ANALISIS

Striker Tajam Jadi Kebutuhan Mendesak Timnas Indonesia

Surya Sumirat, CNN Indonesia | Jumat, 04/05/2018 10:41 WIB
Striker Tajam Jadi Kebutuhan Mendesak Timnas Indonesia Timnas Indonesia gagal cetak gol di ajang PSSI Anniversary Cup 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Indonesia membutuhkan penyerang tajam setelah gagal mencetak gol di turnamen PSSI Anniversary Cup 2018 yang berlangsung sejak 27 April hingga 3 Mei.

Dua penyerang, Ilija Spasojevic dan Lerby Eliandry, yang seluruhnya termasuk kategori striker Timnas Indonesia senior tidak bisa menunjukkan ketajamannya membobol gawang lawan di Anniversary Cup.

Berdasarkan data dari Labbola, dalam tiga pertandingan di PSSI Anniversary Cup 2018, Tim Merah Putih mencatatkan 40 percobaan mencetak gol. Rata-rata Timnas Indonesia hanya melepaskan 13,3 tendangan dalam setiap pertandingan, yang sebagian besar di antaranya dilepaskan pemain gelandang atau sayap.


Tidak saja tanpa gol, jumlah tembakan Timnas Indonesia di setiap pertandingan Anniversary Cup juga mengalami penurunan.

Di pertandingan pertama melawan Bahrain, Timnas Indonesia menurunkan Lerby sebagai starter, lalu memainkan dua penyerang dengan memasukkan Spasojevic pada 10 menit terakhir.

Ilija Spasojevic gagal menjawab keraguan setelah tidak mampu mencetak gol di Anniversary Cup.Ilija Spasojevic gagal menjawab keraguan banyak pihak setelah tidak mampu mencetak gol di Anniversary Cup. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Hasilnya tuan rumah Timnas Indonesia melepaskan sebanyak 18 tendangan. Dari jumlah itu hanya delapan yang on target.

Saat menghadapi Korea Utara, pelatih Luis Milla mengganti komposisi lini depan dengan memainkan Spasojevic selama 90 menit. Sayangnya tidak ada perubahan berarti.

Dari 18 percobaan di laga pertama, Timnas Indonesia hanya bisa melepaskan 13 tendangan ketika bentrok melawan Korea Utara dengan hanya dua tendangan yang tepat sasaran.

Striker Tajam Jadi Kebutuhan Mendesak Timnas Indonesia
Kedua tendangan itu pun bukan berasal dari Spasojevic yang merupakan target man. Salah satu percobaan on target tersebut berasal dari Febri Hariyadi di awal babak pertama. Spasojevic sempat membuat upaya mencetak gol, tapi tendangan pelannya hanya bisa membentur tiang gawang Korea Utara.

Masalah cetak gol Luis Milla makin besar ketika hasil laga melawan Uzbekistan berakhir imbang 0-0. Secara permainan Timnas Indonesia mengalami perkembangan yang bagus. Namun, tidak bisa diimbangi dengan gelontoran gol ke gawang lawan.

Tanpa gol di Anniversary Cup, peluang Luis Millan memangil striker baru terbuka lebar.Tanpa gol di Anniversary Cup, peluang Luis Milla memangil striker baru terbuka lebar. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Melawan Uzbekistan Timnas Indonesia hanya membuat satu tembakan on target ke gawang lawan dari sembilan percobaan. Itu pun dari tendangan penalti Septian David Maulana yang berhasil diblok kiper timnas Uzbekistan.

Beberapa peluang emas Skuat Garuda juga terbuang percuma. Seperti saat babak pertama di mana striker Lerby Eliandry tidak bisa memanfaatkan umpan lambung dari sisi kiri.

Termasuk juga winger Osvaldo Haay yang gagal memanfaatkan umpan matang Febri Hariyadi. Padahal saat itu Osvaldo persis berada di depan gawang Uzbekistan.

Meski diberi dua kali kesempatan bermain, Lerby Eliandry tetap tidak bisa cetak gol di Anniversary Cup.Meski diberi dua kali kesempatan bermain, Lerby Eliandry tetap tidak bisa cetak gol di Anniversary Cup. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Setelah minus gol di PSSI Anniversary Cup, kebutuhan Timnas Indonesia untuk seorang penyerang dengan rasio gol bagus ini terlihat sangat mendesak, mengingat Asian Games 2018 menyisakan tiga bulan lagi.

Sehingga tidak mengherankan apabila tim pelatih Timnas Indonesia berniat memanggil penyerang baru untuk persiapan akhir Asian Games 2018. Luis Milla pun mengakui Timnas Indonesia memiliki masalah mencetak gol seusai laga melawan Uzbekistan.

Jelang laga melawan Uzbekistan, asisten pelatih Bima Sakti mengaku sempat mempertimbangkan beberapa nama seperti Boaz Solossa, Greg Nwokolo, dan Beto Goncalves.

Melihat kualitas ketiga nama di atas, hanya Beto yang ideal sebagai penyerang tengah. Kualitas Beto di Liga Indonesia juga terbilang masih bagus. Musim ini dia baru mengemas dua gol, sedangkan di Liga 1 2017 lalu mencetak 22 gol.

Hanya saja jika nanti Timnas Indonesia kembali memanggil pemain naturalisasi, striker lokal harus menerima kenyataan bahwa mereka perlu berjuang lebih keras untuk bisa mengenakan kostum Merah Putih di ajang-ajang berikutnya. (sry/har)