Penyandang Disabilitas Melawan Stigma demi Hidup Setara
Farid Rahman | CNN Indonesia
Senin, 20 Sep 2021 20:07 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Penyandang disabilitas merasa menemukan tempat di Kedaibilitas, diperlakukan sebagai manusia berdaya dan setara. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Surabaya, CNN Indonesia --
Peluh di dahi Nanda (25) terlihat mengilap. Uap dari panas oven membuat wajahnya basah oleh keringat. Namun mulut Nanda tak berhenti tersenyum karena kue pie susu besutannya matang dengan sempurna.
Nanda adalah satu dari puluhan penyandang disabilitas intelektual yang tergabung dalam unit usaha bernama Kedaibilitas. Sebuah kedai yang beranggotakan para penyandang disabilitas di Surabaya, Jawa Timur. "Ini pienya sudah matang," ujar Nanda, sembari menenteng nampan yang masih panas.
Sebelum bergabung di Kedaibilitas, lulusan salah satu SMA Inklusi di Kota Pahlawan ini mengaku sempat mengenyam kuliah di sebuah kampus swasta di Surabaya. Namun itu tak berlangsung lama. Nanda tak betah karena kerap di-bully oleh teman-teman kuliahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu pernah kuliah, cuma dua minggu sudah keluar, ya [karena] di-bully," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Kamis (9/11).
Setelah memutuskan tak melanjutkan kuliah, Nanda sempat bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Pekerjaan itu, didapatkan berkat pertolongan dari teman ibunya.
Penyandang Disabilitas Intelektual, Nanda, 25 tahun. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Namun di tengah jalan, perusahaan itu tiba-tiba memberhentikannya tanpa alasan yang jelas. "Saya sempat kerja di kantor punya teman mama, tapi cuma sebentar," ujarnya mengenang.
Orang tua Nanda kemudian mendaftarkannya ke sebuah lembaga pendidikan warga negara berkebutuhan khusus. Di samping itu, ia juga bergabung ke unit usaha Kedaibilitas. Alasannya, Nanda ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri. Ia tak mau terus bergantung pada orang tuanya. Beruntung, kata dia, ayah ibunya mendukung niatnya itu.
"Saya juga pengin kerja [berpenghasilan] seperti orang-orang lain. Mama papa mendukung saya," katanya.
Di Kedaibilitas, ia belajar merintis dan mengembangkan usaha bersama para penyandang disabilitas lainnya. Mereka berkreasi mengolah penganan dan kerajinan. Tak hanya itu, bersama para mentornya ia juga berlatih mengelola arsip, surat menyurat dan pencatatan keuangan. Ia yakin suatu saat ia bisa diterima kerja di sebuah perusahaan. "Nanti kalau sudah diterima kerja, saya juga mau melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri."
Nanda tak sendiri. Di ruangan berbeda, Zulmy Erian (28) juga tampak sibuk mengolah adonan. Pria ini tampak berhati-hati saat menakar bahan untuk adonan kue. Tangannya silih berganti dari menimbang telur, mengaduk gula, susu dan sejumlah bahan lainnya. "Ini sedang bikin adonan pie susu," ujarnya.
Erian merupakan penyandang disabilitas ganda. Disabilitas intelektual sekaligus disabilitas daksa. Dia juga kesulitan berbicara. Tapi, hal itu tak menghalangi Erian untuk berkreasi. Ia bercerita, bahwa dirinya diajak oleh pengelola Kedaibilitas untuk bergabung sekitar dua tahun lalu. "Saya dulu nakal. Minum-minum, merokok," ujar Erian mengenang.
Penyandang disabilitas ganda, Zulmy Erian, bergabung dengan Kedaibilitas di Surabaya. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Ia melakukan itu sebagai pelarian karena kerap mendapat perlakuan kasar dari keluarganya. Ia bahkan sempat diusir oleh ibunya keluar rumah karena dianggap tak berguna.
Di jalanan, Erian bertemu banyak orang tak bertanggung jawab. Mereka mengajak Erian untuk mengemis dan meminta-minta. Orang-orang itu memanfaatkan kondisi fisik Erian untuk mengeruk keuntungan. Uang hasil mengemis Erian, kemudian digunakan oleh orang-orang itu untuk bersenang-senang, mengonsumsi minuman beralkohol, membeli rokok, dan hal-hal negatif lainnya.
Beruntung Erian bertemu pengelola Kedaibilitas. Erian kemudian diajak untuk belajar dan mengikuti bimbingan. Tapi karena pengaruh buruk yang ia dapatkan sebelumnya, Erian jadi tak betah, ia sempat kabur-kaburan. "Saya lari, ke warung kopi, merokok, enggak mau belajar," ujarnya.
Tapi lambat lahun, Erian kemudian menyadari bahwa di Kedaibilitas lah ia seharusnya berada. Orang-orang di tempat itu, kata dia, bisa memperlakukannya sebagai manusia berdaya dan setara.
Kini dari hasil usahanya di Kedaibilitas, Erian mulai merasakan manfaatnya. Sedikit demi sedikit Erian mengumpulkan pundi-pundi dari hasilnya berusaha. "Nabung sedikit-sedikit, buat nikah," cetus Erian, sambil tersenyum.
Infografis Salah Kaprah Istilah Disabilitas. (CNN Indonesia/Basith Subastian)
Kedaibilitas merupakan unit usaha yang didirikan oleh Andi Fuad Rachmadi, seorang pengajar sekolah inklusi di Surabaya. Di tempat ini, para penyandang disabilitas, utamanya disabilitas intelektual, dibimbing untuk mengembangkan usaha bersama-sama.
Tempat yang didirikan Andi tiga tahun lalu ini, dikelola olehnya serta sejumlah orang yang peduli terhadap para penyandang disabilitas. Ada banyak produk yang dihasilkan di tempat ini, seperti pie susu, donat, berbagai macam minuman dan kerajinan tangan.
"Kedaibilitas bukan untuk cari profit, tapi tempat ini adalah laboraturiam usaha bagi para penyandang disabilitas, supaya mereka bisa jadi mandiri," ujar Andi.
Menurut Psikolog Klinis SDM RS Husada Undaan Wetan, Reisqita Vadika, pengetahuan masyarakat tentang kondisi disabilitas intelektual masih terbilang kurang. Dampaknya, penyandang disabilitas kerap mendapatkan stigma negatif dan dikucilkan. Padahal, kondisi disabilitas intelektual bukanlah aib.
Reisqita menjelaskan, disabilitas intelektual dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, berdasarkan tingkat kemampuan dan inteligensi atau Intelligence Quotients (IQ).
"Intellectual disability ditinjau dari adaptive functioning-nya dalam kehidupan sehari-hari. Kategorinya ada mild, moderate, severe, profound," kata Risqita.
"Dalam kemampuan bekerja, biasanya disabilitas intelektual kategori mild-moderate masih bisa. Untuk severe-profound biasanya skill acquisition terbatas dan akan butuh supervisi secara kontinu," ujarnya menambahkan.
Kedaibilitas, ruang para disabilitas untuk belajar dan berkarya. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Menghapus stigma dan diskriminasi kepada penyandang disabilitas memerlukan waktu dan kerja sama banyak pihak. Wawasan masyarakat tentang jenis disabilitas ini harus ditingkatkan agar para penyandangnya bisa memperoleh hak-hak hidup secara normal.
Ia mencontohkan, hal itu sama seperti saat mengedukasi masyarakat untuk menghapus stigma kepada penderita kesehatan mental. Butuh banyak pihak, dan berbagai platform hingga kini publik sadar dan peduli akan kesehatan mental.
"Contohnya terkait stigma 'ke psikolog/psikiater = gila' pada sebagian lapisan masyarakat sudah mulai luntur setelah cukup lama mental health awareness dipromosikan," kata Risqita.
Dalam konteks disabilitas, selain edukasi masif, kebijakan-kebijakan pemerintah dan implementasiannya juga sangat diperlukan. Misalnya, dengan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi disabilitas.
"Misalnya dari pemerintah, mungkin bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan untuk anak dengan intellectual disability pada institusinya terlebih dahulu."
Dengan cara itu, kata dia, pemerintah bisa mengedukasi publik, sekaligus memberi bukti bahwa penyandang disabilitas intelektual juga bisa kerja dengan pelatihan yang tepat.
