Pusara Kiai Moestojib di Masjid Tambora, Ulama Penentang Kompeni
CNN Indonesia
Rabu, 29 Mar 2023 11:01 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Makam Kyai Haji (KH) Moestojib dan Ki Daeng yang berada di Komplek Masjid Jami Tambora, Jakarta Barat. (CNN Indonesia/Lina Itafiana)
Haryanto mengatakan kala itu masjid tersebut menjadi sasaran penjajahanBelanda lantaran digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus tempat menyusun strategi melawan kompeni.
Pergerakan KH Moestojib dan Ki Daeng pun diawasi begitu ketat. Kali Krukut yang berada tepat di muka masjid turut menjadi saksi bisu patroli yang dilakukan oleh Belanda.
Meski para kompeni berhasil masuk ke dalam masjid, namun dikisahkan bahwa mereka tak pernah menemukan keberadaan KH Moestojib dan Ki Daeng. Padahal, keduanya berada di masjid tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu ini depannya rawa-rawa bukan jalan seperti ini dulu. Biasanya Belanda pada lalu lalang di kali ini naik getek, kapal. Kalau misalkan mau nyari tau tentang masjid ini lewat rawa-rawa ini. Namanya beliau ini seorang ulama ketika melihat ya enggak ada," ujarnya.
Haryanto menyebut KH Moestojib dan Ki Daeng bersembunyi di menara masjid berukuran 2x2 meter. Puncak atap menara itu terdapat mustaka berbentuk nanas.
Menurutnya, tempat persembunyian itu memiliki tangga penghubung langsung dari bawah masjid. Namun, setelah dilakukan renovasi, tangga tersebut dihilangkan.
"Itu ada menara sejarah. Dulu tempat beliau zikir, munajat. Jadi ada tempat, itu dijadikan beliau munajat. Kayak bersembunyi. Padahal beliau ada tapi sama Belanda enggak kelihatan," ucapnya.
Usai KH Moestojib dan Ki Daeng meninggal dunia, Masjid Jami Tambora dipimpin oleh Imam Saiddin. Setelahnya, masjid tersebut mengalami beberapa kali pergantian pimpinan terakhir pada 1370 Hijriah atau 1950 Masehi. Kala itu, kepemimpinan berada di tangan Madsupi dan kawan-kawannya di Gang Tambora.
Kemudian pada 1945, Masjid Jami Tambora sempat dijadikan markas perjuangan melawan Tentara Netherland Indies Civil Administrations (NICA). Namun, pada tahun yang sama tepatnya pada Oktober, masjid tersebut diserang oleh Tentara NICA dan berhasil menawan Madsupi bersama kawan-kawan.
Selanjutnya, untuk perawatan dan perlindungan masjid maka didirikan suatu yayasan bernama Yayasan Masjid Jami Tambora oleh Haji Memed pada 1959 lalu.
Mengutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Jakarta, KH Moestojib dan Ki Daeng berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Keduanya kemudian menetap lama di Sumbawa. Tepatnya di lereng Gunung Tambora.
Oleh karena itu, wilayah kampung dan nama masjid yang didirikan KH Moestojib dan Ki Daeng disebut Tambora.
Dua ulama itu dikenal sebagai pemberontak dan pembangkang terhadap pemerintahan kolonial VOC. Atas perbuatannya, KH Moestojib dan Ki Daeng dibuang ke Batavia.
Setelah masa hukuman berakhir, KH Moestojib dan Ki Daeng akhirnya menetap di Batavia. Mereka kemudian berkenalan dengan banyak ulama dan masyarakat sekitar Batavia kala itu.
Hingga akhirnya keduanya bersepakat untuk mendirikan masjid sebagai salah satu ungkapan rasa syukur karena telah bebas dari hukuman VOC.
Masjid Jami Tambora dibangun KH Moestojib dan Ki Daeng pada 1761 silam. Masjid itu memiliki luas bangunan 435 meter persegi yang berdiri di atas tanah seluas 555 meter persegi. Di dalam kompleks masjid tersebut, KH Moestojib dan Ki Daeng disemayamkan. Hingga kini, makam kedua ulama tersebut masih ramai dikunjungi peziarah.
Fenomena ziarah makam merupakan tradisi turun-temurun yang sudah berakar kuat di kalangan umat Islam Nusantara sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang khususnya para wali atau penyebar agama Islam di tanah nusantara.
Hilir mudik kendaraan dan riuh aktivitas warga di Gang Jalan Tambora IV RT 8/RW 3, Tambora, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat pada Selasa (14/3) pagi berbanding terbalik dengan suasana di Masjid Jami Tambora yang begitu hening.
Masjid yang berdiri di tengah permukiman padat penduduk itu terasa sangat teduh. Pada halaman depan masjid, tepatnya disudut tenggara terdapat dua makam bercungkup yang sangat mencolok.
Makam itu dibangun dengan ornamen perpaduan antara gaya Eropa dan Tionghoa. Hal itu tampak dari atap bangunan dan keramik yang membalut empat tiang penyangga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Tambora, Haryanto mengatakan kedua makam itu adalah makam Kiai Haji (KH) Moestojib dan Ki Daeng yang merupakan pendiri masjid tersebut. Mereka meninggal pada 1836 silam.
"KH Moestojib dan Ki Daeng merupakan pendiri Masjid Jami Tambora," kata Haryanto saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.
Menurutnya, ornamen Tionghoa yang melekat pada bangunan makam itu tak lain karena semasa hidupnya KH Moestojib dan Ki Daeng kerap membantu orang-orang China yang bermukim di kawasan Pecinan, Glodok. Sehingga terdapat ikatan antara Masjid Jami Tambora dengan Thionghoa.
"Arsitektur China dengan Eropa itu jadi ini nih keramik-keramik terus warna merah menggambarkan bahwa ada ikatan persatuan antara islam dengan Tionghoa. Jadi dulu itu beliau sering membantu orang-orang Tionghoa yang di Glodok," ujarnya.
Makam KH Moestojib dan Ki Daeng berada di sebuah bangunan yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 2x1,5 meter. Kedua makam tersebut terdiri atas jirat dan nisan.
Jirat itu terbuat dari semen biasa dengan bentuk empat persegi panjang tanpa hiasan. Bagian tengah makam terdapat batuan kecil berwarna putih untuk para peziarah menaburkan bunga. Sementara nisan terbuat dari batu hitam berbentuk oval.
Haryanto menuturkan dua makam tersebut masih kerap dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah meski tak seramai makam-makam wali lainnya.
"Kalau ziarah sih jarang enggak sering banget seperti ziarah-ziarah yang lain. Tapi ada walaupun tidak seramai makam para wali," tuturnya.
Namun, para peziarah tak sampai menganggap kedua makam pendiri Masjid Jami Tambora itu sebagai makam keramat yang memiliki wasilah bisa mengabulkan segala permintaan.
"Tapi hal-hal yang seperti berbau syirik sih tidak pernah ada di sini. Alhamdulillah," ujar Haryanto.
"Paling hanya berdoa, mendoakan supaya hajatnya terkabul melalui para wali Allah. Terus melihat sejarah ini masjid gimana sih sejarahnya. Paling seperti itu kebanyakan," sambungnya.
Haryanto bertutur KH Moestojib dan Ki Daeng diasingkan ke Batavia--sekarang Jakarta--dan dihukum paksa selama lima tahun lantaran menentang kolonialisme Belanda di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 1176 Hijriah/1756 Masehi.
Usai bebas dari jerat hukuman, keduanya tak kembali ke Sumbawa dan memutuskan untuk berkumpul bersama para ulama di Batavia. KH Moestojib dan Ki Daeng kemudian mendirikan sebuah masjid yang kini bernama Masjid Jami Tambora.
Nama itu diambil dari nama Gunung Tambora di Bima, NTB yang sangat masyhur dengan letusan dahsyatnya pada 1815 silam.
"Kenapa masjid ini namanya Masjid Jami Tambora. Bahkan sampai kelurahan dan kecamatan namanya Tambora itu asal usul sejarahnya dari beliau. Karena beliau tinggal di Sumbawa di sana ada namanya Pegunungan Tambora," kata Haryanto.
