Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia
Pekik Merdeka Tontowi/Liliyana
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Kamis, 18 Agu 2016 16:09 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Liliyana Natsir fokus penuh terhadap shuttlecock yang digenggam tangannya. Skor 20-12 tak memadamkan konsentrasi dalam dirinya. Setelah bertukar pukulan, Tontowi Ahmad berhasil mengirimkan shuttlecock yang tak bisa dikembalikan dengan sempurna Goh Liu Ying. Tontowi/Liliyana juara!Sebagai negara bulutangkis, kisah Indonesia dalam beberapa tahun ini terbilang miris. Tradisi emas dari bulutangkis yang dimulai tahun 1992 terputus pada tahun 2012. Dominasi yang kuat lama-lama tak lagi melekat dalam diri Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang dalam empat tahun terakhir, kondisi bulutangkis Indonesia tak separah durasi empat tahun sebelumnya pasca Olimpiade Beijing 2008 hingga Olimpiade London 2012.
Namun, tanpa mengecilkan itu semua, emas Olimpiade adalah puncak tertinggi prestasi dan aktualisasi diri bangsa ini. Bila Indonesia ingin dinilai sebagai bangsa bulutangkis yang telah bangkit berdiri, maka emas Olimpiade jadi harga mati.
Enam wakil dikirimkan ke Rio de Janeiro dengan kekuatan di atas kertas jauh lebih baik dibandingkan tim bulutangkis yang berlaga di London 2012 lalu.
Namun secara mengejutkan satu per satu laskar Indonesia itu berguguran di tengah jalan saat berjuang mengharumkan Indonesia.
Ahsan/Hendra terkapar di penyisihan, Greysia/Nitya harus terhenti di perempat final, dan Praveen/Debby harus beradu dengan Tontowi/Liliyana di delapan besar. Dua pemain tunggal, Tommy Sugiarto dan Linda Wenifanetri tak mampu membuat kejutan dan hal itu melengkapi penderitaan.
Bayangan nasib buruk sudah menggantung di langit Indonesia. Materi tim yang lebih superior ternyata bukan jaminan Indonesia bisa lebih mulus berjuang di Rio de Janeiro.
Tontowi/Liliyana kembali sendirian di semifinal, sama halnya dengan empat tahun silam. Di depan mereka, berdiri Zhang Nan/Zhao Yunlei yang selalu melumpuhkan mereka dalam dua tahun belakangan.
Tontowi/Liliyana pun berada dalam kondisi penuh derita jelang duel ini. Mereka tak banyak mendapatkan titel juara dalam dua tahun terakhir dan selalu ada di bawah kehebatan Zhang Nan/Zhao Yunlei. Rentetan hasil buruk beberapa bulan jelang Olimpiade membuat posisi mereka tersudut di pojok keraguan.
Tetapi akhirnya Indonesia bersuka ria karena Tontowi/Liliyana yang ada di Rio de Janeiro adalah Tontowi/Liliyana yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Tontowi/Liliyana di Rio de Janeiro adalah ganda yang sudah mengerti benar arti kekalahan dan penderitaan. Itulah yang mereka rasakan berulang-ulang dalam dua tahun belakangan.
Kekecewaan itu kemudian jadi bahan bakar hebat bagi Tontowi/Liliyana. Mereka meluapkan amarah mereka karena selalu kalah dari Zhang Nan/Zhao Yunlei.
Setelah menang atas Zhang/Zhao, Tontowi/Liliyana tak menurunkan tensi sampai akhirnya medali emas Olimpiade melingkar di leher mereka.
Tontowi/Liliyana juara dan Indonesia pun kembali bisa menganggap dirinya sebagai negara elite di dunia bulutangkis.
Indonesia lepas dari tradisi buruk tanpa medali dan Tontowi/Liliyana keluar dari bayang-bayang gelap yang menutupi diri.
Indonesia merdeka, pun begitu Tontowi/Liliyana. Seiring dengan naiknya Merah Putih ke tempat tertinggi dan berkumandangnya Indonesia Raya ke jutaan telinga di seluruh dunia.
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya! (ptr)