Satgas: Booster Sinovac jika Antibodi Tak Cukup Lagi Lindungi

CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 01:30 WIB
Satgas Covid-19 menanggapi temuan studi di China yang mengungkapkan efek antibodi vaksin Sinovac memudar setelah enam bulan suntikan kedua. Sejumlah tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin Covid-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menanggapi temuan penelitian di China yang mengungkapkan efek antibodi vaksin Sinovac memudar setelah enam bulan suntikan kedua.

Menurutnya, jika ditemukan kondisi antibodi tidak lagi cukup memberikan perlindungan individual, maka diperlukan vaksinasi tahap selanjutnya.

"Bila ditemui kondisi antibodinya tidak mencukupi lagi untuk memberikan efek perlindungan individual maka perlu dilakukan vaksinasi lagi atau yang disebut booster," ujar Wiku saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (27/7) petang.


Namun, kata Wiku, setiap vaksin memiliki kemampuan menimbulkan antibodi yang berbeda-beda pada setiap orang maupun populasi. Kondisi antibodi bisa diketahui apabila individu tersebut menjalani pemeriksaan.

"Itu bisa diketahui apabila individu atau populasi yang divaksin diperiksa titer antibodinya secara berkala," kata Wiku.

Lebih lanjut, Wiku juga menyebut bahwa survei antibodi yang dilakukan terhadap suatu populasi harus menggunakan jumlah sampel yang representatif. Setelah itu, data dianalisis dan ditarik kesimpulan.

Lebih lanjut, Wiku mengatakan pemerintah saat ini belum melakukan survei secara komprehensif guna memeriksa perlindungan antibodi di masyarakat.

Dia mengatakan pemerintah sedang menggenjot dan memperluas cakupan vaksinasi.

"(Pemerintah) belum melakukan survei secara komprehensif untuk melihat proteksi antibodi di masyarakat," tutur Wiku.

Dihubungi secara terpisah, Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tirmizi mengatakan penurunan tingkat efikasi vaksin Sinovac memang ada.

Meski demikian, kata Nadia, berdasarkan hasil penelitian di Universitas Padjadjaran (Unpad), vaksin Sinovac masih efektif melawan Covid-19.

"Hasil penelitian di Unpad ini masih efektif untuk melawan virus Covid-19," kata Nadia saat dihubungi melalui aplikasi pesan pendek.

Sementara, sejauh ini belum terdapat wacana vaksinasi dosis ketiga bagi masyarakat umum. Sebab, Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum menerbitkan rekomendasi vaksinasi tahap ketiga.

"Untuk masyarakat belum ya, karena WHO juga tidak ada rekomendasinya," kata Nadia.

Sebelumnya, peneliti di China mengungkap efek vaksin Sinovac memudar setelah enam bulan penyuntikan dosis kedua.

Dari dua kelompok sampel yang diteliti, hanya terdapat 16,9 persen dan 35,2 persen yang masih terdeteksi memiliki antibodi setelah enam bulan vaksinasi dosis kedua.

Studi terbaru mengklaim suntikan ketiga memiliki efek penguat antibodi yang signifikan untuk Sinovac. Studi itu belum ditinjau atau peer reviewed.

Pada Jumat (16/7), Kemenkes telah memulai penyuntikan dosis vaksin ketiga kepada tenaga kesehatan. Vaksin yang digunakan sebagai booster nakes adalah vaksin asal perusahaan farmasi Amerika Serikat, Moderna.

Pilot project vaksin dosis ketiga nakes itu dilakukan kepada 50 Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan sejumlah dokter di RSCM.

Berikut 7 vaksin Covid-19 yang akan diedarkan di dalam negeri berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan.(CNN Indonesia/Timothy Loen)
(iam/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK