Wawancara Richard Mainaky

'Emas Asian Games Masih Jadi Target Ideal Owi/Butet'

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Sabtu, 27/08/2016 12:23 WIB
'Emas Asian Games Masih Jadi Target Ideal Owi/Butet' Richard Mainaky yakin Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir masih bisa kompetitif dalam dua tahun mendatang. (REUTERS/Mike Blake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Richard Mainaky, pelatih ganda campuran merupakan salah satu sosok yang berperan besar dalam keberhasilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir jadi juara Olimpiade 2016 ini. Richard tak kenal lelah menyemangati Tontowi/Liliyana dalam masa persiapan, termasuk juga terus menanamkan keyakinan pada Tontowi/Liliyana yang sempat menuai hasil buruk di dua tahun terakhir. 

Setelah jadi juara Olimpiade, bagaimana Richard melihat peluang Tontowi/Liliyana dalam tahun-tahun mendatang? Berikut petikan wawancaranya dengan CNNIndonesia.com:

Bagaimana Anda melihat target yang harus dibidik Tontowi/Liliyana di sisa tahun ini?



Setelah jadi juara Olimpiade, saya tak mau membebani mereka dengan target berat di sisa tahun ini. Saya tahu bahwa mereka pasti tak akan mau kalah dalam tiap turnamen yang diikuti namun yang jelas saya tak akan menekan mereka.

Masih ada turnamen besar di akhir tahun yaitu BWF Final Super Series di Dubai. Jadi saya akan melihat bagaimana performa Tontowi/Liliyana di turnamen akhir tahun tersebut.

Lalu masa depan duet Tontowi/Liliyana?

Saya masih menunggu bagaimana keputusan Liliyana setelah ini, langkah apa yang akan ia ambil terkait kariernya di dunia bulutangkis. Bila ia masih ingin mengayun raket, maka gelar Kejuaraan Dunia dan Asian Games masih bisa mereka jadikan target besar mereka dalam tahun-tahun mendatang.

Tontowi/Liliyana selalu jadi andalan dalam beberapa tahun ke belakang. Apa yang akan Anda lakukan untuk mengurangi tekanan berat yang selalu ada pada diri mereka?

Bila duet Tontowi/Liliyana terus berlanjut pada tahun depan, maka saya akan memecah mereka dalam beberapa turnamen dan memasangkan mereka dengan pemain muda. Tujuannya agar mereka dapat penyegaran sekaligus membuat pemain muda memiliki kesempatan belajar dari pemain seperti Tontowi/Liliyana.

Namun untuk ajang besar, tentu saja Tontowi/Liliyana masih akan jadi andalan untuk berprestasi.

Seberapa besar hasrat Tontowi/Liliyana membawa Indonesia jadi juara Piala Sudirman?

Sudah sejak lama nomor ganda campuran berharap bisa turut membantu Indonesia meraih Piala Sudirman. Untuk ajang sebesar itu, kemampuan Tontowi/Liliyana pastinya masih diperlukan dan diharapkan.

Liliyana telah menyatakan Olimpiade 2016 adalah Olimpiade terakhirnya. Bagaimana dengan peluang Tontowi tampil di Olimpiade 2020?

Bila pemain tetap berlatih disiplin dan fokus, maka kemungkinan Tontowi berlaga empat tahun mendatang masih terbuka lebar. Lihat saja beberapa pemain putra di ganda campuran sudah berusia tua seperti Joachim Fischer Pedersen, Robert Mateusiak, atau dulu Nova Widianto. Mereka berhasil menunjukkan bahwa mereka tetap bisa kompetitif di usia tua.

Apakah Tontowi benar-benar jadi opsi satu-satunya yang bisa diandalkan di Olimpiade Tokyo 2020?

Tentu tidak. Sambil memantau permainan Tontowi, saya juga pastinya terus memoles pemain-pemain muda ganda campuran yang ada di pelatnas saat ini.

Dengan demikian nantinya tinggal melihat, apakah Tontowi masih jadi yang terbaik dan pantas kembali jadi wakil Indonesia, atau pemain muda yang bisa menggesernya dan bertindak sebagai andalan Indonesia.

Apa yang akan terjadi bila Debby Susanto benar-benar pensiun dalam waktu dekat?

Bila itu keputusan yang diambil Debby, tentu saja tak bisa berbuat banyak. Pastinya saya akan segera siapkan formula untuk pembentukan pasangan baru untuk Praveen Jordan secepatnya. (ptr)