Jakarta, CNN Indonesia -- Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB saat ribuan civitas akademi Universitas Trisakti, Jakarta melakukan aksi damai di kampus, 12 Mei 1998.
Aksi itu diawali penurunan bendera setengah tiang, diiringi lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta.
Ribuan orang melakukan itu sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi Indonesia yang dihantam krisis ekonomi dan politik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua jam berselang, aksi mulai memanas, massa memutuskan turun ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Demonstrasi dimaksudkan dipusatkan di gedung parlemen.
Namun, long march yang dilakukan mahasiswa itu terhadang tepat di depan pintu masuk kantor Wali Kota Jakarta Barat. Aparat kepolisian membentuk barikade dua baris. Mereka dilengkapi dengan tameng dan pentungan.
Negosiasi dilakukan, namun tak membuahkan hasil, massa mendesak maju yang dibalas datangnya personel tambahan.
Karena tertahan, aksi mimbar bebas spontan pun dilakukan di jalan. Mahasiswa meneriakkan yel-yel dan nyanyian. Hujan yang mengguyur Ibu Kota pun melengkapi teriakan.
Kemudian sekitar pukul 17.00, aparat meminta mahasiswa untuk kembali ke dalam kampus. Saat itulah kericuhan bermula. Gas air mata ditembakkan ke arah mahasiswa, mereka lari tunggang langgang, berlindung ke segala tempat.
Hujan air berganti hujan peluru, dengan tembakan yang terarah, empat mahasiswa yakni Elang Mulia Lesmana; Heri Hertanto; Hafidin Royan; dan Hendriawan Sie tewas tertembak. Selain itu, korban luka juga berjatuhan.
Dalam laporan yang dirilis Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa (TGPF) Kerusuhan Mei 1998, dapat disimpulkan bahwa peristiwa penembakan mahasiswa di Trisakti itu telah menciptakan faktor martir yang telah menjadi faktor pemicu kerusuhan.
Pagi harinya di 13 Mei, ribuan mahasiswa memberikan penghormatan terakhir kepada rekannya yang tewas tertembak.
Rusuh
Dari sudut urutan peristiwa, TGPF menemukan bahwa titik picu awal kerusuhan di Jakarta terletak di wilayah Jakarta Barat, tepatnya wilayah seputar Universitas Trisakti, 13 Mei 1998, sementara pada 14 Mei 1998, kerusuhan meluas dengan awalan titik waktu hampir bersamaan, yakni rentang antara pukul 08.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB.
Sasaran kerusuhan adalah pertokoan, fasilitas umum, pom bensin, tanda-tanda lalu lintas, kantor pemerintah, termasuk kantor polisi. Selain itu perusuh juga melakukan pembakaran gedung, rumah dan toko, serta kendaraan bermotor umum dan pribadi.
Mengutip laporan TGPF, di Yogya Plaza Klender, Jakarta Timur, massa berkumpul karena mendengar isu tempat itu akan dibakar.
Perusuh Misterius, Kekerasan, hingga Jatuh Rezim
Penjarahan saat terjadi kerusuhan Mei 1998 (AFP PHOTO / CHOO YOUN-KONG)
Perusakan lalu dimulai oleh puluhan pemuda berseragam SLTA. Pembakaran dimulai ketika dan setelah puluhan pemuda yang membawa jerigen diturunkan dari satu truk Fuso. Setelah plaza terbakar, puluhan pemuda itu meninggalkan lokasi dengan truk yang sama.
Perusakan juga menyebar ke wilayah lainnya di Ibu Kota, di Pusat Perbelanjaan Slipi, ada aksi penjarahan dan pembakaran. Laporan TGPF menyebutkan aksi itu dimulai ketika puluhan pemuda diturunkan dari truk dan melakukan aksi perusakan serta penyiraman lantai dengan bensin.
TGPF tidak dapat menentukan angka pasti jumlah korban dan kerugian dalam kerusuhan yang terjadi selama beberapa hari itu.
Untuk Jakarta, TGPF menemukan variasi jumlah korban meninggal dunia dan luka-luka, data Tim Relawan ada 1.190 orang meninggal akibat terbakar, 27 akibat senjata/dan lainnya, 91 luka-luka. Data ini berbeda dengan Polda, Kodam maupun Pemda DKI.
Kekerasan
Selain penjarahan dan pembakaran, berdasarkan fakta yang ditemukan dan informasi dari saksi- saksi ahli, telah terjadi kekerasan seksual, termasuk perkosaan, dalam peristiwa kerusuhan 13-15 Mei 1998.
Dari sejumlah kasus yang dapat diverifikasi, disimpulkan telah terjadi perkosaan yang dilakukan terhadap sejumlah perempuan di pelbagai tempat yang berbeda, dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan.
Peristiwa itu disebut dapat terjadi secara spontan karena situasi mendukung atau direkayasa oleh kelompok tertentu untuk tujuan tertentu.
Korban kekerasan seksual adalah penduduk Indonesia dengan berbagai latar belakang, yang diantaranya kebanyakan adalah etnis Cina. Namun, hasil verifikasi dan uji silang terhadap data, tidak ditemukan angka yang pasti mereka yang jadi korban.
Rezim runtuh
Sementara di sisi lain, gelombang mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto turun dari tampuk pemerintahan semakin membesar dan kian lantang.
Tuntutan itu akhirnya menemui titik terang, pada 18 Mei 1998, demonstran berhasil menduduki gedung DPR/MPR.
Beberapa hari setelahnya, atau pada 21 Mei, 'Bapak Pembangunan' itu meletakkan jabatannya dan digantikan oleh BJ Habibie.
Berita itu disambut gagap gempita penjuru negeri, 32 Tahun pemerintahan orde baru pun berakhir.