Pandangan Rahmad Darmawan Soal Sanksi FIFA

M. Arby Rahmat, CNN Indonesia | Minggu, 31/05/2015 18:26 WIB
Pandangan Rahmad Darmawan Soal Sanksi FIFA Rahmad Darmawan (memakai topi) saat memimpin latihan Persija beberapa bulan lalu. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jatuhnya sanksi oleh FIFA kepada Indonesia membuat Rahmad Darmawan menumpahkan pandangannya terhadap situasi sepakbola nasional. RD menilai situasi saat ini bakal makin panas bila tidak disikapi dengan baik dan cermat.

Pelatih penuh pengalaman ini menilai setidaknya ada tiga solusi apabila Kemenpora ingin ikut dalam pembenahan sepakbola nasional.

"Yang pertama Menpora harus komunikasi dengan pihak-pihak yang punya pengalaman lebih di bidang sepak bola, karena outputnya akan berbeda. Komunikasi yang bukan hanya seremonial, tapi diskusi yang pastinya bakal menghasilkan poin yang lebih detil," ucap Rahmad.


Poin kedua, Pemerintah harus meningkatkan komunikasi dengan PSSI. Dengan begitu, akan diketahui hal-hal apa saja yang saat ini dibutuhkan oleh sepakbola Indonesia untuk melakukan perbaikan.

"Misal PSSI mengalami kekurangan sesuatu, Pemerintah bisa bantu dukung dan memenuhinya. Selain itu, bisa pula Pemerintah memberikan bantuan dana dan pelatihan-pelatihan baik bagi pelatih maupun pemain," ujar pria yang akrab disapa RD ini.

Untuk poin ketiga, RD juga mengapresiasi langkah pemerintah untuk memantau perkembangan kompetisi Tanah Air dimana klub-klub saat ini berupaya mandiri.

"Kalau ada yang melanggar, pemerintah harus bersikap tegas. Seperti yang kemarin itu bagus, namun jangan langsung dengan langkah membubarkan," ucap Rahmad yang sejatinya menangani Persija sebelum kompetisi musim ini dihentikan.

"Yang kita harapkan tentu semuanya berjalan dengan baik dan bukan malah memunculkan masalah baru."

Bayang-bayang Dualisme

Rahmad kemudian menganalisis jika komunikasi PSSI dengan pemerintha tidak segera diperbaiki secepatnya, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika nanti ada niatan pemerintah untuk membentuk federasi baru menggantikan PSSI.

"Khawatir jika hal itu terjadi akan menimbulkan klub-klub baru, asprov-asprov baru, dan sebagainya. Ini hanya menuntun kepada perpecahan komunitas sepak bola Indonesia."

"Padahal kan sepak bola itu tujuannya untuk mencari banyak teman. Hal-hal seperti ini sudah saya bayangkan karena dua tahun lalu pun ada dualisme kompetisi juga dan masih bersisa sampai sekarang di Arema dan Persebaya."

"Ini contoh renungan karena kita sudah capek. Ini hanyalah omongan seorang Rahmad Darmawan yang tidak lagi punya jabatan apa-apa," tutur Rahmad.

(ptr/ptr)