10 Daerah Rawan Karhutla, Sumsel Siaga Darurat

CNN Indonesia | Rabu, 10/03/2021 03:20 WIB
Pemprov Sumatera Selatan menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai Selasa (9/3). Ilustrasi karhutla. (CNN Indonesia/Hafidz)
Palembang, CNN Indonesia --

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), mulai Selasa (9/3).

Status ini bakal berlaku selama musim kemarau dan seluruh instansi terkait akan tergabung dalam Satgas Karhutla melakukan antisipasi, khususnya di 10 daerah rawan karhutla.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, status siaga darurat ini sudah berlaku sejak 1 Maret lalu. Pemerintah menetapkan siaga darurat karhutla di penghujung musim hujan untuk mempercepat koordinasi antarinstansi untuk melakukan antisipasi pencegahan dan penanggulangan karhutla.


"Penetapan status siaga darurat ini jauh sebelum musim kemarau tiba yang diperkirakan pada dasarian ketiga Mei. Selain menyiapkan saran dan prasarana pemadam kebakaran, kita juga akan memasifkan sosialisasi kepada masyarakat. Terutama yang tinggal di daerah rawan terbakar," ujar Deru usai Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Karhutla di Kebun Raya Sriwijaya, Kabupaten Ogan Ilir.

Deru menjelaskan, 10 daerah rawan karhutla Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Komering Ulu (OKU), dan OKU Timur.

Herman menegaskan pemerintah daerah harus lebih mengedepankan langkah antisipasi agar tidak terjadi kebakaran. Beberapa langkah yang harus dilakukan yakni menyiapkan embung, sumur bor, dan sekat kanal agar lahan yang rawan bisa tetap basah ketika musim kemarau tiba.

"Langkah pencegahan dinilai lebih efektif dibanding pemadaman. Biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan lebih rendah dibanding biaya operasional pemadaman ketika lahan sudah terlanjur terbakar. Operasional helikopter waterbombing, pemerintah keluar uang sekitar Rp200 juta per jam," kata dia.

Yang perlu diwaspadai, ujar dia, musim kemarau tahun ini lebih kering daripada tahun lalu yang masuk dalam kategori kemarau basah. Berdasarkan catatan, lahan seluas 428.356 hektare hangus terbakar akibat karhutla pada 2019 lalu. Jumlah tersebut berbeda jauh dengan luasan lahan yang terbakar pada 2020 hanya 946,33 hektare.

"Semua harus siaga dari penyakit menahun yang setiap tahun selalu saja terjadi. Kita bangun embung-embung, bukan hanya untuk stok air bagi kebutuhan hidup tapi juga pembasahan lahan rawa di sekitarnya saat musim kering. Dalam situasi darurat, embung itu bisa dimanfaatkan oleh helikopter waterbombing," kata Deru.

Deru mencontohkan, pembuatan embung konservasi di Kebun Raya Sriwijaya hasil kerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Kabupaten Ogan Ilir. Upaya sosialisasi kepada pun dikedepankan daripada memberikan sanksi kepada masyarakat maupun perusahaan.

Kemitraan dengan masyarakat serta perusahaan pun dilakukan agar instansi terkait dapat berkoordinasi dengan mudah.

Seperti Desa Makmur Peduli Api (DPMA) yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Bekerja sama dengan APP Sinar Mas, sebanyak 583 Masyarakat Peduli Api (MPA) dilatih agar bisa menanggulangi karhutla yang terjadi di sekitar kawasan desa mereka.

Masyarakat yang tersebar di dua kabupaten yakni OKI dan Musi Banyuasin tersebut dapat melakukan penanggulangan awal apabila terjadi karhutla sebelum Satgas Karhutla tiba di lokasi kebakaran.

Sementara itu Kepala Stasiun Klimatologi Klas 1 Palembang Hartanto berujar, musim kemarau di Sumsel akan terjadi pada dasarian ketiga Mei dan bersifat normal. Kemarau tahun ini akan lebih kering dibanding 2020 namun lebih basah dibanding 2019. Musim kemarau tahun ini pun diperkirakan mundur 20 hari dibanding kemarau biasanya di waktu normal.

"Ketika awal musim kemarau tiba, diprediksi hari tanpa hujan (HTH) di Sumsel bisa berlangsung sekitar 5-10 hari. Dalam kondisi tersebut lahan akan kering dan potensi munculnya titik panas pun meningkat," ungkap dia.

Potensi karhutla diprediksi muncul pada puncak kemarau di Agustus. Dirinya berujar, masih akan ada hujan pada musim kemarau ini namun intensitasnya rendah. Pada puncak musim kemarau, potensi hujan turun kurang dari 50 milimeter per 10 hari. Hartanto berujar, intensitas tersebut sangat kering.

"Di puncak musim kemarau yang terjadi pada Agustus 2021 diperkirakan HTH bisa mencapai 60 hari. Ketika itu terjadi, maka potensi kebakaran lahan semakin besar. Cuaca cenderung panas, kering, dan tanpa hujan akan memperluas potensi karhutla. Langkah penetapan status siaga darurat lebih dini sudah tepat yang dilakukan pemerintah," kata dia.

(idz/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK