Vetriciawizach
Pernah bekerja di Pikiran Rakyat dan menjadi editor di Pandit Football Indonesia. Senang menulis dan menyaksikan Liverpool di layar televisi. Kini menjadi redaktur olahraga CNN Indonesia.

Menapak Jalan Sunyi

Vetriciawizach, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2015 09:07 WIB
Menapak Jalan Sunyi Ilustrasi (CNN Indonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serena Williams adalah ratu diratu di dunia tenis. Puncak gunung prestasi.

Tapi Serena bukan sekadar itu. Ia muncul dari berbagai ketidakmungkinan. Ia muncul dari sebuah perjalanan yang bukan hanya menuntut pengorbanan tetapi juga ketangguhan mental dan fisik, anomali sosial, dan daya tahan untuk terus bermimpi. Sebuah jalan sunyi yang jauh dari nyaman dan penuh tantangan.

Bukan perkara mudah untuk menjadi petenis profesional di Amerika Serikat. Berbeda dari negara-negara Eropa yang memang terbiasa memainkan tenis dan lapangannya tersedia di banyak tempat, akses pada tenis tidak (terlalu) mudah didapatkan di Amerika Serikat.


Di era 1990-an, kebanyakan anak memilih American Football, bisbol, atau basket sebagai olahraga, karena fasilitas itulah yang tersedia di sekolah-sekolah publik sementara tenis ada di klub-klub mewah di area elite.

Belum lagi jika berbicara tentang faktor yang tidak terhindarkan: dunia tenis, bahkan hingga saat ini, dimiliki, dikuasai, dan didominasi oleh orang kulit putih.

Sepanjang sejarah, hanya ada lima petenis kulit hitam yang pernah mendapatkan gelar grand slam: Arthur Ashe, Yannick Noah, Althea Gibson, Venus Williams dan Serena Williams. Ketika olahraga lain memiliki banyak atlet kulit hitam di level elite dunia saat ini, tenis pria hanya mengenal Gael Monfils dan Jo-Wilfried Tsonga, yang keduanya berasal dari Perancis.

Tenis milik Serena Williams sendiri lahir di Compton, salah satu area dengan tingkat kejahatan paling tinggi di kota Los Angeles. Semasa kecil ia berlatih untuk melakukan servis-servis berkecepatan tinggi di lapangan terbuka yang hanya memiliki satu permukaan: beton yang telah retak-retak.

Alih-alih berguru kepada seorang pelatih, Serena kecil belajar dari ayahnya, Richard, yang mengajari kelima putrinya cara mengayun raket dari video tenis.  Baru di usia sembilan tahunlah Serena mengenal pendidikan tenis secara formal.

Cita-cita Richard bukan untuk menaklukkan dunia tenis. Tapi ia ingin putri-putrinya menang secepat mungkin dan mengumpulkan uang hadiah sebanyak mungkin. Richard sudah berencana bahwa Venus dan Serena akan pensiun di usia 25 tahun lalu mereka akan menapaki dunia bisnis, menjadi desainer, atau apapun yang bisa mereka lakukan dengan pundi-pundi uang mereka.

Itu sebelum palu sejarah memberikan vonis berbeda.

Di usia 14 tahun Serena menjadi profesional, dan di usia 18 tahun mendapatkan gelar grand slam pertamanya.

Tujuh belas tahun kemudian –atau nyaris separuh hidupnya—Serena masih menjadi fenomena.     

**

Tapi Serena Williams tak pernah benar-benar mendapatkan tempat di dunia tenis. Dia terlalu berbeda.

Pada tenis yang kental dengan tradisi dan menghargai tatanan, keluarga Williams terlihat asing. Ayahnya terlalu agresif, terlalu gila, dan terlalu percaya diri. Sementara itu Venus dan Serena terlalu berwarna, terlalu keras bersuara, terlalu hebat, terlalu urakan, terlalu berotot, dan banyak hal lain yang membuat kehadiran mereka sukar diterima.

Ilustrasi (CNN Indonesia/Fajrian)
Ketika menang, Serena akan melompat tinggi-tinggi ke udara. Ia akan berteriak keras ‘Come on!’ di setiap angka yang ia dapatkan. Ia tertawa. Menyeringai. Mengacungkan tinju. Menunjukkan jarinya ke arah langit. Mengumpat dan bersumpah serapah ketika bola bergerak terlalu melebar. Membanting raket hingga rusak ketika kehilangan satu set. Menggunakan pakaian berwarna-warni ketika dunia tenis masih didominasi oleh warna putih.

