"Kerinduan ini yang harus dipikirkan dari sekarang, sehingga tidak ada lagi peristiwa sepak bola gajah, pengaturan skor, dan tim nasional Indonesia harus benar-benar mampu menggambarkan kebesaran Indonesia di dunia internasional."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Imam mengatakan bahwa keputusan ini tak serta-merta membuatnya bisa mencopot La Nyalla Mattalitti yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada Kongres Luar Biasa yang lalu.
Sebagai respons atas surat keputusan Menpora tersebut, PSSI sendiri secara resmi mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara pada Rabu (22/4) lalu melalui kuasa hukumnya, Togar Manahan Nero.
Menurut Imam, ia tak mempermasalahkan gugatan tersebut. "Ini kan negara hukum. Negara demokrasi. Siapa pun boleh berpendapat atau menempuh jalur hukum."
Namun bukan hanya respons PSSI yang harus dipertimbangkan oleh Menpora, namun juga ancaman sanksi dari otoritas tertinggi sepak bola dunia, FIFA. Pada 10 April lalu, Sekretaris Jendral FIFA, Jerome Valcke, pernah meminta agar Menpora dan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) tak ikut campur urusan PSSI jika tidak ingin mendapatkan sanksi.
Melalui surat elektronik, seorang juru bicara FIFA juga mengatakan bahwa pihaknya sedang mengawasi perkembangan yang terjadi di Indonesia. (Baca Beritanya Di Sini)
Namun Imam berpendapat bahwa ancaman dari FIFA tidak akan menghalangi langkahnya dalam mengambil keputusan.
"Kalau hal itu membuahkan hasil positif pada persepakbolaan nasional, maka tidak masalah. Saya kira bangsa kita tidak boleh ditakut-takuti, karena kita rindu sepak bola kita." (vws)