Makassar, CNN Indonesia -- Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah organisasi buruh dan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa dengan menyuarakan tuntutan mencabut Undang-undang Cipta Kerja hingga pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) sambil membakar ban bekas, Sabtu (1/5).
Aksi unjuk rasa ini terjadi di beberapa tempat seperti di perempatan Jalan AP Pettarani -Jalan Urip Sumohardjo, batas kota Makassar - Kabupaten Gowa, sehingga pihak kepolisian pun telah melakukan rekayasa arus lalu lintas dengan menutup sekitar lokasi demonstrasi.
Dengan menggunakan alat pengeras suara dan kendaraan bak terbuka para buruh dan mahasiswa secara bergantian menyampaikan orasi. Aksi unjuk rasa dimulai pukul 10.00 wita hingga pukul 14.00 wita. Hingga kini aksi masih berlangsung dan diperkirakan pada sore nanti beberapa kelompok buruh lainnya akan melakukan aksi yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buruh yang tergabung Aliansi Perjuangan Rakyat (ALPAR) menuntut pemerintah untuk mencabut Undang-undang nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
"Cabut UU Cipta Kerja dan PP turunannya pasal 34, 45,36, 37. Sahkan UU Masyarakat adat. Tangkap dan adili pelaku eksploitasi UUD 1945 pasal 33 ayat 3 dan stop impor beras," tegas jendral lapangan aksi, Taufiq.
Sementara, dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menuntut hentikan pemutusan kerja secara sepihak terhadap para pekerja atau buruh dengan alasan masa pandemi.
"Stop PHK sepihak pada pekerja atau buruh di masa pandemi. Bayarkan THR penuh pada pekerja atau buruh sesuai edaran Menaker RI," kata koordinator lapangan aksi, Abdul Muis.
Sedangkan, pihak keamanan dari Polrestabes Makassar telah menyiagakan ribuan personelnya dibeberapa tempat yang akan dijadikan sebagai lokasi peringatan Hari Buruh Internasional.
"Jumlahnya kita kerahkan untuk Polrestabes Makassar saja itu ada sekitar 1500 personel kita siagakan. Belum lagi dari tambahan dari Polda Sulsel," kata Kepala Bagian Operasi Polrestabes Makassar, Kompol Nugraha Pamungkas kepada CNNIndonesia.com
Hingga kondisi di lokasi peringatan Hari Buruh Internasional yang diperingati para buruh dan mahasiswa Makassar masih berjalan kondusif.
Buruh Semarang Tak Turun ke Jalan
Buruh Semarang memilih untuk menggelar acara diskusi dalam perayaan May Day. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Sementara itu buruh di Kota Semarang, Jawa Tengah memilih untuk tak turun ke Jalan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tahun ini.
Berlokasi di Hall Balai Kota Semarang, buruh menggelar pertemuan Wali Kota Semarang Hendrar Prihardi dan perwakilan dari Polda Jawa Tengah.
Dua permintaan buruh di Semarang yakni pembayaran THR penuh tanpa cicilan dan pembentukan desk ketenagkerjaan di Polda Jateng.
Hendrar menyatakan kesanggupannya memenuhi tuntutan buruh.
"Kami respon langsung. Besok saya akan bikin surat resmi saya tanda tangani agar pengusaha mencairkan THR kepada buruhnya. Besarnya satu kali gaji dan tidak dicicil," kata Hendrar.
Kepolisian juga menyanggupi untuk membentuk desk ketenagakerjaan di Polda Jateng. Selain itu Polda juga bersedia memfasilitasi buruh untuk mendapatkan vaksinasi covid-19.
Koordinator Aliansi Gerakan Buruh Berjuang (Gerbang) Nanang Setyono menyatakan kesanggupan pemda dan kepolisian ini jadi kado bagi buruh di May Day in,
"Alhamdulilah, semuanya dikabulkan, tak terkecuali tuntutan THR dari kami," ujar Nanang.
Di beberapa daerah di Jawa Tengah, peringatan May Day juga berlangsung kondusif dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Para buruh pun sepakat untuk tidak menjadikan May Day sebagai ajang pengerahan massa seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengimbau buruh untuk tidak turun ke jalan karena bisa berpotensi membentuk kerumunan yang bisa jadi penyebaran covid-19. Ganjar mengajak buruh untuk menggelar pertemuan online untuk berdiskusi.