IDI Ungkap Rumah Sakit di Sumatra Penuh Pasien Covid-19

CNN Indonesia | Kamis, 29/07/2021 02:45 WIB
Anggota IDI di Sumatra mengungkapkan lonjakan kasus Covid-19 di wilayah mereka membuat rumah sakit penuh. Ilustrasi pasien Covid-19. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dari beberapa provinsi di Sumatra mengungkapkan lonjakan kasus infeksi virus corona (Covid-19) terjadi di wilayah mereka membuat rumah sakit penuh.

Kondisi itu mengakibatkan bed occupancy rate (BOR) atau tingkat keterisian rumah sakit semakin meningkat.

Salah satu anggota IDI Sumatra Selatan, dr. Trisnawarman, menyebut kasus positif Covid-19 di wilayahnya bertambah sebanyak 1.020 kasus pada Selasa lalu.


"Kemarin kita di Sumatra Selatan ini satu hari kemarin aja 1.020 kemarin kasusnya. Memang fluktuatif, ya," kata Trisnawarman dalam jumpa pers yang digelar Tim Mitigasi PB IDI secara virtual, Rabu (28/7).

Trisnawarman menyebut BOR di hampir seluruh rumah sakit di Sumatra Selatan hampir 80 persen. Ranjang rumah sakit di wilayah itu dan semua ruang Unit Perawatan Intensif (ICU) penuh.

"Ini di daerah Palembang itu sudah 88 persen, kita sangat khawatir ini masalah tempat tidur ini, banyak sekali kita melihat masyarakat yang tertolak masuk," kata Trisnawarman.

Hal serupa juga disampaikan Kepala Satgas Covid-19 IDI Wilayah Jambi, dr. Nirwan Satria.

Menurut Nirwan, saat ini dari 81 ranjang di RS Raden Mattaher yang menjadi rujukan pasien Covid-19 hanya tersisa 8 ranjang. Sedangkan 20 ranjang di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) penuh dan jumlah antrean pasien mencapai sepuluh orang.

"Begitu juga ICU tekanan negatif 90 persen cuma satu yang kosong, ICU tanpa ventilator kosong juga satu. Artinya, melihat kondisi ini RS Raden Mattaher keterisiannya hampir penuh," kata Nirwan.

Hal serupa juga disampaikan perwakilan IDI Provinsi Kepulauan Riau, dr. Rusdani. Dia mengatakan kelimpungan karena unit perawatan intensif penuh.

Selain itu, banyak rumah sakit di daerah terpencil justru tidak memiliki ruang ICU dan jumlah sumber daya manusia terbatas.

"Malah di beberapa kabupaten anestesi enggak ada, itu sangat bermasalah buat kami," kata Rusdani.

(iam/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK