Selain Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang merupakan juara bertahan dan unggulan pertama, Indonesia juga menurunkan Angga Pratama/Rian Agung Saputro, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan ganda berpengalaman yang kembali dipersatukan Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan memiliki pengalaman namun dianggap sudah tidak secepat para pemain muda. (Dok. Humas PBSI) |
Sementara mengenai Ahsan/Hendra yang kembali dipersatukan pada tahun ini, Herry menilai faktor fisik dapat menjadi penentu bagi duet senior itu untuk meraih hasil maksmial.
"Mungkin mereka tidak bisa disamakan dengan Kevin/Marcus atau Fajar/Rian, karena sudah usia, jadi kecepatan menurun. Nah, ini yang harus disiasati, bagaimana ke depannya bersaing dengan pemain-pemain muda. Menurut saya sih, tidak terlalu banyak pekerjaan rumahnya," jelas Herry.
Fajar Alfian/Mohammad Rian Ardianto merupakan pasangan Indonesia dengan tertinggi kedua setelah Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya. (Dok. PBSI) |
Pelatih 54 tahun itu juga mengantisipasi peraturan baru berupa batas tinggi servis. Peraturan yang menyatakan batas servis adalah 115 cm dari permukaan lapangan tersebut sudah 'memakan korban' di German Open, ketika Fajar/Rian kalah di laga final.
"Seperti Fajar main dari babak pertama sampai semifinal German Open itu servisnya aman, tetapi kenapa di final bisa disalahkan sampai lima kali? Saya lihat posisinya servisnya sama, tingginya sama, semua sama, tapi service judge beda orang," ujar Herry menjelaskan kondisi final ganda putra German Open. (bac)
Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan memiliki pengalaman namun dianggap sudah tidak secepat para pemain muda. (Dok. Humas PBSI)
Fajar Alfian/Mohammad Rian Ardianto merupakan pasangan Indonesia dengan tertinggi kedua setelah Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya. (Dok. PBSI)