Bedah Data 7 Tahun Banjir Jakarta dan Dampaknya ke Warga

CNN Indonesia | Rabu, 24/02/2021 11:12 WIB
Tahun berlalu, gubernur DKI Jakarta pun silih ganti, yang tetap sama menyambangi warga Ibu Kota adalah bencana banjir. Berikut data banjir DKI 7 tahun terakhir. Foto udara banjir menggenangi wilayah Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (20/2/2021). (Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur DKI Jakarta silih berganti tapi banjir masih saja menjadi masalah langganan yang saban tahun melanda Ibu Kota.

Tahun ini pun demikian. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, banjir pada Sabtu (21/2) lalu itu berdampak pada 113 RW. Jumlah ini menurun sehari setelahnya seiring surutnya luapan air.

Bertolok pada data dari laman Pantau Banjir Jakarta yang dikelola Pemprov DKI, sepanjang tujuh tahun terakhir, kondisi banjir tercatat fluktuatif. Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan data daerah terdampak, ketinggian air, lama genangan hingga, jumlah korban.


Areal terdampak yang pada 2014 masih menembus lebih 500 RW, dari tahun ke tahun trennya menurun. Meski, pada 2020 kembali merangkak naik sekitar 500an RW terdampak banjir.

Intensitas curah hujan yang berbeda pada masing-masing tahun juga jadi salah satu yang mempengaruhi besaran banjir. Pada 2014 dan 2020 tercatat curah hujan di DKI Jakarta tergolong tinggi dibanding tahun-tahun lainnya.

Berdasarkan data dari laman Pantau Banjir Jakarta yang dikelola oleh Pemprov, sepanjang tujuh tahun terakhir setidaknya ada bulan-bulan di mana banjir cukup tinggi. Data menunjukkan kondisi itu terjadi pada tengah tahun awal.

Pada 2014 misalnya, banjir terbesar terjadi pada Januari dan Februari. Saat itu dampak tertinggi tercatat akibat banjir pada Januari. Luapan air antara 10 hingga 400 cm merendam setidaknya 634 RW 125 kelurahan dari 37 kecamatan di Ibu Kota.

Evakuasi warga Pondok Jaya Mampang Prapatan yang terendam banjir hingga 180cm, Jakarta, 20 Februari 2020.Evakuasi warga Pondok Jaya Mampang Prapatan yang terendam banjir hingga 180cm, Jakarta, 20 Februari 2020. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan pada bulan itu 154,1 mm/hari. Bencana awal tahun itu mengakibatkan setidaknya 122.417 warga mengungsi di 434 titik dan 23 orang meninggal dunia.

Banjir yang menggenangi sejumlah daerah di Ibu Kota itu baru surut setelah 20 hari.

Setahun kemudian pada 2015, data banjir terbesar tercatat pada Februari. Setidaknya ada 615 RW di 133 kelurahan dari 38 kecamatan terendam banjir.

Rata-rata ketinggian air mencapai sekitar 10-200 cm dengan lama genangan hingga tujuh hari. Saat itu, curah hujan tertinggi mencapai 277,5 mm/hari. Setidaknyaa 41.202 orang mengungsi di 337 titik dan lima orang menjadi korban meninggal dunia dalam banjir.

Bergeser ke tahun berikutnya pada 2016, banjir terbesar terjadi pada April dengan lama genangan air terhitung dua hari dan ketinggian antara 5 hingga 360 cm. Saat itu BMKG mencatat curah hujan 124,5 mm/hari.

Setidaknya 134 RW di 44 kelurahan dari 18 kecamatan. Sementara 20.945 orang mengungsi di 40 titik dan tercatat tidak ada korban meninggal.

Setahun berselang pada 2017, banjir kembali menyambangi Ibu Kota. Data dampak tertinggi tercatat pada Februari dengan lama genangan lima hari dan ketinggian air antara 10 hingga 250 cm.

BMKG saat itu mencatat curah hujan tertinggi 179,7 mm/hari. Setidaknya 216 RW di 67 kelurahan dari 31 kecamatan terendam banjir. Sebanyak 5.858 jiwa mengungsi di 45 titik dan enam orang meninggal selama bencana.

Puluhan mobil terendam banjir akibat di jalan kemang raya, Jakarta, Sabtu, 20 Februari 2021. CNN Indonesia/ Adhi WicaksonoPuluhan mobil terendam banjir akibat di jalan kemang raya, Jakarta, Sabtu, 20 Februari 2021. (Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

Berlanjut ke halaman selanjutnya...

Banjir Sapa Gubernur dari Jokowi, Ahok, hingga Anies Baswedan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK