SUARA ARUS BAWAH

Suka Cita dan Waswas Warga Sambut Mudik Lebaran

CNN Indonesia | Kamis, 18/03/2021 06:42 WIB
Sejumlah warga menyambut kebijakan bebas mudik tahun ini dengan suka cita, sebagian lagi waswas rumah sakit penuh lagi usai lebaran. Petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh pemudik yang melintas di pintu Tol Cipali Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (BKS) mengumumkan di depan anggota Komisi V DPR RI pada Selasa (16/3) lalu bahwa pemerintah tak akan melarang mudik lebaran 2021 meskipun pandemi Covid-19 belum mereda. 

Namun, secara terpisah Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan soal izin mudik lebaran 2021 itu belum final karena masih tahap pembahasan di pemerintah pusat.

Meskipun demikian, animo warga yang pada Lebaran 2020 terkendala tak bisa mudik karena pandemi Covid-19 pun telah mencuat di tahun ini, termasuk pula para pencari nafkah di terminal-terminal maupun stasiun.


Endah Mei (51), seorang wiraswasta di Jakarta mengaku tetap merasa was-was meskipun mudik dilakukan dengan protokol kesehatan. Endah yang berasal dari Malang, Jawa Timur itu mengaku termasuk orang yang disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Ketika ditemui CNNIndonesia.com di ruang tunggu Stasiun Gambir, ia seorang diri berada di deretan bangku kosong.

"Enggak tahu nanti, rumah sakit penuh lagi mungkin habis lebaran. Mudah-mudahan aman," kata Endah saat ditemui di stasiun Gambir, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.

Rasa simpati terhadap tenaga kesehatan (Nakes) juga mendorongnya menjalankan protokol kesehatan. Dia mengaku anaknya yang juga seorang tenaga kesehatan telah terpapar Covid-19 pada November 2020.

"Kalau lihat orang umum pada cuek ya, enggak pakai masker. Mereka tidak memikirkan Nakesnya," ujar Endah.

Endah belum memutuskan mudik ke kampung halamannya di Malang. Ia bergantung pada keputusan anaknya mengajak mudik atau tidak.

Endah Mei Anjarwati (51). Ditemui di Stasiun Ganbir, ia mengaku tetap merasa was-was meskipun mudik dilakukan dengan menjalankan protokol kesehatan.Endah Mei Anjarwati (51) saat ditemui di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.(CNN Indonesia/ Syakirun Niam)

Maftuhah (53), seorang perantau asal Jepara, Jawa Tengah yang sudah lebih dari 25 tahun di Jakarta, bersuka cita mudik dibebaskan. Dia yang sehari-hari mencari nafkah sebagai penjual es kelapa muda dan es cendol di kawasan Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat itu mendukung keputusan pemerintah mengizinkan mudik lebaran. 

"Ya bagus lah diizinin mudik," kata Maftuhah saat ditemui CNNIndonesia.com di lapaknya, Rabu (17/3).

Hal ini berbeda dengan tahun lalu, larangan mudik membuat beberapa orang terpaksa merayakan Idul Fitri di Ibu Kota.

"Kalau yang tahun kemarin adik saya di sini, enggak berani pulang," kata dia.

Bagi Maftuhah, mudik merupakan rutinitas tahunan. Ia selalu pulang ke kampung halamannya. Namun, tidak seperti orang kebanyakan, Maftuhah selalu pulang beberapa hari menjelang Ramadhan.

Tahun lalu, ia bisa mudik karena memutuskan pulang sebelum pandemi merebak di Indonesia. Dan, tahun ini, Maftuhah sudah berencana pulang tiga hari sebelum bulan Ramadhan.

"Sebelum Ramadhan, pas Ruwah (Sya'ban) tanggal 27 sudah pulang," ungkapnya.

Mengenai risiko membawa virus Corona, Maftuhah mengaku pasrah.

"Lah, pasrah lah sama Allah dijagain," kata Maftuhah berharap.

Maftuhah (53) seorang perantau asal Jepara, Jawa Tengah mengaku berencana mudik menggunakan bus karena tidak harus melakukan tes. Saat ini ia bekerja sebagai pedagang es kelapa muda di kawasan Stasiun Pasar Senen.Maftuhah (53) seorang perantau asal Jepara, Jawa Tengah yang mencari nafkah di Jakarta. (CNN Indonesia/ Syakirun Niam)

Catatan dari Ojek Pangkalan di Stasiun dan Mahasiswa S2

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK