Sayang, strategi yang sudah disiapkan gagal mengubah hasil di atas kertas sebelum final.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya dua pasangan ganda putra Indonesia yakni Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Angga Pratama/Ricky Karanda memiliki posisi lebih bagus dibandingkan formasi ganda Denmark.
Strategi mengamankan poin di nomor ganda tak berubah dengan menempatkan formasi terbaik. Pasangan ganda Ahsan/Hendra menjadi yang pertama, kemudian Angga/Ricky sebagai ganda kedua.
Perubahan strategi tim pelatih terlihat di nomor tunggal jelang laga final ini. Tim Pelatih memutuskan untuk menurunkan formasi Tommy Sugiarto-Anthony Ginting-Ihsan Maulana Mustofa.
Tim pelatih memilih Tommy dikarenakan ia dinilai sebagai sosok yang berpengalaman sebagai pemain tunggal putra. Selain itu pengalaman tampil di Piala Thomas pun dipandang sebagai nilai tambah. Tak hanya itu, dari segi kualitas, Tommy juga masih satu tingkat dengan Axelsen.
Tim pelatih sepertinya tak memilih Jonatan Christie sebagai tunggal pertama merujuk pada penampilan di babak semifinal. Kala itu Jonatan tak bisa lepas dari tekanan dan bermain di level permainan terbaik miliknya.
Kemudian untuk tunggal kedua, tim pelatih memilih Anthony dibandingkan Jonatan. Hal tersebut kemungkinan besar didasari penampilan Anthony yang gemilang saat babak semifinal.
Pemilihan Anthony sebagai tunggal kedua membuat Jonatan tak bisa dimainkan pada nomor tunggal ketiga. Hal itu, berdasarkan peraturan Thomas, karena peringkat Jonatan lebih bagus dibandingkan Anthony. Atas dasar itu, Ihsan pun maju untuk menempati posisi sebagai tunggal ketiga.
Strategi Indonesia ini kemudian tak bekerja dengan baik. Dua tunggal awal Denmark, Axelsen dan Jorgensen, mampu mengemban tanggung jawab untuk mengamankan poin wajib bagi Denmark.
Di empat laga awal, Indonesia dan Denmark sama-sama mampu mengamankan nomor andalan mereka. Denmark menang di nomor tunggal sedangkan Indonesia menyapu dua nomor ganda.
Masuk ke partai penentuan, Vittinghus memiliki keunggulan dibandingkan Ihsan. Vittinghus lebih baik dari segi peringkat, jam terbang maupun atmosfer-nya terhadap Piala Thomas edisi kali ini.
Vittinghus telah menjadi pebulutangkis penentu bagi kemenangan Denmark pada dua babak sebelumnya.
Saat babak perempat final, Vittingghus mampu jadi penentu kemenangan Denmark atas Jepang dengan skor 3-2. Kemudian babak semifinal, Vittinghus berhasil mengatasi tekanan dan mengawali kebangkitan Denmark di hadapan Malaysia pada partai ketiga.
Sementara Ihsan, meskipun dirinya masuk line up Indonesia di babak perempat final dan semifinal, Ihsan tak bermain karena Indonesia sudah menang dengan skor 3-1.
Perbedaan itulah yang kemudian terlihat di laga terakhir. Vittinghus tampil lebih percaya diri dibandingkan Ihsan karena Vittinghus sudah berkali-kali melewati situasi darurat di laga sebelumnya.
(kid)