APC Ingin INASGOC dan INAPGOC Jadi Satu

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 15:46 WIB
APC Ingin INASGOC dan INAPGOC Jadi Satu APC berfoto bersama dengan INAPGOC usai menggelar rapat koordinasi di Dubai. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Asian Paralympic Committee (APC) Tarek Souei mengingatkan, permasalahan dasar yang terjadi di setiap kegiatan lantaran adanya pemisahan panitia penyelenggara. Termasuk dalam pelaksanaan Asian Games dan Asian Para Games (APG).

Padahal, dalam tiga pelaksanaan terakhir (Guangzhou 2010, Incheon 2014, dan Jakarta-Palembang 2018) , keduanya seperti paket kegiatan, yang penyelenggaraannya tidak bisa dipisahkan.

Persoalan yang terjadi tidak saja dialami Indonesia sebagai tuan rumah APG 2018 mendatang. Kondisi serupa juga terjadi saat gelaran APG 2014 di Incheon, Korea Selatan.

“Masalah di Incheon, ada dua panitia pelaksana dan ini sama seperti yang terjadi di Jakarta. Mereka membagi dua organisasi, INAPGOC (panitia penyelenggara Asian Para Games) dan INASGOC (Asian Games),” kata Tarek kepada CNNIndonesia.com.


Karena itu, Tarek berharap, ke depannya permasalahan-permasalahan yang ada karena pemisahan kepanitiaan tidak terjadi lagi.
Sekjen APC Tarek Souei (kanan) berjabat tangan dengan Presiden INAPGOC Raja Sapta Oktohari.Sekjen APC Tarek Souei (kanan) berjabat tangan dengan Presiden INAPGOC Raja Sapta Oktohari. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
“Kami sebenarnya lebih suka kalau hanya ada satu organisasi seperti format di olimpiade dan paralimpik. Kami berharap, di Asia ke depannya, hanya ada satu panitia penyelenggara,” Tarek menegaskan.

Tarek menjelaskan dengan adanya dua panitia penyelenggara, hal itu dapat menimbulkan banyak permasalahan. Salah satunya, banyak kebijakan yang harusnya bisa dijalankan beriringan tapi justru terpisah.

“Selain itu banyak juga uang yang harus dikeluarkan. Jadi, lebih baik satu (panitia penyelenggara) saja,” Tarek berharap.

APC tidak bisa membandingkan kekurangan maupun kelebihan antara Incheon dan Jakarta sebagai tuan rumah. Yang pasti, kedua kota punya karakteristik dan letak geografis yang berbeda.
Presiden INAPGOC Raja Sapta Oktohari saat meninjau salah satu venue.Presiden INAPGOC Raja Sapta Oktohari (kanan) saat meninjau salah satu venue Asian Para Games. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Incheon bukan ibu kota Korea Selatan sedangkan Jakarta merupakan ibu kota yang memiliki populasi penduduk terbesar di Indonesia yang membuat sistem transportasi bagi para peserta Asian Para Games menjadi lebih sulit.

“Kami mendapat laporan waktu tempuh ke beberapa venue membutuhkan 40-50 menit. Itu jadi masalah untuk atlet dan ofisial dari perkampungan atlet ke venue, maupun dari satu venue ke venue lain. Termasuk kami kesulitan untuk supervisi, begitu juga INAPGOC sendiri,” kata Tarek menjelaskan.

Dengan kondisi seperti itu, baik atlet maupun ofisial bakal banyak kehilangan waktu di jalan, ditambah kemacetan yang ada. Kondisi itu juga bisa membuat atlet menjadi stres.

“Kami berharap mereka (INAPGOC) punya solusi. Saya dengar ada Transjakarta sebagai salah satu solusinya. Mereka bisa menjadikan ini kampanye, supaya masyarakat bisa menggunakan transportasi publik dan membantu meningkatkan kepedulian tentang penyelenggaraan APG. Apa yang boleh dilakukan apa yang tidak,” ucap Tarek. (sry)