Guru Besar USU Ikut Posting Foto Pigai: Dia Harus Introspeksi

CNN Indonesia | Selasa, 26/01/2021 13:36 WIB
Guru Besar USU Profesor Yusuf Leonard Henuk membantah bertindak rasialisme terhadap Natalius Pigai. Dia justru meminta Pigai introspeksi. Guru Besar USU Profesor Yusuf Leonard Henuk membantah bertindak rasisme terhadap Natalius Pigai. Dia justru meminta Pigai introspeksi. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta)
Medan, CNN Indonesia --

Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) Profesor Yusuf Leonard Henuk membantah melakukan aksi rasisme terhadap Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai. Dia justru meminta Pigai introspeksi.

Hal ini terkait foto yang dia unggah di media sosial. Dalam unggahan itu, tangkapan layar berita terkait Pigai yang mempertanyakan kapasitas mantan Kepala BIN Hendropriyono, disandingkan dengan foto monyet yang sedang bercermin. Yusuf berkomentar dalam unggahan itu dan mempertanyakan kapasitas Pigai untuk negeri.

"Itu sindiran, namanya sindiran dia harus introspeksi. Dia (Pigai) kok sombong sekali ya. Saya tidak setuju cara dia menghantam Hendropriyono. Terkait postingan saya itu namanya ilustrasi (foto monyet), cerminan bahwa dia bercermin lah introspeksi diri. makanya saya bilang kalau kau tidak mau diserang jangan serang orang lain ya kan," ujar Yusuf saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Selasa (26/1/2021).


Guru Besar Fakultas Pertanian USU tersebut menilai Pigai selama ini merasa paling hebat. Itu sebabnya ia mengunggah foto monyet bercermin disandingkan dengan foto Pigai. Menurut Yusuf, Pigai hanya diperalat untuk menyerang Pemerintahan Joko Widodo.

"Selama ini dia merasa hebat sekali, kalau dia bersuara boleh, terus kita tanggapi dia lari, bodoh lah itu. Makanya saya berjuang di medsos ini. Mari kita berdiskusi sampai habis, kalau tidak ada asap, tidak ada api, kan," kata Yusuf.

"Saya buat foto monyet berkaca itu kan artinya harus banyak bercermin, biar bisa introspeksi diri. Bukan karena ada monyet dengan cermin lantas itu disebut rasis," ujarnya.

Terkait cuitan yang menyebut orang Papua bodoh, Yusuf mengatakan hal itu ditujukan bagi masyarakat Papua yang masih mendukung pemimpin ULMWP Benny Wenda dan pegiat HAM Papua Veronica Koman.

"Saya bilang bodoh itu adalah orang Papua yang masih tetap mendukung Koman dan Wenda. Berarti mereka bodoh. Negara ini sudah merdeka, tapi banyak orang Papua tetap percaya sama Wenda dan Koman," katanya.

Menurut Yusuf, cuitannya di Twitter tidak bisa disamakan dengan unggahan Ambroncius Nababan di Facebook. Dalam kasus ini Pigai mendapat serangan rasisme dari pemimpin relawan Pro Jokowi-Amin, Ambroncius. Dalam unggahan itu, foto Pigai disandingkan dengan foto gorila disertai komentar terkait vaksin.

"Kalau saya tidak bisa disebut rasis. Pigai itu saja ngadu ke Amerika bukan karena saya, tapi karena si Nababan itu. Tidak bisa saya disamakan dengan Nababan, beda ceritanya itu. Kalau kritikan wajarlah, bagi mereka yang tidak bisa diskusi di medsos tutup akun saja," katanya.

Yusuf mengatakan usai unggahannya itu, Pigai lalu memblokir akun Twitternya. Yusuf pun tidak ciut jika gara-gara cuitannya itu, dia dilaporkan ke polisi.

"Kalau saya dipenjara gara gara masalah ini, nasib saya nanti pasti kayak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), keluar penjara, malah makin hebat," ujarnya.

(fnr/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK