Para Pendukung Palestina Tetap Kagumi Timnas Indonesia U-23

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 11:43 WIB
Para pendukung timnas Palestina tetap menghormati dan mengagumi Timnas Indonesia U-23, terutama sambutan positif para suporter Merah Putih. Duel sengit dimenangkan timnas Palestina U-23 atas Timnas Indonesia dengan skor 2-1. (INASGOC/Charlie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Indonesia U-23 takluk 1-2 dari Palestina di laga Grup A Asian Games 2018, Rabu (15/8). Meski gagal tampil maksimal, para Garuda Muda tetap dikagumi dan dihormati segelintir pendukung Singa Kanaan yang juga hadir di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi.

Salah satu yang kagum dengan tim asuhan Luis Milla tersebut adalah perempuan asal Palestina, Raya Fatayer. Raya bersama dua rekannya datang dari Palestina ke Stadion Patriot Candrabhaga untuk mengabadikan momen penting baginya: pertarungan dua negara bersahabat di lapangan.

Raya yang menjalankan tugasnya sebagai pekerja media, merasa terkesan dengan atmosfer pertandingan, serta keramahan para warga Indonesia terhadap orang-orang Palestina. Ia kemudian berbagi pengalaman ketika bertemu sejumlah warga Indonesia ketika kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta.


"Ketika mereka [orang Indonesia] tahu kami dari Palestina, mereka berubah [jadi semakin baik]. Mereka selalu tersenyum," ucap Raya.

"Ketika kami jalan-jalan di sini, mereka banyak mengatakan 'Kami mendukung Palestina, kami cinta Palestina.' dan hal-hal lain semacam itu. Jadi kami sangat berterimakasih atas segala keramahan dan kebaikan hati dari masyarakat Indonesia," ucapnya menambahkan.

Para Pendukung Palestina Tetap Kagumi Timnas Indonesia U-23Raya Fatayer (kiri) mengaku sangat terkesan dengan sambutan positif para pendukung Timnas Indonesia di Asian Games 2018. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Raya pun begitu antusias membahas kekuatan Timnas Indonesia dibandingkan dengan tim kebanggaan para warga Palestina.

"Ya saya tahu sepak bola Indonesia, saya menyaksikan pertandingan mereka [Timnas Indonesia U-23]. Mereka tim yang sangat kuat, saya pikir mereka mempersiapkan diri dengan sangat baik. Dan mereka punya pelatih asal Spanyol yang berkualitas," kata jurnalis Palestine Sport Network tersebut kepada CNNIndonesia.com.

Di Palestina, Raya tinggal di daerah bernama Nablus, sebuah kota yang berada di Tepi Barat bagian utara. Total ada sekitar hampir 90 orang Palestina -- terdiri dari atlet dan ofisial - yang datang ke Indonesia untuk Asian Games 2018.

"Palestina bertanding dalam 12 pertandingan di Asian Games 2018, salah satunya adalah sepak bola," ucap Raya.

Sepak bola di Tengah Konflik Palestina-Israel

Berbeda dengan di Indonesia, sepak bola Palestina berkembang di tengah konflik antara warga Palestina dan militer Israel. Sebelum Asian Games 2018 dimulai, Palestina berduka lantaran tiga orang meninggal akibat bentrokan di perbatasan Gaza.

Akan tetapi, Raya menceritakan kondisi di negara dia tidak semuanya buruk. Raya mengatakan Palestina memiliki banyak olahraga yang terus berkembang di tengah kemelut konflik dengan Israel.

Para pendukung Timnas Indonesia yang kecewa tim kebanggaan mereka kalah, namun tetap menyambut hanya para pemain Timnas Palestina. (Para pendukung Timnas Indonesia yang kecewa tim kebanggaan mereka kalah, namun tetap menyambut hanya para pemain Timnas Palestina. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
"Khususnya sepak bola, olahraga ini berkembang dengan sangat baik dari sebelumnya sejak 2008. Mereka [pemain Palestina] bermain di berbagai tempat, tim sepak bola kami juga tersebar di setiap kota. Kami punya kompetisi juga dengan orang-orang di Gaza dan Tepi Barat," ujar Raya.

"Terkadang karena suatu kondisi, tim dari Gaza dan Tepi Barat tidak bisa bertanding. Tapi biasanya, setiap tahun ada saja pertandingan [sepak bola] antara kedua daerah itu. Di timnas juga ada satu pemain dari Gaza yang bertanding di Asian Games 2018," ujarnya melanjutkan.

Satu-satunya pemain dari Gaza yang membela Timnas Palestina dalam cabang olahraga sepak bola putra di Asian Games 2018 adalah Abdelatif Bahdari. Bek berusia 34 tahun ini adalah pemain dari klub Merkas Balata.

Markas dari Merkas Balata terletak di kampung halaman Raya, Nablus.

"Sebetulnya ada lebih banyak pemain dari Gaza, tapi mereka tidak bisa meperkuat Timnas Palestina karena tidak dapat izin dari pihak Israel. Tapi olahraga di Palestina sekarang semakin baik hari demi hari," tutur Raya.

"Ada orang di federasi yang sangat peduli dengan sepak bola di Palestina, dia selalu mengirim pemain ke luar Palestina agar suatu saat kami bisa bermain di Piala Dunia. Mungkin saja itu [bermain di Piala Dunia] terjadi, kami bekerja keras agar bisa berada di tingkatan yang sangat tinggi," tuturnya kembali.

Raya menegaskan kompetisi berjalan dengan baik di Palestina. Timnas Palestina, lanjutnya, sering bertanding di beberapa tempat di Asia.

"Selain itu, ada juga tim dari luar yang uji coba di Palestina. Dua pekan lalu, kami kedatangan tim dari Irak untuk bertanding di Palestina, ada juga dari Oman," pungkas Raya.

"Kami juga punya beragam kelompok umur yang bertanding di sini. Jadi kalau ada anggapan pemain kami kualitasnya menurun karena perang, itu tidak benar dan itu aneh," pungkasnya lagi. (bac/nva)