Surabaya, CNN Indonesia --
Peluh di dahi Nanda (25) terlihat mengilap. Uap dari panas oven membuat wajahnya basah oleh keringat. Namun mulut Nanda tak berhenti tersenyum karena kue pie susu besutannya matang dengan sempurna.
Nanda adalah satu dari puluhan penyandang disabilitas intelektual yang tergabung dalam unit usaha bernama Kedaibilitas. Sebuah kedai yang beranggotakan para penyandang disabilitas di Surabaya, Jawa Timur. "Ini pienya sudah matang," ujar Nanda, sembari menenteng nampan yang masih panas.
Sebelum bergabung di Kedaibilitas, lulusan salah satu SMA Inklusi di Kota Pahlawan ini mengaku sempat mengenyam kuliah di sebuah kampus swasta di Surabaya. Namun itu tak berlangsung lama. Nanda tak betah karena kerap di-bully oleh teman-teman kuliahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu pernah kuliah, cuma dua minggu sudah keluar, ya [karena] di-bully," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Kamis (9/11).
Setelah memutuskan tak melanjutkan kuliah, Nanda sempat bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Pekerjaan itu, didapatkan berkat pertolongan dari teman ibunya.
Penyandang Disabilitas Intelektual, Nanda, 25 tahun. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Namun di tengah jalan, perusahaan itu tiba-tiba memberhentikannya tanpa alasan yang jelas. "Saya sempat kerja di kantor punya teman mama, tapi cuma sebentar," ujarnya mengenang.
Orang tua Nanda kemudian mendaftarkannya ke sebuah lembaga pendidikan warga negara berkebutuhan khusus. Di samping itu, ia juga bergabung ke unit usaha Kedaibilitas. Alasannya, Nanda ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri. Ia tak mau terus bergantung pada orang tuanya. Beruntung, kata dia, ayah ibunya mendukung niatnya itu.
"Saya juga pengin kerja [berpenghasilan] seperti orang-orang lain. Mama papa mendukung saya," katanya.
Di Kedaibilitas, ia belajar merintis dan mengembangkan usaha bersama para penyandang disabilitas lainnya. Mereka berkreasi mengolah penganan dan kerajinan. Tak hanya itu, bersama para mentornya ia juga berlatih mengelola arsip, surat menyurat dan pencatatan keuangan. Ia yakin suatu saat ia bisa diterima kerja di sebuah perusahaan. "Nanti kalau sudah diterima kerja, saya juga mau melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri."
Nanda tak sendiri. Di ruangan berbeda, Zulmy Erian (28) juga tampak sibuk mengolah adonan. Pria ini tampak berhati-hati saat menakar bahan untuk adonan kue. Tangannya silih berganti dari menimbang telur, mengaduk gula, susu dan sejumlah bahan lainnya. "Ini sedang bikin adonan pie susu," ujarnya.
Erian merupakan penyandang disabilitas ganda. Disabilitas intelektual sekaligus disabilitas daksa. Dia juga kesulitan berbicara. Tapi, hal itu tak menghalangi Erian untuk berkreasi. Ia bercerita, bahwa dirinya diajak oleh pengelola Kedaibilitas untuk bergabung sekitar dua tahun lalu. "Saya dulu nakal. Minum-minum, merokok," ujar Erian mengenang.
Penyandang disabilitas ganda, Zulmy Erian, bergabung dengan Kedaibilitas di Surabaya. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Ia melakukan itu sebagai pelarian karena kerap mendapat perlakuan kasar dari keluarganya. Ia bahkan sempat diusir oleh ibunya keluar rumah karena dianggap tak berguna.
Di jalanan, Erian bertemu banyak orang tak bertanggung jawab. Mereka mengajak Erian untuk mengemis dan meminta-minta. Orang-orang itu memanfaatkan kondisi fisik Erian untuk mengeruk keuntungan. Uang hasil mengemis Erian, kemudian digunakan oleh orang-orang itu untuk bersenang-senang, mengonsumsi minuman beralkohol, membeli rokok, dan hal-hal negatif lainnya.
