Bowie Haryanto
Mengawali karier sebagai wartawan olahraga di harian Berita Kota. Menjadi asisten redaktur olahraga di portal inilah.com, dan redaktur olahraga di portal viva.co.id. Sekarang menjadi writer olahraga di CNN Indonesia.

Lagi-lagi Bulutangkis!

Bowie Haryanto, CNN Indonesia | Minggu, 23/08/2015 19:55 WIB
Lagi-lagi Bulutangkis! Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan telah dua kali mengharumkan nama Indonesia di panggung Kejuaraan Dunia. (Dok PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lagi-lagi bulutangkis. Cabang olahraga tepok bulu ini untuk kali kesekian memberikan kebanggaan bagi bangsa Indonesia setelah pasangan ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan merebut gelar juara dunia.

Para pendiri Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pantas berbangga. Pasalnya, cabang olahraga ini selalu mampu membuat bendera Indonesia berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di kancah internasional.

Sejak zaman Rudy Hartono, ke Susi Susanti, hingga kini Ahsan/Hendra, cabang bulutangkis memang selalu bisa diandalkan Indonesia. Namun, entah sampai kapan kita harus terus mengandalkan bulutangkis?


Keberhasilan Ahsan/Hendra merebut medali emas di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015 memang patut disyukuri. Tapi, hanya meraih satu medali emas, di kandang sendiri, dari cabang olahraga yang paling kita jagokan, masih terasa kurang.

Sejak awal, PBSI memang hanya menargetkan emas dari nomor ganda. Sayang, ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir hanya mampu melangkah hingga babak semifinal. Tapi, dari nomor mana lagi yang bisa diandalkan?

Tidak bisa dipungkiri, prestasi bulutangkis kita dalam satu dekade terakhir stagnan. Praktis hanya nomor ganda putra dan ganda campuran yang menjadi andalan. Sialnya, hingga kini belum ada pasangan yang dianggap pantas menggantikan peran Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana sebagai penyumbang medali.

Ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari terbilang angin-anginan di kancah internasional. Prestasi Indonesia di nomor tunggal lebih suram. Bahkan di tunggal putri, Linda Wenifanteri dan kawan-kawan belum juga mampu keluar dari bayang-bayang angkatan Susi Susanti, yang berprestasi lebih dari dua dekade silam.

Sedih rasanya melihat Carolina Marin merebut gelar juara dunia keduanya di Jakarta. Padahal pebulutangkis tunggal putri asal Spanyol itu dulunya menjalani latihan di Pelatnas Cipayung sebelum menjadi juara dunia.

Awalnya, penulis mengira sukses Marin menjadi juara dunia pada 2013 adalah sebuah kebetulan. Karena melihat Spanyol memiliki juara dunia bulutangkis, seperti membayangkan pocong takut kuburan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Selama ini, kita hanya melihat atlet Spanyol berprestasi di olahraga yang lebih populer, seperti sepak bola, tenis, balap mobil dan motor, serta bola basket. Lalu, bisa Anda sebutkan pebulutangkis asal Spanyol yang Anda kenal? Pasti jawabannya cuma Carolina Marin.

Dulu pesaing kita di dunia bulutangkis hanya berputar di negara seperti China, Korea Selatan, dan Denmark. Kini sudah muncul Thailand, Taiwan, dan Spanyol.

Negara seperti Spanyol saja kini sudah memiliki juara dunia. Jadi, bisa Anda bayangkan bagaimana nasib Indonesia di dunia bulutangkis jika prestasi kita stagnan. Bukan tidak mungkin akan ada negara dari Eropa lainnya atau wakil dari Amerika Selatan yang memiliki juara dunia di nomor ganda.

Senang Kisruh

Lewat kolom ini, penulis bukan ingin menyoroti prestasi bulutangkis. Penulis ingin mengajak seluruh stakeholder olahraga di Indonesia untuk membangkitkan kembali prestasi, karena penulis yakin Indonesia bisa berprestasi di cabang olahraga lainnya.

Sedih melihat hanya cabang bulutangkis yang bekerja keras untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Padahal sebelumnya kita punya sejumlah juara dunia di cabang olahraga lain.

Kita pernah punya Chris John yang menjadi juara dunia tinju. Lalu ada Lindswell yang merupakan juara dunia wushu. Indonesia juga punya prestasi cukup impresif di cabang angkat besi, perahu naga, dan bridge.

Selain karena regenerasi yang tidak berjalan, seluruh prestasi itu tertutup dengan banyaknya kisruh di dunia olahraga Indonesia. Mulai dari kisruh di cabang tenis meja, sepeda, berkuda, hingga yang teranyar kisruh antara PSSI dengan Kemenpora yang membuat sepak bola kita mati suri.

Jika Anda lihat di halaman olahraga seluruh media di Indonesia, maka akan lebih banyak porsi berita ‘kisruh’ dibanding berita prestasi atlet, atau berita komentar para pengurus cabang olahraga ketimbang para atletnya.

Kisruh juga bisa Anda lihat antara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Di sela persiapan Asian Games 2018, kedua organisasi yang tidak pernah akur itu masih sempat ribut masalah logo lima ring.

Mencari dukungan dari pemerintah juga susahnya bukan main bagi seorang atlet. Bahkan sampai harus seorang Presiden Joko Widodo yang memberikan perintah, baru pebalap muda berbakat Indonesia, Rio Haryanto, mendapat kepastian bantuan dari pemerintah.

Dengan sejumlah masalah di atas, saya pesimistis bisa melihat prestasi olahraga meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan untuk tingkat Asia Tenggara saja akan sangat sulit. Masak kita harus menunggu jadi tuan rumah untuk bisa menjadi juara umum SEA Games.

Padahal kita punya sumber daya atlet yang sepertinya tidak pernah putus. Akan selalu muncul bibit-bibit atlet muda berbakat baru di semua cabang olahraga. Sayangnya, setelah mereka muncul, tidak ada penanganan selanjutnya.

Prestasi olahraga tidak muncul begitu saja, harus melalui program pembinaan yang berjenjang dan berkesinambungan. Tidak kalah pentingnya, pembinaan itu harus didukung penuh pemerintah melalui anggaran.

Seluruh stakeholder harus bergerak satukan visi dan misi jika ingin olahraga Indonesia bangkit. Jangan ingin masuk ke dunia olahraga hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi, kelompok, dan politik.

Nama besar sebuah negara akan dilihat salah satunya dari prestasi olahraga. Jadi, bagaimana bisa Indonesia ingin disebut sebagai negara besar kalau olahraganya terpuruk. Jangan, lagi-lagi bulutangkis, lagi-lagi bulutangkis!

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS