Menkes Sentil Lembaga Survei soal Warga Tak Mau Divaksin

CNN Indonesia | Selasa, 02/03/2021 19:37 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin meyakini lebih banyak lapisan masyarakat yang menghendaki divaksinasi. Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan ada begitu banyak lapisan masyarakat yang ingin lekas divaksinasi (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyindir lembaga survei yang menyatakan ada kalangan masyarakat menolak disuntik vaksin virus corona (Covid-19).

Dia menyindir lantaran ada hasil berbeda yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei tersebut mengenai jumlah masyarakat yang menolak divaksinasi.

"Ada lembaga survei bilang 41 persen yang menolak vaksin. Ada tiga lembaga lagi bilang cuma 10 persen, 20 persen, 1 persen," kata Budi di CNNIndonesia TV, Selasa (2/3).


Budi sendiri mengklaim bahwa dirinya banyak menerima telepon dari berbagai pihak yang menginginkan untuk divaksin.

Namun, Budi tidak menyatakan hasil survei yang ada tidak bisa dipercaya. Dia hanya menyampaikan saat ini juga banyak kalangan yang ingin lekas mendapat vaksin.

"Saya sibuk terima telepon orang minta vaksin, saya lihat minat masyarakat besar, kalau ada survei yang keluarkan, enggak apa-apa. Itu namanya demokrasi," ujarnya.

Budi mengingatkan bahwa tujuan dari vaksinasi Covid-19 ini adalah untuk melindungi keluarga, rekan dan seluruh masyarakat Indonesia.

Selain itu, vaksinasi juga bertujuan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sebesar 70 persen. Dengan begitu, penularan virus corona bisa ditekan.

"Kalau teman-teman enggak mau ikut enggak apa-apa. Tapi teman-teman mesti tahu ini saatnya hilangkan hak individualis kita untuk melindungi orang-orang yang lebih rentan," ucap Budi

"Kalau teman-teman divaksin, ini kesempatan kita untuk membantu melindungi sesama manusia," sambungnya.

Budi sendiri mengaku pernah melakukan survei di lingkungannya sehari-hari terkait vaksinasi Covid-19 ini. Dia mengamini masih ada kalangan yang belum mau divaksin. Namun, Kemenkes akan tetap fokus menjalani program vaksinasi.

"Saya tanya 10 orang yang seumuran, vaksin atau enggak, yang jawab 1 orang. Saya tanya orang mau divaksin apa engga, yang jawab 5 orang. Jadi mungkin ada masalah, tetapi kita konsentrasi juga dalam eksekusi," katanya.

Sebelumnya, Survei Indikator Politik Indonesia menyebut menyebut masih ada masyarakat yang belum yakin untuk ikut dalam program vaksinasi Covid-19.

Berdasarkan survei, keikutsertaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk divaksin juga belum mampu menaikan tingkat kepercayaan publik.

"Efek Presiden Jokowi ada, tapi efeknya cuma 2 persen menurunkan mereka yang awalnya tidak bersedia menjadi bersedia," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam jumpa pers daring, Minggu (21/2).

Burhanuddin menuturkan pada Desember 2020, jumlah responden yang menolak divaksin mencapai sekitar 43 persen. Pada Februari 202, jumlah itu menurun ke angka sekitar 41 persen.

Secara rinci, survei ini mencatat 32,1 persen responden kurang bersedia divaksin, sedangkan 8,9 persen sangat tidak bersedia. Adapun orang yang menyatakan bersedia divaksin total sebanyak 54,9 persen.

Indikator melakukan survei ini pada 1-3 Februari 2021. Sebanyak1.200 orang responden di 34 provinsi dilibatkan dalam survei ini. Margin of error ±2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(dis/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK