Pedagang batu mulia Darto Jaswan mengkritisi strategi penumpukan stok batu akik yang membuatnya over supply pada 2014 yang dsebutnya ikut memicu kejatuhan harga. (Foto: CNN Indonesia/Syakirun Niam)
Di sisi lain, komunitas-komunitas di Rawa Bening menerbitkan majalah khusus tentang batu mulia. Mereka mengulas satu persatu batu mulia dari berbagai Indonesia, mulai dari bentuk, proses penggalian, pengolahan, dan seterusnya.
Tidak lama kemudian, pemerintah juga memutuskan batu akik sebagai souvenir Konferensi Asia Afrika. Menurut Darto, keputusan pemerintah itu secara tidak langsung mempromosikan potensi batu akik atau batu mulia dalam negeri.
"Otomatis kan gayung bersambut, kolaborasi bener-bener mendorong dan mengenalkan batuan Indonesia," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena batu akik pernah mengguncang tanah air pada 2014 silam. Masyarakat memburu batu akik dari berbagai jenis dan harga.
Minat pembeli yang luar biasa tinggi itu juga terjadi di Pasar Rawa Bening. Sebagai pemain lama, Darto sudah mengalami pasang surut minat terhadap batu akik.
Namun, permintaan pasar saat itu menurut Darto, tidak wajar.
"2014-2015 itu booming-nya kelewatan," kata Darto.
Namun, gelombang pasang minat pada batu akik itu tidak berlangsung lama. Tidak sampai setahun, permintaan masyarakat turun.
Sementara, beberapa pedagang di Pasar Rawa Bening telah menyetok batu mulia dan aksesorisnya dalam jumlah banyak. Akhirnya, banyak pedagang itu merugi. Bahkan gulung tikar.
Kebanyakan dari mereka, kata Darto, merupakan pedagang batu dadakan. Sebelumnya, mereka berjualan jam tangan, pakaian, dan lainnya.
"Terutama mereka-mereka yang datang pas momen lagi tinggi-tingginya. Beli kios tinggi, langsung masukin barang tiba-tiba blek, enggak jalan," tuturnya.
Selain itu, pemilik modal dari Pasar Tanah Abang, Kota, Pasar Senen, berdatangan ke Rawa Bening. Hal ini mengakibatkan harga kios melonjak dan barang-barang di pasaran over supply.
Akhirnya, kata Darto, berlakulah hukum pasar di mana jumlah barang di pasaran lebih banyak dari jumlah permintaan. Meskipun saat itu sedang booming, jumlah barang yang beredar di pasaran bukanlah kebutuhan yang sebenarnya.
Infografis Berkah Internet Bagi Pelaku Usaha. (Foto: Laudy Gracivia)
"Istilahnya kebutuhan sebenarnya kan enggak segitu. Jadi pada saat booming menurun, supply-nya melebihi. Enggak kira-kira lah, saya bilang enggak kira-kira," kenang Darto.
Meski demikian, tidak sedikit penjual batu akik bisa bertahan. Namun, mereka juga mesti menghadapi minat pasar yang kembali lesu karena ekonomi yang merosot pada 2014-2015.
Pasar batu akik belum sepenuhnya bangkit, kini para pedagangnya dihantam pandemi Covid-19. Sebagaimana pasar-pasar lain di Jakarta, Rawa Bening tutup. Lambat laun, kebanyakan dari pedagang memilih berjualan secara daring alias online.
"Baru mulai pas pandemi, sebelumnya enggak," kata Darto.
Tren batu akik yang sempat tinggi di era 2014-2015 tak lepas dari keberadaan sentra perdagangannya di Jakarta Gems Center (JGC) atau Pusat Penjualan Batu Mulia Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, dan inisiasi dari Presiden keenam RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Jejaknya dimulai sejak kurun 1980-an. Awalnya, lokasi pasar Rawa Bening merupakan pasar tradisional seperti pada umumnya yang dikelola oleh PD Pasar Jaya.
Darto Jaswan (59), salah satu pedagang batu di Rawa Bening yang telah menekuni profesinya sejak 1980-an mengatakan, mulanya pada 1980 awal para pedagang batu mulia menjajakan barang-barangnya di tepi jalan Jenderal Urip Sumoharjo dekat Polres Metro Jakarta Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pedagang batu itu di pinggir jalan situ. Jalan Jenderal Urip. Dulu belum ada trotoar," kata Darto saat ditemui CNNIndonesia.com di tokonya, di Pasar Rawa Bening, Selasa (15/6).
Seiring waktu, mereka mulai berdagang di area parkir PD Pasar Jaya Rawa Bening. Saat itu, jumlahnya sudah seratus lebih. Sebelumnya, peminat batu mulia memang sudah tinggi. Hanya saja pedagang pasar belum terkonsentrasi.
Sementara, di dalam area pasar terdapat ruang kosong. Pihak PD. Pasar Jaya kemudian memindahkan mereka ke dalam pada tahun 1984.
"Dulu kan masih di luar, saya udah berani ngontrak toko kain. Kita kontrak sekalian, buat batu di dalam. Itu sekitar 84," kenang Darto.
Area kosong di tengah pasar itu lantas dibuatkan meja untuk memajang batu-batu akik dan mulia. Sejak saat itu, pedang batu mulia menempati Pasar Jaya.
Jumlah pedagang terus bertambah. Seiring waktu, kata Darto, pedagang sayur dan lainnya kalah.
Suatu hari, pemerintah melihat potensi aktivitas jual beli batu mulia. Itu, kata dia, tidak terlepas dari pengalaman SBY membeli batu mulia di luar negeri. Ketika tiba di tanah air, sang Presiden baru mengetahui bahwa batu itu berasal dari daerahnya sendiri.
"Akhirnya dia punya keinginan bangun satu gedung pemasaran untuk batu, seperti di Bangkok ada khusus batu," ujar Darto.
SBY lantas mengumpulkan asosiasi pedagang dan pengrajin batu dari seluruh Indonesia di Ciputat. SBY menyatakan akan membangun sentra batu itu di kawasan tersebut.
Namun, komunitas pedagang batu mulia Rawa Bening tidak sepakat. Mereka lantas mengusulkan agar Pasar Rawa Bening lah yang dijadikan sentra batu mulia.
"Buat apa? Dari pada dibuatin di tempat lain yang belum tentu karena kita juga belajar dari Tanah Abang, di Waduk Melati tuh kan dibangun pasar tapi enggak ada yang ngisi," ungkap Darto.
Usulan ini lantas diterima. Pemerintah pusat mendukung pembangunan sentra batu mulia di Rawa Bening. Di saat yang bersamaan, Gubernur Jakarta saat itu Fauzi Bowo, juga penggemar batu mulia. Akhirnya pasar batu mulia resmi didirikan pada 2010.
Dukungan pemerintah tidak berhenti sampai di situ. Maka diadakan pameran Mutu Manikam yang bertujuan menjaring berbagai potensi batu mulia yang ada di tanah air namun belum dilirik orang.
"Akhirnya berkembang, orang pada tahu," ujarnya.
Baca halaman selanjutnya...
Dihantam Isu Kelebihan Pasokan dan Pandemi
Pedagang batu mulia Darto Jaswan mengkritisi strategi penumpukan stok batu akik yang membuatnya over supply pada 2014 yang dsebutnya ikut memicu kejatuhan harga. (Foto: CNN Indonesia/Syakirun Niam)
Di sisi lain, komunitas-komunitas di Rawa Bening menerbitkan majalah khusus tentang batu mulia. Mereka mengulas satu persatu batu mulia dari berbagai Indonesia, mulai dari bentuk, proses penggalian, pengolahan, dan seterusnya.
Tidak lama kemudian, pemerintah juga memutuskan batu akik sebagai souvenir Konferensi Asia Afrika. Menurut Darto, keputusan pemerintah itu secara tidak langsung mempromosikan potensi batu akik atau batu mulia dalam negeri.
"Otomatis kan gayung bersambut, kolaborasi bener-bener mendorong dan mengenalkan batuan Indonesia," ujarnya.
Fenomena batu akik pernah mengguncang tanah air pada 2014 silam. Masyarakat memburu batu akik dari berbagai jenis dan harga.
Minat pembeli yang luar biasa tinggi itu juga terjadi di Pasar Rawa Bening. Sebagai pemain lama, Darto sudah mengalami pasang surut minat terhadap batu akik.
Namun, permintaan pasar saat itu menurut Darto, tidak wajar.
"2014-2015 itu booming-nya kelewatan," kata Darto.
Namun, gelombang pasang minat pada batu akik itu tidak berlangsung lama. Tidak sampai setahun, permintaan masyarakat turun.
Sementara, beberapa pedagang di Pasar Rawa Bening telah menyetok batu mulia dan aksesorisnya dalam jumlah banyak. Akhirnya, banyak pedagang itu merugi. Bahkan gulung tikar.
Kebanyakan dari mereka, kata Darto, merupakan pedagang batu dadakan. Sebelumnya, mereka berjualan jam tangan, pakaian, dan lainnya.
"Terutama mereka-mereka yang datang pas momen lagi tinggi-tingginya. Beli kios tinggi, langsung masukin barang tiba-tiba blek, enggak jalan," tuturnya.
Selain itu, pemilik modal dari Pasar Tanah Abang, Kota, Pasar Senen, berdatangan ke Rawa Bening. Hal ini mengakibatkan harga kios melonjak dan barang-barang di pasaran over supply.
Akhirnya, kata Darto, berlakulah hukum pasar di mana jumlah barang di pasaran lebih banyak dari jumlah permintaan. Meskipun saat itu sedang booming, jumlah barang yang beredar di pasaran bukanlah kebutuhan yang sebenarnya.
Infografis Berkah Internet Bagi Pelaku Usaha. (Foto: Laudy Gracivia)
"Istilahnya kebutuhan sebenarnya kan enggak segitu. Jadi pada saat booming menurun, supply-nya melebihi. Enggak kira-kira lah, saya bilang enggak kira-kira," kenang Darto.
Meski demikian, tidak sedikit penjual batu akik bisa bertahan. Namun, mereka juga mesti menghadapi minat pasar yang kembali lesu karena ekonomi yang merosot pada 2014-2015.
Pasar batu akik belum sepenuhnya bangkit, kini para pedagangnya dihantam pandemi Covid-19. Sebagaimana pasar-pasar lain di Jakarta, Rawa Bening tutup. Lambat laun, kebanyakan dari pedagang memilih berjualan secara daring alias online.
"Baru mulai pas pandemi, sebelumnya enggak," kata Darto.