Ramai-ramai Kampus Takut Buka Sebelum Mahasiswa Divaksin

CNN Indonesia | Kamis, 04/03/2021 07:23 WIB
Kalangan mahasiswa yang berjumlah besar dinilai berpotensi membawa penularan virus corona, yang dikhawatirkan berdampak utamanya di kalangan keluarga. Ilustrasi. Mahasiswa. (robarmstrong2/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mengaku khawatir jika kampus dibuka ketika mahasiswa belum menerima vaksin covid-19.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Jamal Wiwoho mengatakan masih ada sejumlah PTN yang tidak berani membuka kampus dengan kondisi pandemi saat ini.

Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah itu mengaku kampusnya sudah siap dibuka sejak Januari 2021. Namun, kekhawatiran akan penularan virus di kalangan mahasiswa masih besar.


"Jangan sampai nanti mahasiswa di rumah kumpul dengan orang tua yang usianya 60 tahun yang imunitasnya lebih rendah. Ini kan potensi juga menularkan," katanya ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (3/3).

Jamal mengaku bisa memahami program vaksinasi punya keterbatasan karena stok yang belum memadai. Namun langkah ini menurutnya penting dilakukan untuk meminimalkan potensi penularan virus di lingkungan kampus jika pembelajaran tatap muka mau dilakukan Juli 2021.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria dengan tegas menyatakan pihaknya tidak akan mempertimbangkan pembukaan kampus sebelum mahasiswa divaksin. Ia mengatakan bahaya penularan virus bukan hanya pada dosen dan tenaga kependidikan.

"Sehingga jika seluruh mahasiswa sudah divaksin, dosen sudah divaksin, semua sudah divaksin mungkin kita akan pertimbangkan itu. Yang penting itu mahasiswanya. Kan jumlahnya banyak," tuturnya.

"Jadi saya harap mahasiswa dapat prioritas sudah divaksin setelah dosen. Karena apa? Karena ini bisa jadi adalah orang-orang yang 20 tahun lagi bakal memimpin bangsa ini. Investasinya cukup mahal mahasiswa ini," lanjut Arif menambahkan.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Mochamad Ashari senada. Ia menyoroti kampusnya sebagai contoh. Meskipun belum melakukan pembelajaran tatap muka, kata dia, sudah ada setidaknya 100 warga kampus yang sempat terkonfirmasi positif covid-19.

Ashari khawatir risiko penularan jadi meningkat ketika mahasiswa berkumpul di kampus tanpa ada perlindungan vaksinasi. Ia mengatakan jumlah mahasiswa di ITS saja bisa mencapai puluhan ribu.

Sementara, jika beban vaksinasi diberikan kepada kampus dengan skema vaksinasi mandiri, menurutnya hal tersebut tidak memungkinkan. Ia menilai tak ada PTN yang mampu membiayai vaksinasi seluruh mahasiswanya.

"UKT kita ditentukan pemerintah. Kita tidak bisa seenaknya. Meskipun (mahasiswa jalur) mandiri, juga masih dalam aturan pemerintah. Sehingga rasanya kita yakini, tidak akan mampu seluruh PTN BH (berbadan hukum) membiayai sendiri mahasiswanya untuk mendapatkan vaksin," ucap Ashari.

Juru bicara vaksinasi covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan mahasiswa belum masuk prioritas vaksinasi. Mahasiswa masuk ke kelompok masyarakat umum.

Vaksinasi untuk masyarakat, menurut rencana Kementerian Kesehatan, dilakukan pada April 2021-Maret 2022. Tahap pertama dilakukan kepada masyarakat rentan, dan kedua pada masyarakat lain.

"Nanti mungkin kita tunggu aturan lebih jelas. Tapi sampai saat ini adalah korporasi atau dunia usaha. Tapi partisipasi masyarakat memungkinkan," katanya ketika dikonfirmasi CNNIndonesia.com.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menginginkan kegiatan belajar tatap muka setelah vaksinasi guru dan tenaga kependidikan rampung. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mulai mengkaji opsi pembukaan kampus dan sekolah secara nasional.

(fey/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK