Susi Susanti: Lebih Baik Anak Saya Memilih Profesi Non Atlet

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Minggu, 15/02/2015 11:47 WIB
Di dunia bulutangkis, Susi Susanti menjadi seorang ratu. Namun hal ini tak berlaku ketika ia menggantung raket dan harus memulai segala sesuatu dari nol. Susi Susanti dan Alan Budikusuma beserta tiga orang anaknya ketika sedang liburan keluarga. (CNN Indonesia/Dok Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Susi Susanti adalah malaikat bulu tangkis Indonesia. Keberhasilannya merebut berbagai gelar, mulai dari emas Olimpiade, titel kejuaraan Dunia, piala All England, Piala Uber, dan Piala Sudirman, memberikan banyak kegembiraan dan kejayaan bagi masyarakat Indonesia.

Namun, Susi juga yang menjadi hantu yang mengiringi langkah perjalanan bulu tangkis Indonesia, khususnya tunggal putri. Sudah sekitar 18 tahun ia undur diri dari bulu tangkis namun namanya masih selalu jadi patokan dan dibicarakan banyak orang.

Di saat tongkat regenerasi Alan Budikusuma di tunggal putra sudah beralih, di saat prestasi Ricky Subagdja/Rexy Mainaky mulai bisa diimbangi, di saat catatan Lili Tampi/Finarsih dan Tri Kusharjanto/Minarti Timur dilampaui oleh para generasi di bawah mereka, hanya nama Susi yang seolah abadi dari generasi 1990-an bulu tangkis Indonesia.


Hingga kini, Susi belum bisa disamai apalagi digantikan.

Jelas bukan salah Susi jika dia menancapkan standar yang begitu tinggi atas sejauh mana tunggal putri Indonesia bisa berprestasi. Susi adalah contoh bahwa betapa jauh batasan yang bisa ditempuh oleh tunggal putri Indonesia dalam persaingan di level dunia. Karena itulah Susi merupakan sosok malaikat dan hantu di waktu yang berbeda.

Kehidupan Setelah Gantung Raket

Di saat para generasi muda tunggal putri Indonesia mencoba untuk sekedar mendekati prestasi Susi, Susi sendiri juga tengah berjuang untuk babak baru dalam hidupnya. Ia boleh saja menjadi ratu semasa aktif menjadi pemain, namun itu tak berlaku ketika dirinya gantung raket.

"Sistem di Indonesia belum sebagus di negara maju perihal perhatian terhadap atlet berprestasi yang telah pensiun. Karena itulah, saya dan suami pun harus berjuang dari nol setelah pensiun untuk meneruskan kehidupan kami," kata Susi.

Lebih dari satu dekade pasca pensiun, Susi dan Alan kini telah mengembangkan beberapa bisnis, yaitu perusahaan apparel bulu tangkis bernama Astec dan sport massage center bernama Fontana (juga bersama Elizabeth Latief).

"Ada saat jatuh-bangun dalam bisnis ini namun kami sangat menikmati tiap proses yang kami lakukan," ucap Susi.

Selain menjadi pebisnis, Susi yang telah gantung raket adalah Susi yang juga bertransformasi menjadi ibu rumah tangga sejak melahirkan anak pertamanya pada tahun 1999 lalu. Kini Susi memiliki tiga buah hati hasil pernikahannya dengan Alan.

"Selain jika ada keperluan bisnis, maka saya pasti tidak akan melewatkan waktu bersama anak-anak di rumah. Mulai dari mengantar anak sekolah, menyiapkan segala keperluan mereka, saya selalu mengurusnya sendiri. Hal itu saya lakukan karena masa anak-anak mereka tidak akan bisa terulang kembali," ujar Susi.

Melarang Anaknya Main Bulu Tangkis

Atas dasar kecintaan orang tua pada anak pulalah, Susi juga tidak mendorong anak-anaknya untuk mengikuti jejak Susi dan Alan sebagai pemain bulu tangkis.

"Banyak halangan yang akan mereka alami jika memilih bulu tangkis sebagai jalan hidup mereka. Pastinya mereka akan terbebani oleh nama orang tua mereka dan selalu dibanding-bandingkan di tiap perjalanan karir mereka nantinya," kata Susi.

"Selain kemungkinan sukses menjalani karier sebagai atlet paling kecil dibandingkan karier lainnya, karena juara hanya satu dan setelah juara pun negara ini juga belum menyiapkan formula yang jelas," ujar Susi.

"Karena itu lebih baik mereka berkarier di akademik dan memilih profesi lain yang memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi dibandingkan jika menjadi atlet," ujar Susi.

Delapan belas tahun sudah meninggalkan lapangan bulu tangkis, Susi menyebut bahwa hidup sebagai atlet dan hidup setelah pensiun sebagai atlet menawarkan tantangan yang berbeda-beda.

"Semuanya menarik untuk dijalani. Meski tantangannya berbeda-beda, ada kesamaan di antara dua fase itu. Keduanya sama-sama butuh konsistensi, konsentrasi, dan komitmen. Jika itu semua dilakukan, maka kita akan bisa mencapai tujuan yang diinginkan," ujar Susi berpesan.

Lepas dari dunia bulu tangkis, Susi Susanti tetaplah seorang malaikat meskipun kini dalam skala lebih khusus, yaitu untuk keluarganya.

Namun di luar kediaman Susi, tepatnya di sektor tunggal putri Indonesia, sosok Susi masih menjadi hantu. Hantu yang terus membuat tunggal putri Indonesia, masa kini dan masa depan, tak bisa tenang karena nama besar Susi akan terus mengiringi mereka sampai akhirnya mereka benar-benar bisa menyamai prestasi Susi Susanti.

(vws)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK