Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Pak Tua Wenger, Apa Kabarmu?

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Jumat, 23/09/2016 08:05 WIB
Pak Tua Wenger, Apa Kabarmu? Arsene Wenger telah menjadi manajer Arsenal selama 20 tahun terakhir. (Reuters/Dylan Martinez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamu yang sudah tua, apa kabarmu
Katanya baru sembuh, katanya sakit
Jantung, ginjal, dan encok, sedikit sarap
Hati-hati Pak Tua Istirahatlah
Di luar banyak angin*

Banyak perubahan yang sudah terjadi di dunia sepakbola dalam 20 tahun terakhir ini. Mulai dari pengkhianatan Luis Figo dari Barcelona ke Real Madrid, potongan rambut David Beckham yang berkali-kali berganti, hingga kemunculan duo alien, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Namun satu hal yang pasti, Arsene Wenger masih setia di sisi Arsenal.

Wenger adalah fenomena. Di tengah ketatnya persaingan sepak bola modern, Wenger mampu memenangkan hati Arsenal, tepatnya manajemen Arsenal. Di saat sosok-sosok pelatih tak lagi bisa diidentikan dengan satu klub saja, Wenger tetap jadi pengecualian. Dalam 20 tahun terakhir, Wenger adalah Arsenal, dan Arsenal adalah Wenger.


Di saat awal kemunculannya, Wenger dan Arsenal adalah tokoh antagonis. Di hadapan penggemar sepakbola, Manchester United dengan Fergie Babes dan Liverpool dengan Spice Boys adalah protagonis, sementara Arsenal dengan David Seaman, Tony Adams, Martin Keown, hingga Ian Wright adalah tokoh antagonis.

Tetapi pada akhirnya Wenger sukses membuat Arsenal disegani. Mulai dari menciptakan duet maut Dennis Bergkamp-Ian Wright, mendatangkan Henry yang di masa mendatang jadi legenda Arsenal, hingga 'The Invincible Arsenal' di musim 2003/2004, Wenger adalah satu-satunya tokoh yang mampu menyaingi Alex Ferguson saat itu.

Terhitung sejak 1996-2003, Wenger mampu merebut tiga gelar Liga Inggris berbanding lima milik Ferguson. Catatan yang cukup imbang.

Namun ternyata mahakarya Wenger berupa 'The Invincible Arsenal' seolah jadi titik klimaks perjalanan kariernya di 'The Gunners'.

Setelah itu Arsenal kesulitan bersaing dalam perburuan gelar juara. Arsenal sempat coba menorehkan sukses di Liga Champions, tetapi langkah mereka terhenti di babak final 2006.

Setelah memenangi Piala FA 2004/2005, Arsenal pun mengalami paceklik gelar hingga nyaris satu dekade.

Dalam masa paceklik tersebut, kepiawaian Wenger dalam melihat bibt muda tak pernah luntur. Cesc Fabregas, Theo Walcott, Bacary Sagna, Robin van Persie, Aaron Ramsey, Samir Nasri, dan Gervinho adalah contoh bagaimana sentuhan emas Wenger bisa mengubah pemain muda jadi pemain elite dunia.

Tetapi Wenger tak punya daya untuk mengombinasikan bakat-bakat hebat itu dalam rangka membawa Arsenal juara. Tak hanya itu, Wenger juga tak punya kekuatan untuk membendung kepergian para bintang.

Satu per satu bintang pergi dengan alasan ingin memiliki klub dengan peluang juara lebih besar. Pernyataan yang disampaikan beberapa pemain ini jelas merupakan tamparan yang keras bagi Wenger dan Arsenal.

Wenger seolah tak bisa meyakinkan bahwa ketika mereka bersama, Arsenal bisa juara.

Ada satu alasan yang sering keluar dari mulut Wenger di masa itu adalah Arsenal sedang dalam masa mengencangkan ikat pinggang demi pembangunan Stadion Emirates. Alhasil, Arsenal tak bisa membeli pemain bintang dan beberapa kali terpaksa pasrah menjual pemain andalan.

Saat neraca keuangan mulai normal, Wenger pun kembali berada di posisi yang sama dengan manajer klub elite lainnya. Ia bisa membelanjakan uang untuk membeli pemain elite.

Tetapi pada akhirnya, antusiasme suporter Arsenal berujung kekecewaan. Wenger terbilang sangat irit dalam pengeluaran, seolah uang Arsenal adalah uang yang benar-benar keluar dari kocek pribadinya.

Masih teringat bagaimana di musim lalu Wenger menyebut Petr Cech satu-satunya pembelian yang dibutuhkan Arsenal, tapi kemudian di tengah musim dirinya mengeluhkan badai cedera yang menimpa para pemainnya.

Musim ini pun Wenger mendapatkan kritikan keras lantaran baru membeli Granit Xhaka, sebelum akhirnya memboyong Lucas Perez dan Shkodran Mustafi di hari-hari terakhir.

Dalam hal pembelanjaan pemain, Wenger sepertinya masih terbayang-bayang cerita masa lalu. Jelas Wenger tak bisa membandingkan bagaimana uang sebesar 11 juta poundsterling bisa membuatnya mendatangkan Henry di tahun 1999.

Nilai uang saat ini telah mengalami pergeseran. Bagi banyak klub, angka 20-30 juta poundsterling saat ini merupakan angka yang biasa dan tak akan memberatkan. Bahkan klub seperti Crystal Palace dan Leicester City pun kini berani menghamburkan uang sebesar itu.

Stagnan, bosan, dan tanpa trofi kemenangan.

Itulah alasan mengapa suara-suara negatif untuk Wenger semakin bermunculan. Dua trofi Piala FA yang menghapus dahaga gelar pada 2014 dan 2015 tak bisa sepenuhnya menyelamatkan nama baik Wenger.

Prestasi lain yang diajukan Wenger sebagai dalih adalah posisi empat besar yang selalu mereka dapat dalam lebih dari satu dekade terakhir, satu catatan yang tak bisa dilakukan oleh klub-klub Inggris lainnya.

Sayangnya Wenger seperti lupa, bahwa hal itu tak berdampak pada bertambahnya koleksi trofi di lemari Arsenal.

Ketika suporter klub elit lain di Inggris mulai menikmati hasil kinerja pelatih anyar, tak ada yang berubah terhadap Arsenal.

Saat pendukung United harap-harap cemas pada Jose Mourinho, ketika suporter Chelsea menunggu kiprah Antonio Conte, dan di saat fans Manchester City menanti aksi Pep Guardiola, pendukung Arsenal masih setia pada rutinitasnya dengan Wenger.

Mourinho-Guardiola-Conte-Klopp adalah generasi 2000-an yang langsung melesat sebagai manajer elite saat ini. Kharisma mereka tentu menghadirkan godaan luar biasa bagi para suporter.

Bukankah wajar bila akhirnya pendukung Arsenal berandai-andai apa yang akan terjadi bila tim kesayangan mereka dipegang oleh pelatih anyar?

Wenger sendiri saat ini seolah berada pada posisi untuk tak bisa mengibarkan bendera putih. 'The Professor' tak mau menyerah pada pertempuran yang saat ini sudah mulai mencoreng namanya.

Wenger ingin akhir yang bagus di Arsenal dan karena itu ia mengungkit kehebatan dirinya saat menolak tawaran dari beberapa klub besar Eropa.

Saat kontrak Wenger dengan Arsenal berakhir musim ini, bola sepenuhnya ada di tangan manajemen Arsenal. Menarik untuk menanti apakah mereka akhirnya tega mengucapkan kata putus pada Wenger yang telah 20 tahun berdiri setia.

Pak Tua Sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah, oh ya!
Pak Tua Sudahlah
Kami mampu untuk bekerja, oh ya!*

Atau justru yang terjadi adalah akhir bahagia bagi semua, yaitu ketika Wenger sukses memboyong trofi Liga Inggris, dan bahkan Liga Champions, untuk kembali mendapatkan cinta seutuhnya dari seluruh pendukung Arsenal.

-------

* = Lirik lagu Pak Tua, dipopulerkan Elpamas dan Iwan Fals (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


BACA JUGA