Brawn merupakan mantan insiyur motorsport dan kepala tim F1. Pria berusia 62 tahun tersebut pernah bekerja sebagai direktur teknik tim Benetton dan Ferrari. Dua tim yang membesarkan nama Schumacher di F1.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhir 1996, Brawn mengikuti kepindahan Schumacher ke tim Ferrari. Setelah empat tahun bereksperimen, Brawn sebagai direktur teknik kemudian mengembalikan kejayaan Ferrari di tengah dominasi tim Williams dan McLaren kala itu.
Tak hanya itu, Brawn juga membantu Schumacher menyabet lima gelar berturut-turut dari 2000 hingga 2004. Duet Brawn dan Schumacher membuat para pencinta balap F1 menyebut mereka dalam Ferrari dengan sebutan 'Tim Impian'.
Schumacher sempat pensiun pada akhir musim 2006 dan menjadi konsultan untuk tim Ferrari. Tiga tahun kemudian, ia memutuskan untuk kembali membalap bersama tim Mercedes, tentu dengan kehadiran Brawn di dalamnya.
"Hanya kombisnasi ini (Schumacher-Brwan) yang membuat saya ingin kembali membalap. Tak ada kombinasi lain karena Ross merupakan teman saya sejak lama, dia kenal betul saya dalam setiap detil," kata Schumacher delapan tahun lalau seperti yang dikutip dari GP Update.
"Kami berdua memenangkan banyak balapan, kami melalui masa-masa sulit, yang pada akhirnya kami selesaikan dengan cara yang baik," sambungnya.
Schumacher pensiun untuk yang kedua kalinya pada 2012, setelah mendapati performanya tak sebaik dahulu. Sebab, ia tak lagi mampu menembus peringkat lima besar dalam masa pengabdian dua tahun di tim Mercedes.
Kendati demikian, Brawn menilai Schumacher turut berkontribusi dalam struktur organisasi di Mercedes yang pengaruhnya masih dirasakan hingga kini.
"Dia membantu menciptakan kesuksesan yang kami dapatkan di Ferrari dan dia melanjutkan pendekatannya di Mercedes," katanya seperti yang dikutip dari CNN.
Posisi Schumacher kemudian digantikan pebalap Inggris, Lewis Hamilton. Dua tahun setelah Schumacher pensiun, Hamilton berhasil merebut gelar juara F1 pada musim 2014. Ini merupakan gelar ketiga Mercedes sejak kali terakhir diraih pada 1955.
Tak hanya itu, di musim tersebut Mercedes juga menjadi konstruktor terbaik. Mercedes kemudian secara beruntun menyabet gelar juara dunia dan konstruktor terbiak pada 2015 dan 2016. (jun)