ANALISIS

Wangi Politik dan Tugas Maha Berat Nadiem di Mendikbud Ristek

CNN Indonesia | Rabu, 28/04/2021 15:43 WIB
Para pengamat menilai Nadiem boleh moncer di usaha rintisan, tapi tidak mengelola pendidikan, apalagi saat ini dibebankan amanat mengawal riset dan teknologi. Nadiem Makarim (kiri) dengan Megawati Soekarnoputri. (Tangkapan layar instagram @nadiemmakarim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nadiem Makarim masih mempertahankan posisi sebagai pemimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setelah Presiden Joko Widodo memutuskan melebur kementerian itu dengan Kementerian Riset dan Teknologi.

Nadiem menjabat sebagai Mendikbud Ristek. Bukan hanya bertanggung jawab atas kebijakan dari pendidikan anak usia dini sampai pendidikan tinggi, dia juga bertanggung jawab atas riset di lingkungan pendidikan tinggi.

Pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Said Hamid Hasan menduga ada peran politik yang membuat Nadiem dipertahankan. Ia menekankan pendidikan dan riset Indonesia adalah persoalan besar. Nadiem tak banyak bergelut di kedua bidang itu.


"Ketika beliau bertemu dengan Ibu Mega, saya sudah merasakan itu pasti beliau yang akan jadi. Eskalasi politiknya kelihatan ke sana. Tapi apakah beliau akan sanggup handle riset? Itu kan persoalan besar," tuturnya ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (28/4).

Hamid mengungkap banyak kendala yang didapati riset di ranah pendidikan tinggi yang perlu dibenahi Nadiem jika bersungguh-sungguh ingin bertanggung jawab pada nomenklatur baru di kementeriannya.

Dua persoalan utama yang ditekankan Hamid adalah soal anggaran dan waktu. Ia mengatakan anggaran riset di pendidikan tinggi selama ini masih terbatas dan sering kali telat cair.

Alhasil, kata dia, riset yang seharusnya diselesaikan dalam waktu 9-10 bulan harus dipangkas jadi 2-3 bulan saja karena keterbatasan anggaran. Menurutnya ini tentu berdampak pada kualitas riset.

Sementara anggarannya terbatas, sumber daya manusia yang dikerahkan untuk melakukan riset menurut Hamid juga tidak diberi dorongan maksimal. Misalnya ketika dosen dituntut melakukan riset, mereka tidak dibebaskan dari tugasnya mengajar.

"Ini kebijakannya yang seharusnya ada. Misalnya pada semester ini ia tidak mengajar, hanya riset. Sehingga perhatiannya penuh pada riset," lanjut dia.

Ia menegaskan perkara riset tidak bisa disepelekan karena merupakan bagian besar dari inovasi di pendidikan tinggi. Dan dengan besarnya tanggung jawab Nadiem dalam persoalan pendidikan yang menurutnya juga belum terkendali, ia khawatir kemampuan Nadiem tak akan mumpuni.

Bukan Posisi yang Tepat

Sementara praktisi dan pengamat pendidikan Asep Sapa'at menilai Nadiem merupakan individu dengan kemampuan dan prestasi yang luar biasa. Namun ia ragu pendiri Go-jek itu orang yang tepat memimpin Kemendikbud Ristek

"Mas Nadiem ini orang yang hebat. Tapi tidak di posisi yang tepat. Kita paham beliau dulu salah satu pemilik Gojek. Kalau bicara unicorn, decacorn, ya beliau ahlinya. Tapi untuk mengelola pendidikan, saya bilang tidak semudah membalikkan telapak tangan," kata dia.

Argumentasi itu menurutnya bisa dibuktikan dari sejumlah kebijakan yang sudah dilakukan Nadiem ketika mengelola pendidikan Indonesia. Salah satu yang paling ia soroti soal kebijakan pemberian kuota internet untuk pembelajaran jarak jauh.

Meskipun kebijakan itu digadang-gadang menerima banyak pujian, Asep berpendapat kebijakan itu tidak tepat jika dianggap sebagai solusi kendala belajar di tengah pandemi.

Ia mengatakan sepanjang pandemi, menurutnya tidak ada inovasi ataupun sistem yang dibangun Nadiem dengan tujuan membekali kemampuan guru dan orang tua dalam menanggulangi pendidikan jarak jauh.

"Cara beliau menangani (pendidikan) manajemen keputusannya saya lihat manajemen logistik. Jadi butuh berapa? Benar-benar distribusi barang. Padahal dalam konteks pendidikan itu bicara penataan kelola manusia," tuturnya.

Rapor Merah untuk Nadiem dari Guru

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK