RS di Padang Kekurangan Oksigen, Hanya Cukup Sampai Malam

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 16:03 WIB
Sejumlah RS di Padang, kekurangan oksigen medis untuk perawatan pasien Covid-19. RS Hermina Padang bahkan harus mengeluarkan duit lebih untuk membeli oksigen. Sejumlah RS di Padang, Sumatera Barat, mulai kekurangan stok oksigen medis untuk perawatan pasien Covid-19. Ilustrasi (AP/Trisnadi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah rumah sakit (RS) di Padang, Sumatera Barat (Sumbar) mulai kekurangan oksigen medis untuk kebutuhan perawatan pasien terpapar virus corona (Covid-19). Stok oksigen RS Universitas Andalas hanya cukup sampai sore ini.

"Kebutuhan kami hanya sampai pukul tiga sore ini," kata Direktur Utama RS Universitas Andalas, Yevri Zulfikar kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/7).

Rumah Sakit Unand merupakan salah satu rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Sumatera Barat. Saat ini terdapat 84 orang pasien yang sedang menjalani perawatan.


"Kami butuh oksigen enam kubik itu sebanyak 250 tabung per hari sekarang. Sebelum pandemi, kebutuhan kami itu antara 70 sampai 80 tabung. Sekarang butuh 250 tabung sehari," ujar Yevri.

"Kalau biasanya pasien yang datang ke kami itu dengan gejala ringan hingga sedang, sekarang pasiennya kebanyakan yang berat dan kritis. Terbayang kan berapa banyak kebutuhan pasien-pasien seperti ini," katanya menambahkan.

Yevri mengaku pihaknya masih berusaha untuk mencari sumber pasokan oksigen medis. Namun, persediaan di beberapa vendor oksigen medis menyatakan kehabisan stok.

"Info yang kita dapat, vendor ini baru akan datang jelang Magrib nanti, Nah, sekarang kita cari oksigen-oksigen yang bisa dialihkan dari rumah sakit lain dulu," ujarnya.

Harga Oksigen Naik

Selain Rumah Sakit Unand, kekurangan oksigen juga dialami oleh RS Hermina Padang. Direktur RS Hermina Padang, Nanik Supriani menyebut pihaknya butuh 100 tabung oksigen medis.

"Kami butuhnya 100 tabung. Tadi pagi seperti itu (kekurangan sekali), lalu kami cari rekanan. Alhamdulllah dapat sesuai kebutuhan untuk hari ini," kata Nanik.

Menurut Nanik, mereka dapat pasokan 40 tabung yang diperkirakan bisa bertahan hingga pukul 20.00 WIB nanti.

"Sudah dua hari ini rekanan tidak bisa masuk. Syukur kami bisa dapat pasokan. Setidaknya bisa aman sampai jam delapan malam nanti," ujarnya.

Meski dapat pasokan, namun pihaknya harus merogoh kocek lebih dalam. Nanik mengaku harus membayar sekitar 95 ribu per tabung liquid oksigen.

"Kalau biasanya harganya Rp55 ribu (per tabung liquid oksigen) dari rekanan, tapi sekarang bisa sampai Rp95 ribu. Tidak masalah, yang penting bisa aman dulu," katanya.

Kepala Bidang Humas Polda Sumbar, Kombes Satake Bayu mengatakan pihaknya akan mengecek ke lapangan untuk mengetahui kemungkinan penyebab kelangkaan oksigen, baik ke produsen maupun distributor.

"Polda akan mengecek ke lapangan, ke lokasi-lokasi tempat pengadaan tersebut. Apakah ada, baik penimbunan atau tidak, nanti kita lihat hasilnya dari tim yang diterjunkan oleh Polda ke tempat-tempat tersebut" kata Satake.

Sejumlah daerah mengalami kelangkaan oksigen medis. Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji mengatakan akan mengupayakan pasokan oksigen dari Batam dan Serawak, Malaysia untuk mengatasi keterbatasan dan ketersediaan oksigen medis.

"Oksigen memang terbatas, dari lima pemasok hanya dua yang bisa didatangkan dari Jakarta, kami sudah upayakan dari Batam dan sedang lobi dengan Serawak," kata Sutarmidji.

Sementara itu, RSUD Dok II Jayapura berencana memproduksi oksigen medis secara mandiri mulai awal Agustus 2021 menyusul kebutuhan yang meningkat selama lonjakan kasus positif Covid-19 di Papua.

Terbaru, tiga pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Holistic, Purwakarta, Jawa Barat, meninggal dunia akibat kekurangan suplai oksigen pada Senin (19/7).

(nya/fra)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK