan rasisme via medsos. Ilustrasi demo menolak rasisme terhadap warga Papua. (Foto: CNN Indonesia/Hugo Simbolon)
Medan, CNN Indonesia --

Puluhan anggota Ikatan Mahasiswa Papua di Medan berunjuk rasa memprotes aksi rasisme yang diduga dilakukan oleh Guru Besar USU Yusuf Leonard Henuk di depan Gedung Biro Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Selasa (2/1).

Dalam aksi itu, para mahasiswa menuntut pencopotan gelar profesor yang disandang Henuk, pengusirannya dari lingkungan USU karena dinilai telah merusak nama baik kampus, serta meminta kepolisian mengusut kasus itu.

"Kami minta copot jabatan Henuk selaku Guru Besar USU. Kami juga meminta dia diproses hukum. Di Twitternya dia samakan orang Papua dengan monyet dan dia bilang orang Papua bodoh. Kasus ini tidak boleh dipelihara di USU dan Indonesia," kata Koordinator Aksi, Yance Emany, di lokasi demo.


Yance pun mengancam melakukan aksi dengan jumlah massa yang lebih besar jika pimpinan USU tidak menindaklanjuti tuntutan itu.

"Hentikan rasisme terhadap masyarakat Papua. Jika tidak ditanggapi kami akan datang dengan jumlah massa yang lebih banyak. Kami mohon kerja samanya Bapak Rektor USU. Kami mahasiswa Papua melawan rasisme. Kami minta jangan ada lagi rasisme terhadap orang Papua," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Rektor USU Muryanto Amin berjanji akan mempelajari terlebih dahulu tuntutan para mahasiswa USU. Pihaknya akan mengumpulkan bukti-bukti dan memanggil Yusuf L Henuk yang bertugas di Fakultas Pertanian USU untuk dimintai klarifikasi.

"Nanti kita pelajari dahulu tuntutan mahasiswa Papua ini apakah yang bersangkutan melakukan pelanggaran etik. Yang bersangkutan merupakan dosen di USU. Nanti akan kita panggil untuk selanjutnya menentukan langkah yang akan ditempuh," bebernya.

Sebelumnya, Yusuf Leonard Henuk di akun @ProfYLH berkicau soal mantan Komisioner Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai yang berbau rasialis, pada 2 Januari.

Dalam unggahan itu, Yusuf menyandingkan foto Pigai dengan monyet yang sedang bercermin. Kemudian di foto itu disertakan kalimat "Emangnya Pigai punya kapasitas di negeri ini".

Pada unggahan lainnya, dia membuat cuitan: TERBUKTI ORANG PAPUA MEMANG BODOH SOALNYA ORANG PAPUA DIANGGAP PINTAR SEPERTI @NataliusPigai2 BISA DIBODOHI OLEH SI LUCIFER @VeronicaKoman. SEMUA ORANG PAPUA DIKUASAI LUCIFER/IBLIS JADI MERUSAK IMAN KRISTIANI SEMUA. DIMANAKAH PERAN GEREJA PAPUA?".

Dikonfirmasi terpisah, Yusuf L Henuk membantah unggahannya itu sebagai bentuk rasisme. Baginya, itu merupakan sindiran terhadap Natalius Pigai yang dinilainya sebagai sosok arogan.

Ia menyebut masyarakat mestinya fokus terhadap cermin dalam unggahan itu, bukan terhadap foto monyet yang disandingkan dengan foto Pigai.

"Itu sindiran, namanya sindiran dia harus introspeksi. Dia (Pigai) kok sombong sekali ya. Saya tidak setuju cara dia menghantamHendropriyono," ujar Yusuf saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Selasa (26/1/2021).

"Terkait postingan saya itu namanya ilustrasi (foto monyet), cerminan bahwa dia bercermin lah introspeksi diri. makanya saya bilang kalau kau tidak mau diserang jangan serang orang lain ya kan," tambahnya.

Terkait cuitan yang menyebut orang Papua bodoh, Yusuf mengatakan hal itu ditujukan untuk masyarakat Papua yang masih mendukung Benny Wenda (Petinggi Organisasi Papua Merdeka) dan Veronica Koman (pegiat HAM di Papua).

Infografis Titik Kerusuhan Imbas Insiden Mahasiswa PapuaInfografis Titik Kerusuhan Imbas Insiden Mahasiswa Papua. (Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen)

"Itu, kan, hanya sindiran. Saya bilang bodoh itu adalah orang Papua yang masih tetap mendukung Koman dan Wenda. Berarti mereka bodoh. Negara ini sudah merdeka, tapi banyak orang Papua tetap percaya sama Wenda dan Koman," dalihnya.

"Teman-teman saya banyak orang gereja, kenapa dari gereja tidak berfungsi untuk sadarkan warga Papua. Mari kita nikmati kemerdekaan yang Tuhan sudah berikan. Saya saja orang Indonesia bagian Timur iri saya dengan Papua, sebab Jokowi sudah bangun jalan bagus-bagus di Papua, tapi kami NTT dapat apa?," cetus dia.

(fnr/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK