Asian Games: Terinspirasi Jafro, Belajar dari Bambang Hartono

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Selasa, 04/09/2018 18:22 WIB
Asian Games: Terinspirasi Jafro, Belajar dari Bambang Hartono Bambang Hartono begitu gembira saat menghadiri acara pemberian bonus di Istana Negara. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asian Games 2018 telah usai dan atlet-atlet peraih medali kini jadi idola dan inspirasi. Mereka menjelma jadi pahlawan masa kini.

Jafro Megawanto sulit membayangkan bisa jadi atlet paralayang yang membawa harum nama Indonesia di Asian Games. Untuk sekadar jadi atlet paralayang pun ia tak berani mengharapkan.


Mahalnya peralatan paralayang yang bisa mencapai angka Rp50 juta ke atas sangat sulit dijangkau oleh Jafro yang hanya berasal dari keluarga petani.


Jafro dalam kondisi sulit, namun ia tak melepaskan kesempatan yang datang padanya. Saat ada tawaran untuk jadi atlet paralayang, ia langsung mengambil tawaran tersebut.

Jafro Megawanto berasal dari keluarga petani namun bisa jadi atlet paralayang yang dikenal sebagai olahraga mahal.Jafro Megawanto berasal dari keluarga petani namun bisa jadi atlet paralayang yang dikenal sebagai olahraga mahal. (ANTARA FOTO/INASGOC/Tagor Siagian)
Kisah Jafro bak cinderella. Dari pelipat parasut paralayang menjadi atlet yang berdiri di podium tertinggi cabang olahraga paralayang.

Medali emas Asian Games ada di tangan, sesuatu yang bermula dari keinginan dirinya untuk merasakan 'terbang' dengan paralayang.

Kisah menarik lainnya datang dari Bambang Hartono. Sebagai orang terkaya di Indonesia, Bambang jelas sudah ada di 'puncak dunia'. Namun ia tetap punya gairah besar untuk turun membela Indonesia di ajang Asian Games.

Di usianya yang akan menginjak 79 tahun pada Oktober mendatang, Bambang tak mau melewatkan kesempatan yang ada di depan mata. Ia sukses meraih perunggu supermixed team bridge dan kini menyandang status sebagai atlet tertua yang pernah memberikan medali untuk Indonesia di ajang Asian Games.
Hanifan Yudani Kusumah, salah satu atlet Indonesia yang meraih medali emas Asian Games 2018.Hanifan Yudani Kusumah, salah satu atlet Indonesia yang meraih medali emas Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Kebahagiaan Bambang jelas terpancar saat ia menghadiri pemberian bonus bagi atlet di Istana Negara. Nominal yang ada, Rp150 juta, mungkin tak berarti apa-apa dibandingkan total harta kekayaan yang dimilikinya. Namun medali perunggu yang melingkar di lehernya bisa jadi merupakan salah satu pencapaian terbesar di dalam hidupnya.

Menjadi atlet adalah salah satu profesi yang paling sulit diwujudkan di dunia. Sebelum mereka bisa mengalahkan lawan-lawan dari negara lain, mereka terlebih dulu harus menyingirkan ratusan atau ribuan atlet lainnya untuk bisa jadi wakil Indonesia.


Setiap atlet punya latar belakang yang berbeda. Semuanya punya jalan berliku yang tak mudah ditemukan garis akhirnya. Ada kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, namun tidak ada kemustahilan selama memiliki rasa percaya diri.

Atlet-atlet Asian Games 2018 telah memberikan pelajaran berharga, bahwa selalu ada cara untuk mengharumkan nama Indonesia, sebesar apapun kesulitan yang mungkin ada di depan mata. (bac)