RS Al-Ihsan Bandung: Banyak Pasien Covid dalam Kondisi Berat

CNN Indonesia | Sabtu, 12/06/2021 01:01 WIB
Banyak pasien Covid-19 yang datang ke RSUD Al-Ihsan Bandung dengan saturasi oksigen yang rendah sehingga mengakibatkan kematian. Petugas medis membawa pasien ke ruang isolasi saat simulasi penanganan pasien virus corona di RS Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, Jumat (6/3/2020). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Bandung, CNN Indonesia --

Direktur Utama RSUD Al-Ihsan Bandung, Dewi Basmala Gatot mengatakan banyak pasien terpapar virus corona yang datang ke layanan kesehatannya dalam keadaan gawat dengan saturasi oksigen yang rendah. Pasien telat mendapatkan penanganan hingga mengakibatkan kematian.

"Banyak yang datang dalam kondisi berat. Kadang ada yang meninggal dunia (saat mendapat penanganan) di IGD," kata Dewi di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (11/6).

Oleh karena itu, Dewi mengimbau kepada masyarakat untuk mengetahui gejala Covid-19 dan langsung melakukan skrining apabila mengalami gejala. Dengan begitu, pasien Covid-19 akan cepat mendapatkan penanganan dan perawatan.


"Sebetulnya kondisi seperti itu pasien sudah lama di rumah. Tidak terdeteksi di rumah atau didiamkan saja di rumah. Tahu-tahu masuk rumah sakit dalam kondisi yang berat," ujarnya.

Gejala Covid-19 paling umum adalah demam, batuk kering, dan rasa lelah. Gejala lainnya yakni hidung tersumbat, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan kehilangan penciuman. Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap.

Dewi menjelaskan RS Al Ihsan telah mengurangi ketersediaan tempat tidur bagi pasien tanpa gejala atau gejala ringan yang dapat melakukan isolasi mandiri di rumah atau di tempat isolasi yang disediakan pemerintah.

Saat ini, RS milik Pemprov Jabar itu hanya merawat pasien Covid-19 dengan tingkat keparahan sedang dan berat.

Untuk menghadapi lonjakan kasus Covid-19, Dinkes Jabar telah mengirimkan 30 perawat yang bertugas selama penambahan jumlah tempat tidur di RS Al Ihsan.

"Alhamdulillah kita mendapatkan bantuan dari Dinkes Jabar, mendapat tenaga 30 perawat relawan ini sangat bermakna sekali. Konsekuensinya harus ada penambahan tenaga, karena perawat (yang sudah bertugas) tidak mungkin dilemburkan kembali untuk menjaga kondisi kesehatan mereka," ujar Dewi.

Dalam kesempatan yang sama, Dirut RS Borromeus Chandra Mulyono menyatakan pihaknya siap untuk menambah tempat tidur sebagai tempat rawat inap isolasi untuk pasien Covid-19 dalam rangka mengantisipasi lonjakan kasus.

"Kami sudah menyiapkan tempat rawat inap isolasi, kemudian menyiapkan sumber daya manusia, alat kesehatan. Saat ini kami memiliki 120 bed bagi pasien Covid-19, ini masih ada ruang untuk ditambah sampai dengan 159 bed sebagai antisipasi lonjakan kasus Covid-19," ujar Chandra.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19, Jabar akan memperkuat pusat isolasi, rumah sakit darurat dan rumah sakit rujukan.

"Jabar memiliki tempat isolasi di BPSDM dan Secapa AD. Jumlah bed di BPSDM dan Secapa AD total ada 350 bed Dinkes Jabar terus melakukan komunikasi dengan pihak Kesdam (Kesehatan Kodam) untuk menambah bed di Secapa AD sebagai langkah antisipasi lonjakan kasus," kata Ketua Harian Satgas Covid-19 Jawa Barat Daud Ahmad.

Selain itu, Jabar juga telah mempersiapkan Lapangan Tembak Gunung Bohong sebagai tempat isolasi, juga akan mengerahkan rumah sakit baru di Soreang untuk menampung 100 bed untuk pasien Covid-19.

Terkait rumah sakit darurat, Jabar masih memiliki rumah sakit darurat di Bogor dan Bekasi yang sejauh ini belum beroperasi. Rumah sakit darurat ini dapat dikerahkan jika suatu saat terjadi kenaikan kasus yang signifikan.

(hyg/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK