BOR RS Naik 35 Persen, Persi Waspada Lonjakan Kedua Covid-19

CNN Indonesia | Selasa, 11/05/2021 02:43 WIB
Laporan kenaikan BOR antara 30-35 persen menurut Sekjen PERSI Lia Gardenia bisa menjadi salah satu indikator lonjakan kedua pasien Covid-19 di Indonesia. Tenaga kesehatan mengamati monitor kamera CCTV (Closed Circuit Television) yang ada di ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/5/2021). (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Lia Gardenia Partakusuma mengungkapkan saat ini seluruh RS di Indonesia tengah dalam tahap siaga menghadapi potensi lonjakan pasien Covid-19 yang berimbas pada keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR).

Lia mengatakan, saat ini PERSI menerima laporan dari berbagai daerah terkait kenaikan BOR RS antara 30-35 persen dalam sebulan terakhir. Meski bukan angka cukup tinggi, tapi Lia mengaku kenaikan itu sebagai pertanda awal pasien Covid-19 akan kembali meningkat.

"Kami dikumpulkan beberapa kali oleh Kementerian Kesehatan untuk siaga, dan untuk bersiap-siap apabila ada ledakan kedua. Ini yang sedang kita siapkan," kata Lia kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/5).


Dengan potensi lonjakan kasus Covid-19, Lia mengatakan telah ada komando bersama bahwa kini seluruh RS yang sempat 'istirahat' akan kembali difungsikan. Artinya, RS yang kembali normal diperuntukkan bagi pasien non-covid-19, saat ini kembali disiapkan sebagai RS Covid-19.

Lia menjelaskan, saat ini ada 940 rumah sakit yang menjadi rujukan pasien Covid-19 di seluruh Indonesia. Namun tak menutup kemungkinan jumlah itu akan bertambah, menyesuaikan situasi dan kondisi sebaran virus corona.

"Sekarang dengan ada peringatan dari Kementerian Kesehatan maupun epidemiolog, maka kita sudah mulai siap-siap kembali mengonsepsi yang tadinya non Covid-19 jadi Covid-19," jelasnya.

Terkait perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia, Lia pun mengaku was-was akan terjadi penambahan pasien bergejala berat. Sebab berkaca pada kondisi 'Tsunami Covid-19' di India, banyak penyintas Covid-19 di India mengalami gejala berat diduga efek dari mutasi corona yang berkembang luas.

Apalagi saat ini, Indonesia sudah mengidentifikasi tujuh varian corona yakni varian D614G, B117, N439K, E484K, B1525, B1617, dan B1351. Bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi transmisi lokal.

Sementara target pemerintah saat ini, RS Covid-19 diprioritaskan untuk pasien dengan gejala sedang-berat. Sementara pasien gejala ringan diharapkan mampu isolasi mandiri atau karantina di Rumah Sakit Darurat Covid-19.

"Kami khawatir kasus-kasus Covid-19 yang berat, ini kami sinyalir sudah mulai terjadi di Indonesia. Dan inilah yang menyebabkan kami di RS memikirkan terkait mudik yang tidak bisa dibendung, kami sangat-sangat khawatir kasus berat," pungkas Lia.

Infografis fakta mutasi covid-19 B117 Inggris masuk RIInfografis fakta mutasi covid-19 B117 Inggris masuk RI. (CNN Indonesia/Fajrian)

Merespons potensi kenaikan kasus Covid-19 dan bertambahnya BOR RS di Tanah Air, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan telah menyiapkan RS guna mengantisipasi lonjakan pasca-lebaran.

Budi menyampaikan, ketersediaan tempat tidur RS secara nasional saat ini berjumlah sekitar 390 ribu. Dari jumlah itu, 70 ribu tempat tidur dikhususkan untuk pasien Covid-19. Adapun untuk kapasitas ICU tercatat sekitar 22 ribu dan yang dikhususkan untuk pasien positif virus corona sebanyak 7.500 unit.

Mantan wakil menteri BUMN itu menjelaskan, tempat tidur untuk isolasi pasien virus corona saat ini baru diisi sekitar 23 ribu dari total kapasitas 70 ribu unit. Untuk ICU, telah terisi sekitar 2.500 dari total ketersediaan 7.500 unit.

"Dari status yang ada sekarang, di RS, kita masih punya room dua kali lipat di atasnya. Kalau naik kasus konfirmasinya, dan kalau itu tembus, kita masih punya kapasitas RS yang bisa kita konversi jadi tempat Covid-19," tutur Budi.

(khr/nma)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK