"Saat saya masuk, ada banyak senior yang berprestasi hebat, mulai dari Candra, Tony Gunawan, Sigit Budiarto, hingga Halim Haryanto."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan status Candra yang sudah ada di puncak dunia dan Hendra yang masih mulai merintis karier, maka terkadang Hendra merasa inferior di depan Candra.
"Selain itu, kalau sedang latihan dan berpasangan dengan dia, saya sangat berhati-hati sekali karena takut membuat salah," tutur Hendra.
Di balik kekaguman Hendra pada Candra, Hendra pun kemudian mengaku terinspirasi untuk mengikuti jejak seniornya.
"Candra itu latihan datang paling awal dan pulang paling akhir. Dalam hati saya, dia yang sudah jadi juara saja, masih rajin latihan. Itu berarti saya harus berlatih lebih keras dari itu bila ingin jadi juara," ujar pemain asal Jaya Raya Jakarta ini.
Beberapa tahun kemudian, Hendra mulai menikmati hasil kerja kerasnya. Kini di usianya yang sudah 32 tahun, Hendra sudah mengecap manisnya juara Olimpiade, juara dunia (tiga kali), dan juara All England.
Hendra pun kini memiliki karisma yang tak kalah dengan karisma Candra yang sempat ia kagumi ketika masih jadi pemain muda dulu. Para pemain muda memandang Hendra dengan penuh rasa hormat, kagum, dan diselingi rasa segan.
"Saya berusaha untuk biasa saja. Saya tetap berdiskusi dan bercanda dengan para pemain muda yang ada di sini," tutur Hendra. (ptr)