Beruntung Erian bertemu pengelola Kedaibilitas. Erian kemudian diajak untuk belajar dan mengikuti bimbingan. Tapi karena pengaruh buruk yang ia dapatkan sebelumnya, Erian jadi tak betah, ia sempat kabur-kaburan. "Saya lari, ke warung kopi, merokok, enggak mau belajar," ujarnya.
Tapi lambat lahun, Erian kemudian menyadari bahwa di Kedaibilitas lah ia seharusnya berada. Orang-orang di tempat itu, kata dia, bisa memperlakukannya sebagai manusia berdaya dan setara.
Kini dari hasil usahanya di Kedaibilitas, Erian mulai merasakan manfaatnya. Sedikit demi sedikit Erian mengumpulkan pundi-pundi dari hasilnya berusaha. "Nabung sedikit-sedikit, buat nikah," cetus Erian, sambil tersenyum.
Infografis Salah Kaprah Istilah Disabilitas. (CNN Indonesia/Basith Subastian)
Para Penyandang Disabilitas Melawan Stigma
Unit usaha penyandang disabilitas Kedaibilitas di Surabaya. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Kedaibilitas merupakan unit usaha yang didirikan oleh Andi Fuad Rachmadi, seorang pengajar sekolah inklusi di Surabaya. Di tempat ini, para penyandang disabilitas, utamanya disabilitas intelektual, dibimbing untuk mengembangkan usaha bersama-sama.
Tempat yang didirikan Andi tiga tahun lalu ini, dikelola olehnya serta sejumlah orang yang peduli terhadap para penyandang disabilitas. Ada banyak produk yang dihasilkan di tempat ini, seperti pie susu, donat, berbagai macam minuman dan kerajinan tangan.
"Kedaibilitas bukan untuk cari profit, tapi tempat ini adalah laboraturiam usaha bagi para penyandang disabilitas, supaya mereka bisa jadi mandiri," ujar Andi.
Menurut Psikolog Klinis SDM RS Husada Undaan Wetan, Reisqita Vadika, pengetahuan masyarakat tentang kondisi disabilitas intelektual masih terbilang kurang. Dampaknya, penyandang disabilitas kerap mendapatkan stigma negatif dan dikucilkan. Padahal, kondisi disabilitas intelektual bukanlah aib.
Reisqita menjelaskan, disabilitas intelektual dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, berdasarkan tingkat kemampuan dan inteligensi atau Intelligence Quotients (IQ).
"Intellectual disability ditinjau dari adaptive functioning-nya dalam kehidupan sehari-hari. Kategorinya ada mild, moderate, severe, profound," kata Risqita.
"Dalam kemampuan bekerja, biasanya disabilitas intelektual kategori mild-moderate masih bisa. Untuk severe-profound biasanya skill acquisition terbatas dan akan butuh supervisi secara kontinu," ujarnya menambahkan.
Kedaibilitas, ruang para disabilitas untuk belajar dan berkarya. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Menghapus stigma dan diskriminasi kepada penyandang disabilitas memerlukan waktu dan kerja sama banyak pihak. Wawasan masyarakat tentang jenis disabilitas ini harus ditingkatkan agar para penyandangnya bisa memperoleh hak-hak hidup secara normal.
Ia mencontohkan, hal itu sama seperti saat mengedukasi masyarakat untuk menghapus stigma kepada penderita kesehatan mental. Butuh banyak pihak, dan berbagai platform hingga kini publik sadar dan peduli akan kesehatan mental.
"Contohnya terkait stigma 'ke psikolog/psikiater = gila' pada sebagian lapisan masyarakat sudah mulai luntur setelah cukup lama mental health awareness dipromosikan," kata Risqita.
Dalam konteks disabilitas, selain edukasi masif, kebijakan-kebijakan pemerintah dan implementasiannya juga sangat diperlukan. Misalnya, dengan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi disabilitas.
"Misalnya dari pemerintah, mungkin bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan untuk anak dengan intellectual disability pada institusinya terlebih dahulu."
Dengan cara itu, kata dia, pemerintah bisa mengedukasi publik, sekaligus memberi bukti bahwa penyandang disabilitas intelektual juga bisa kerja dengan pelatihan yang tepat.