Sosiolog: Larangan Mudik Lokal Aglomerasi Tak Akan Efektif

CNN Indonesia | Sabtu, 08/05/2021 06:01 WIB
Sosiolog mengingatkan bahwa masyarakat selalu ingin bersilaturahmi dengan saudara di lingkungan yang dekat. Jika dilarang, berpotensi terjadi kekecewaan. Ilustrasi penyekatan pemudik oleh petugas (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun menilai larangan mudik lokal di wilayah aglomerasi tak akan efektif untuk mencegah mobilitas masyarakat.

Menurutnya, orang-orang yang tinggal di satu wilayah aglomerasi sudah saling bertemu dan melakukan pelbagai aktivitas bersama sebelum ada larangan mudik. Menjadi aneh jika kini dilarang untuk bertemu satu sama lain padahal berada di lingkungan yang berdekatan.

"Kalau misalnya mudik lokal dilarang di satu aglomerasi seperti Jabodetabek ya gak efektif dan gak ada urgensinya hentikan mobilitas untuk mudik," kata pria yang akrab disapa Ubed kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/5).


"Justru orang kan jadi aneh dengan kebijakan ini. Mereka biasa ketemu tiap hari di aktivitas sosial-ekonomi, Ini kok pas lebaran justru dilarang," sambungnya.

Ubed mengatakan bahwa mudik dan silaturahmi saat Lebaran merupakan budaya yang sangat melekat di masyarakat Indonesia.

Aktivitas mudik yang sudah mengakar kuat tersebut akan sulit dihilangkan. Tak hanya mudik dari kota-desa, namun mudik antarkota untuk mengunjungi sanak saudara juga pasti dilakukan masyarakat saat lebaran.

Melihat hal itu, pelarangan mudik lokal dinilai tak akan efektif. Pasalnya, masyarakat yang berada di wilayah aglomerasi yang sama akan mencari berbagai cara agar bisa bersilaturahmi ke sanak saudaranya saat lebaran.

Terlebih lagi, wilayah aglomerasi seperti Jabodetabek tergolong sangat padat penduduk, sehingga mudah 'kucing-kucingan' dengan petugas.

"Ketika aktivitas kebudayaan itu disekat dihalangi, itu menjadi mengganggu harmoni sosial, mengganggu situasi sosiologis yang terbentuk puluhan tahun itu," tambahnya.

Tak hanya itu, Ubed menilai pelarangan mudik lokal potensial membuat gesekan antara masyarakat dengan petugas makin tinggi. Terlebih lagi, banyak petugas nantinya akan dikerahkan untuk berjaga di perbatasan-perbatasan wilayah aglomerasi satu sama lain.

"Silaturahmi itu kan tujuannya bangun kehangatan dan harmoni. Ketika harmoni diganggu ya akan terjadi disharmoni. Ketika itu terjadi tensi sosial naik. Jadi saya liat pemerintah tak punya antisipasi yang baik soal itu," kata Ubed.

Diketahui, pemerintah baru saja melarang masyarakat mudik lokal di wilayah aglomerasi sepanjang 6-17 Mei. Larangan diberlakukan guna memecah kebingungan masyarakat.

"Untuk memecah kebingungan masyarakat terkait mudik lokal di wilayah aglomerasi, saya tegaskan pemerintah melarang apapun bentuk mudik, baik lintas provinsi maupun satu wilayah kabupaten/kota aglomerasi," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal Sekretariat Presiden, Selasa (4/5).

(rzr/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK