Berawal dari melihat para seniornya di sekolah bermain bola, Rudi pun ikut coba bermain tanpa pakai sepatu. Hingga ia jatuh cinta kepada olahraga ini, Rudi memberanikan diri untuk merengek minta dibelikan sepatu bola kepada orang tuanya.
"Soalnya teman-teman lain sudah pakai sepatu, pandai-pandai berbicara saya mintanya sampai akhirnya dibelikan sepatu bola bermerek Eagle. Dulu kalau tidak salah harganya Rp80 ribu atau Rp70 ribu," ujar Rudi, kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak Menyesal
Menjadikan sepak bola sebagai pilihan hidup tak membuat Rudi menyesal meski sekarang olahraga paling populer di Indonesia ini tengah mati suri akibat sanksi FIFA dan pembekuan induk sepak bola Tanah Air (PSSI) oleh Kemenpora Republik Indonesia.
"Tidak menyesal, dari dulu niatnya adalah bermain sepak bola karena saya suka bermain bola. Tidak untuk mencari uang semata," ucap Rudi, tegas.
Meski begitu, Rudi tetap berharap agar kisruh sepak bola nasional bisa segera berakhir dan kompetisi bisa kembali bergulir. "Soalnya kalau kayak gini turnamen saja kurang menjamin," katanya menambahkan.
Doa Orang Tua
Menanaggapi pertandingan final mendatang, Rudi menyampaikan tidak ada ritual khusus yang dilakukannya.
Yang paling penting untuknya adalah istirahat yang cukup sebelum pertandingan. Agar tenang, Rudi juga mendengarkan musik ketika ingin berangkat bertanding dan tak lupa telepon orang tua untuk memohon doa restu.
"Kalau sebelum pertandingan, saya berpikir kalau bisa permainan saya berpengaruh buat tim, bisa bantu teman-teman, syukur-syukur cetak gol," ucapnya.
Rudi berharap, para pemain tim "Kabau Sirah" dapat bermain lepas melawan skuat arahan Jafri Sastra yang merupakan mantan pelatih Semen Padang. Menurutnya, kedua tim memiliki kemampuan yang seimbang.
"Saya berharap pertandingan dapat selesai selama 90 menit," tutur Rudi yang tidak sabar untuk meraih gelar juara bersama Semen Padang di Stadion Utama Gelora Bung Karno. (bac)