Berbeda dari kakaknya, Venus, yang bermain elegan dan bisa menahan diri di berbagai situasi, Serena selalu mengatakan yang ada di pikirannya dan selalu mengikuti suasana hatinya. Ia akan memboikot suatu turnamen selama 14 tahun dan juga menolak untuk menjawab pertanyaan jika ia tidak ingin menjawabnya.

Ia membuat orang lain mengikuti aturannya dan ia tak pernah meminta maaf untuk dirinya sendiri.

Keterasingan Serena juga terlihat di atas lapangan. Di dunia tenis yang memuja keindahan backhand Roger Federer, Serena terkadang terlihat menghukum lawan-lawannya dengan kekuatan. Servis as-nya sukar untuk dibendung dan dari belakang baseline ia mengirimkan pukulan dengan sudut tajam dan sulit dijangkau.

Serena adalah soal kemenangan. Selalu tentang kemenangan. Bahkan ketika ia menderita sakit flu di perempat final Perancis Terbuka 2015 di usia 33 tahun.

Celakanya, hal-hal yang menjadikan Serena seorang Serena adalah hal-hal yang bahkan hingga saat ini membuatnya ditolak oleh publik tenis. Kemenangan Serena sering kali diasosiasikan dengan kekuatan otot-ototnya, seolah satu-satunya syarat menjadi petenis hebat adalah memiliki kekuatan sangat dominan.

Satu malam sebelum Serena bermain di final Wimbledon 2015, The New York Times mengeluarkan artikel yang lagi-lagi menunjukkan bagaimana Serena asing di antara kolega-koleganya. Artikel tersebut menyoroti beberapa petenis perempuan papan atas dunia tidak ingin memaksakan diri membentuk otot karena akan membuat mereka terlihat terlalu maskulin.

“Adalah keputusan kami untuk membuatnya petenis dengan tubuh terkecil di jajaran sepuluh besar dunia,” kata Tomasz Wiktorowski, pelatih dari Agnieszka Radwanska. “Yang pertama dan terutama adalah karena ia seorang wanita, dan ia ingin tetap menjadi wanita.”

Secara tidak langsung hal inilah yang harus dihadapi oleh Serena dalam dua puluh tahun kariernya. Mengutip kolumnis The Guardian, Hadley Freeman, ketika mereka tak bisa mengalahkannya di atas lapangan tenis, maka mereka mencoba menjatuhkannya dengan mengatakan ia gagal sebagai seorang perempuan.

Dan mereka-mereka yang coba merendahkan Serena bisa dikompilasikan dalam suatu daftar panjang.

Hanya satu bulan lalu David Frum, redaktur senior The Atlantic, dalam suatu cuitan menuduh Serena menggunakan steroid. Sementara itu seorang pria mencuitkan kepada J.K. Rowling bahwa tubuh Serena mirip “seorang pria”. Pada 2014, presiden Federasi Tenis Rusia mengatakan ia dan Venus sebagai “Williams bersaudara”, sementara pada 2001 seorang pembawa acara olahraga mengatakan bahwa Serena lebih pantas berada di sampul majalah National Geographic ketimbang Playboy.

Hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit dengan mesin pencari internet untuk menemukan berbagai komentar yang mengatakan Serena adalah seekor gorila atau kata-kata ejekan lain yang kental dengan nuansa rasialisme dan seksisme. Suatu hal yang nyaris tidak pernah diterima Roger Federer atau Novak Djokovic.

Tapi Serena adalah Serena. Ia tak pernah minta diterima. Ia hanya menang dan menang hingga orang lain tak mungkin mengasosiasikannya dengan hal lain kecuali kemenangan.

**

Di usia 33 tahun, Serena seharusnya tidak memiliki tempat di puncak dunia tenis. Di usia seperti itu, ia seharusnya tidak memiliki kapasitas fisik untuk membuat dunia berduka karena gagal meraih empat grand slam secara beruntun dalam satu tahun yang sama.

Tapi Serena (lagi dan lagi) berbeda. Ketika remaja Serena mendapatkan satu grand slam, dua belas gelar ketika ia berusia kepala dua, dan delapan grand slam ketika ia telah melewati batas 30 tahun.

Meletakkan hal tersebut dalam konteks, hanya ada lima petenis di era terbuka yang mampu menyamai atau melampaui jumlah grand slam Serena setelah ia melewati usia 30 tahun: Steffie Graf (22 gelar), Chris Evert (18), Martina Navratilova (18), Billie Jean King (9), dan Monica Seles (9).

Entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk menentang gravitasi dan hukum-hukum biologi yang mengatakan bahwa metabolisme tubuh Anda akan melambat dan kemampuan otot dan tulang menurun setelah melewati usia 30 tahun.

Ah, dasar Serena. Memang ia tak tahu aturan. Ia menetapkan aturannya sendiri. Atau, ia aturan itu sendiri.

(dlp)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS