Epidemiolog Prediksi Varian Baru Covid Picu Gelombang 3

CNN Indonesia
Rabu, 13 Oct 2021 10:03 WIB
Satgas Covid memprediksi gelombang Covid akan muncul pada akhir tahun 2021. Epidemiolog menduga gelombang Covid itu dipicu varian baru. Tumpukan pasien Covid di sebuah RS di Jakarta pada Juni 2021. (REUTERS/WILLY KURNIAWAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman memprediksi ancaman gelombang tiga virus corona (covid-19) yang kemungkinan besar bisa terjadi di Desember 2021, salah satunya dipicu oleh ancaman dari sejumlah varian baru mutasi virus SARS-CoV-2.

Dicky pun menilai, potensi lonjakan kasus covid-19 tak hanya terkait aktivitas Natal dan Tahun baru (Nataru). Relaksasi dari pemerintah yang juga mulai membuka akses masuk wisatawan mancanegara berpotensi besar membawa penularan baru varian covid-19.

"Kalau saya prediksinya akhir Desember atau awal Januari itu ada potensi gelombang tiga. Penyebabnya ya selain mobilitas warga yang mulai meningkat sebelum Nataru, kemudian ditambah varian Delta yang belum selesai lho ini, dan juga varian baru lain," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (13/10).


Dicky menyebut, sejumlah negara saat ini tengah mengawasi pergerakan dan sebaran varian Mu dan C.1.2 lantaran dinilai sejumlah negara memiliki tingkat penularan dan keparahan gejala klinis yang cukup tinggi.

Pun varian Delta yang saat ini sudah menjadi penularan lokal menurutnya harus menjadi perhatian khusus pemerintah. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan mencatat sudah ada ribuan variant of concern (VoC) di Indonesia. Rinciannya 3.114 kasus varian Delta, 65 kasus varian Alfa, dan 22 kasus varian Beta.

"Dari awal saya katakan ada dua varian baru yang kita harus waspadai yaitu Mu dan C.1.2. Varian Mu diduga mendekati setidaknya sama dengan Delta dalam kecepatan menginfeksi. Data 2-3 hari terakhir varian Mu juga bisa mendominasi Delta di Ekuador, berarti ini kan serius," jelasnya.

Selain itu, Dicky juga menilai capaian vaksinasi di Indonesia masih rendah. Per 12 Oktober pukul 18.00 WIB baru 58.720.535 orang dari sasaran 208.265.720 orang yang baru menerima vaksinasi lengkap. Artinya, baru 28,20 persen warga yang sudah mendapatkan proteksi lengkap dari pemberian vaksin.

Adapun dengan berjalannya waktu, Dicky menyebut daya imunitas yang dimiliki warga baik melalui antibodi alamiah melalui infeksi maupun melalui vaksinasi akan semakin menurun. Dengan kondisi itu, maka penularan covid-19 akan kembali mudah terjadi secara masif di tengah relaksasi pada mobilitas warga yang terjadi seperti saat ini.

"Ancaman gelombang ketiga ini sulit dihindari memang, meski kita tentu tidak berharap itu akan terjadi ya," ujar Dicky.

Gelombang Tiga Bisa Terjadi Kapan Saja

Dihubungi terpisah, Epidemiolog dari Universitas Airlangga Windhu Purnomo menilai ancaman gelombang tiga covid-19 di Indonesia bisa terjadi kapan saja bahkan sebelum Desember 2021. Ia menilai, relaksasi yang dilakukan pemerintah seperti pada perhelatan acara Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua juga dapat memicu lonjakan covid-19 mudah terjadi.

Windhu lantas menyinggung rencana pemerintah yang bakal menggelar event internasional World Superbike (WSBK) 2021 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat pada pertengahan November mendatang. Pagelaran acara yang juga mengundang peserta dari negara lain itu bisa juga memicu penularan varian baru covid-19 di Tanah Air.

"Lonjakan itu tidak hanya terjadi di akhir atau awal tahun saja. Bisa saja terjadinya November, Desember, apalagi Nataru akhir Januari-Februari 2020, ya kita tentu tidak berharap, makanya masifkan upaya pencegahan-pencegahan itu," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/10).

Windhu lantas menyoroti temuan 83 kasus covid-19 di pagelaran PON, meskipun positivity rate tidak lebih dari 2 persen, namun ia melihat bahwa temuan itu dapat menjadi klaster yang kemudian merebak di masyarakat lokal, mengingat masa inkubasi virus setidaknya membutuhkan waktu hingga 14 hari.

Windhu juga mengkritisi penerapan protokol kesehatan covid-19 saat PON XX di Papua, pasalnya Kementerian Kesehatan mengungkapkan ada tujuh atlet yang 'kabur' padahal masa karantina 5 x 24 jam belum rampung. Temuan itu menurut Dicky cukup menjadi landasan bahwa penerapan protokol covid-19 belum berjalan secara maksimal.

"Kita tahu ya meskipun kasus tidak banyak, tapi kita ingat bahwa kasus covid-19 ini dimulai 1-2 orang kemudian jadi berjuta-juta orang. Kan artinya sebenarnya kasus satu pun tidak boleh terjadi," ujar Windu.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 sebelumnya mewanti-wanti segenap masyarakat Indonesia untuk tetap waspada terhadap penularan covid-19, kendati jumlah sebaran kasus covid-19 di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ganip Warsito menyebut, kewaspadaan juga harus ditambah mengingat Indonesia berpotensi 'dihantam' gelombang tiga covid-19 yang diprediksi terjadi akhir tahun 2021.

(kha/ugo)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER