Perbandingan Kroasia 2018 dengan Kroasia 1998

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 06:51 WIB
Perbandingan Kroasia 2018 dengan Kroasia 1998 Kroasia 2018 melewati pencapaian Kroasia 1998 di ajang Piala Dunia. (REUTERS/Carl Recine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Kroasia berhasil menembus final Piala Dunia 2018. Berikut perbandingan timnas Kroasia 2018 dengan Kroasia 1998.

Kroasia 1998 adalah tim generasi emas pertama yang dimiliki Kroasia yang baru merdeka pada 1991. Saat itu Kroasia sebagai tim debutan mampu tampil mengejutkan dengan lolos ke babak semifinal sebelum akhirnya kalah dari Prancis.

Sukses Davor Suker dan kawan-kawan inilah yang kemudian jadi pondasi untuk mimpi-mimpi yang lebih besar bagi pemuda-pemuda Kroasia berikutnya, seperti Luka Modric, Ivan Rakitic, hingga Mario Mandzukic.


Kini, Modric dan kawan-kawan telah lolos ke babak final, melewati pencapaian Suker dan kawan-kawan yang jadi pahlawan masa kecil mereka. Lalu bagaimana sebenarnya perbandingan kekuatan Kroasia 2018 dengan Kroasia 1998. Berikut perbandingan kekuatan kedua tim:

Kiper

Kroasia saat ini diperkuat oleh Danijel Subasic. Subasic menunjukkan kapasitasnya sebagai dewa pelindung Kroasia sepanjang Piala Dunia 2018 berjalan. Kemampuan Subasic sangat terlihat dalam keberhasilan Kroasia melalui dua drama adu penalti dengan kemenangan.

Danijel Subasic jadi pahlawan Kroasia dalam dua duel adu penalti.Danijel Subasic jadi pahlawan Kroasia dalam dua duel adu penalti. (Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Pada Piala Dunia 1998, Kroasia mengandalkan Drazen Ladic. Ladic juga punya peran penting dalam keberhasilan Kroasia. Peran besar Ladic ada dalam laga lawan Jerman di babak perempat final. Ladic mampu mementahkan sejumlah peluang emas untuk Jerman termasuk tendangan jarak dekat Olivier Bierhoff. Jerman sangat putus asa dalam laga itu sehingga akhirnya kalah 0-3 di akhir pertandingan.

Namun Ladic gagal menjaga kokohnya tembok Kroasia di babak semifinal. Ia tak bisa menghalau aksi Lilian Thuram yang muncul sebagai penyelamat Prancis.

Melihat lebih banyak laga sulit yang dialami Kroasia kali ini, Subasic layak mendapatkan nilai lebih bagus dibandingkan Ladic.

Bek

Kroasia tahun 2018 dikomandoi oleh Dejan Lovren di lini belakang, dibantu oleh Domagoj Vida, Sime Vrsaljko, dan Ivan Strinic.

Sepanjang Piala Dunia 2018, Kroasia termasuk dalam jajaran tim yang punya pertahanan kokoh. Di babak penyisihan yang disebut grup neraka, Kroasia hanya kebobolan satu gol. Lalu, memasuki fase gugur, Kroasia kemasukan satu gol tiap laga.

Pada tahun 1998, Slaven Bilic adalah komandan lini belakang Kroasia, dibantu oleh Igor Stimac, Dario Simic, dan Robert Jarni.

Slaven Bilic merupakan bek andalan Kroasia di Piala Dunia 1998.Slaven Bilic merupakan bek andalan Kroasia di Piala Dunia 1998. (REUTERS/John Sibley)
Bilic termasuk bek yang garang dan lugas terhadap lawan. Sementara itu bek sayap Kroasia termasuk yang rajin membantu serangan. Jarni bahkan ikut menyumbang satu gol lewat tendangan keras ke gawang Jerman.

Kroasia 1998 juga mampu mencetak dua clean sheet dan hanya kebobolan tiga gol dalam empat laga di fase knock out, sedangkan Kroasia saat ini sudah kebobolan tiga gol sebelum menjalani laga final.

Menilik hal tersebut, Kroasia 1998 sepertinya masih lebih unggul dibandingkan tim saat ini dalam hal bertahan.

Gelandang

Kroasia tahun 2018 punya gelandang elegan macam Luka Modric, Marcelo Brozovic dan Ivan Perisic, ditambah gelandang dengan naluri serang mematikan macam Ante Rebic dan Ivan Perisic.

Gelandang-gelandang ini yang membuat Kroasia bisa mendominasi pertandingan, bahkan saat menghadapi tim semacam Argentina. Gelandang Kroasia adalah elemen terkuat yang ada dalam tim Kroasia saat ini.
Luka Modric berhasil memimpin Kroasia 2018 melewati pencapaian Kroasia 1998.Luka Modric berhasil memimpin Kroasia 2018 melewati pencapaian Kroasia 1998. (REUTERS/Christian Hartmann)
Kehadiran gelandang Kroasia bisa jadi penghubung yang baik antara lini belakang dan depan. Barisan gelandang ini ikut rapat membantu menggalang pertahanan dan bisa jadi pemecah masalah ketika striker-striker Kroasia mengalami kebuntuan.

Pada Kroasia 1998, Zvonimir Boban adalah otak permainan Kroasia. Gelandang AC Milan itu menunjukkan peran besarnya sebagai pengatur serangan Kroasia. Zvonimir Soldo, Aljosa Asanovic, Mario Stanic, dan Robert Prosinecki bahu membahu menggalang lini tengah Kroasia.

Lini tengah ini sukses merepotkan lawan-lawan Kroasia, seperti Jerman yang dihajar 3-0. Argentina dan Prancis bahkan harus bersusah payah mendapatkan kemenangan atas Kroasia.

Namun melihat porsi peran yang ada secara garis besar, gelandang Kroasia 2018 lebih baik dibandingkan gelandang Kroasia 1998.

Striker

Kroasia 1998 memiliki Mario Mandzukic sebagai ujung tombak. Dengan jam terbang yang tinggi, Mandzukic punya banyak cara untuk membongkar pertahanan lawan. Mandzukic juga menyumbang dua gol di fase gugur setelah gagal mencatatkan namanya di papan skor.

Davor Suker masih layak disebut sebagai striker terbaik Kroasia di Piala Dunia.Davor Suker masih layak disebut sebagai striker terbaik Kroasia di Piala Dunia. (Foto: AFP PHOTO / VINCENT AMALVY)
Namun bila dibandingkan Davor Suker di Kroasia 1998, jelas Suker punya keunggulan dibandingkan Mandzukic. Suker bisa tampil konsisten sebagai mesin gol sepanjang turnamen. Suker bisa jadi andalan Kroasia di tiap laga.

Catatan enam gol sepanjang turnamen jelas jadi ukuran kehebatan Suker. Sampai saat ini, Suker masih layak menyandang predikat striker terbaik Kroasia di Piala Dunia. (sry)