Persembunyian KH Moestojin dan Ki Daeng dari Kejaran Belanda
Makam Kyai Haji (KH) Moestojib dan Ki Daeng yang berada di Komplek Masjid Jami Tambora, Jakarta Barat. (CNN Indonesia/Lina Itafiana)
Haryanto mengatakan kala itu masjid tersebut menjadi sasaran penjajahanBelanda lantaran digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus tempat menyusun strategi melawan kompeni.
Pergerakan KH Moestojib dan Ki Daeng pun diawasi begitu ketat. Kali Krukut yang berada tepat di muka masjid turut menjadi saksi bisu patroli yang dilakukan oleh Belanda.
Meski para kompeni berhasil masuk ke dalam masjid, namun dikisahkan bahwa mereka tak pernah menemukan keberadaan KH Moestojib dan Ki Daeng. Padahal, keduanya berada di masjid tersebut.
"Dulu ini depannya rawa-rawa bukan jalan seperti ini dulu. Biasanya Belanda pada lalu lalang di kali ini naik getek, kapal. Kalau misalkan mau nyari tau tentang masjid ini lewat rawa-rawa ini. Namanya beliau ini seorang ulama ketika melihat ya enggak ada," ujarnya.
Haryanto menyebut KH Moestojib dan Ki Daeng bersembunyi di menara masjid berukuran 2x2 meter. Puncak atap menara itu terdapat mustaka berbentuk nanas.
Menurutnya, tempat persembunyian itu memiliki tangga penghubung langsung dari bawah masjid. Namun, setelah dilakukan renovasi, tangga tersebut dihilangkan.
"Itu ada menara sejarah. Dulu tempat beliau zikir, munajat. Jadi ada tempat, itu dijadikan beliau munajat. Kayak bersembunyi. Padahal beliau ada tapi sama Belanda enggak kelihatan," ucapnya.
Usai KH Moestojib dan Ki Daeng meninggal dunia, Masjid Jami Tambora dipimpin oleh Imam Saiddin. Setelahnya, masjid tersebut mengalami beberapa kali pergantian pimpinan terakhir pada 1370 Hijriah atau 1950 Masehi. Kala itu, kepemimpinan berada di tangan Madsupi dan kawan-kawannya di Gang Tambora.
Kemudian pada 1945, Masjid Jami Tambora sempat dijadikan markas perjuangan melawan Tentara Netherland Indies Civil Administrations (NICA). Namun, pada tahun yang sama tepatnya pada Oktober, masjid tersebut diserang oleh Tentara NICA dan berhasil menawan Madsupi bersama kawan-kawan.
Selanjutnya, untuk perawatan dan perlindungan masjid maka didirikan suatu yayasan bernama Yayasan Masjid Jami Tambora oleh Haji Memed pada 1959 lalu.
Mengutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Jakarta, KH Moestojib dan Ki Daeng berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Keduanya kemudian menetap lama di Sumbawa. Tepatnya di lereng Gunung Tambora.
Oleh karena itu, wilayah kampung dan nama masjid yang didirikan KH Moestojib dan Ki Daeng disebut Tambora.
Dua ulama itu dikenal sebagai pemberontak dan pembangkang terhadap pemerintahan kolonial VOC. Atas perbuatannya, KH Moestojib dan Ki Daeng dibuang ke Batavia.
Setelah masa hukuman berakhir, KH Moestojib dan Ki Daeng akhirnya menetap di Batavia. Mereka kemudian berkenalan dengan banyak ulama dan masyarakat sekitar Batavia kala itu.
Hingga akhirnya keduanya bersepakat untuk mendirikan masjid sebagai salah satu ungkapan rasa syukur karena telah bebas dari hukuman VOC.
Masjid Jami Tambora dibangun KH Moestojib dan Ki Daeng pada 1761 silam. Masjid itu memiliki luas bangunan 435 meter persegi yang berdiri di atas tanah seluas 555 meter persegi. Di dalam kompleks masjid tersebut, KH Moestojib dan Ki Daeng disemayamkan. Hingga kini, makam kedua ulama tersebut masih ramai dikunjungi peziarah.
Fenomena ziarah makam merupakan tradisi turun-temurun yang sudah berakar kuat di kalangan umat Islam Nusantara sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang khususnya para wali atau penyebar agama Islam di tanah nusantara.