Sekretaris PT JSC Mirza Zulkarnain Mursalin mengatakan sebelum Asian Games 2018 biaya perawatan yang mencakup venue, karyawan, dan sebagainya adalah Rp1,5 miliar. Namun setelah venue dan fasilitas pendukung bertambah di JSC, kata dia, otomatis biaya perawatannya pun meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mirza menyampaikan pihak JSC juga akan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan kompleks olahraga tersebut. Ia juga belum tahu kemungkinan mendapat suntikan dana dari pemerintah untuk biaya perawatan itu.
Venue di Jakabaring Sport City akan diproyeksikan untukk menggelar multievent Olimpiade. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Lihat juga:5 Drama Heboh di Asian Games 2018 |
"JSC bisa lebih baik, sukses, dan menyelenggarakan event yang lebih besar lagi dari Asian Games. Senang sekali dan luar biasa menjadi bagian sejarah bagi Asian Games," pungkas dia.
Fed Cup dan Olimpiade
Lebih lanjut, Mirza sadar tanggung jawab pemeliharaan JSC ini begitu besar. Maka dari itu, pihaknya menjalin komunitas-komunitas olahraga setempat untuk berbicara tentang pengelolaan mendatang.
Danau di Jakabaring Sport City direncanakan menjadi venue kejuaraan olahraga-olahraga pantai. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Menarik juga dan sepertinya untuk anak muda itu keren. Kami senang, dan itu salah satu pemanfaatan yang kami dapat setelah bertemu dengan komunitas olahraga. Dan saya baru tahu juga 16 lapangan tenis di JSC bisa buat Fed Cup, event yang katanya setingkat di bawah Wimbledon," ujarnya melanjutkan.
Gubernur Sumater Selatan, Alex Noerdin, lanjut Mirza, sudah wanti-wanti agar jangan sampai salah mengelola JSC. Mirza yakin akan banyak godaan dari segi komersial.
"Pola pikirnya harus mulai dari PON, SEA Games, Asian Games, dan kemudian Olimpiade. Itu yang dibilang Pak Gubernur," tutur Mirza.
Kebersihan toilet dan sampah akan menjadi evaluasi untuk multievent berikutnya di Jakabaring Sport City. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Evaluasi Asian Games 2018
Untuk menggapai mimpi tertinggi dalam menyelenggarakan ajang olahraga tingkat dunia, evaluasi yang mendalam terhadap Asian Games 2018 khususnya yang berada di Palembang sangat diperlukan.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang Isnaini Madani mengakui ada kekurangan koordinasi antara dinas pariwisata dengan panitia Asian Games 2018. Salah satu dampak dari kesalahan komunikasi itu adalah usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi kurang merasakan euforia Asian Games 2018.
Isnaini juga menyayangkan banyak pihak yang tidak bisa mendapatkan cinderamata Asian Games 2018 di Palembang. Boneka maskot Bhin bhin, Atung, dan Kaka, ludes terjual.
"Suvenir Asian Games 2018 itu hanya satu pihak yang jual, pihak lain tidak boleh. Akhirnya yang dirugikan siapa? Ini dampaknya nama baik bangsa, malu kita," katanya lagi.
Sementara itu, Mirza sebagai pengelola JSC lebih menyoroti masalah kebersihan. Dua hal yang menjadi perhatian utama Mirza selama Asian Games adalah toilet dan sampah.
"Betul, jadi utamanya [pakaian dalam] yang wanita. Mungkin itu dari atlet, problemnya di saluran toilet wanita mampet. Tapi kami langsung atasi, kami sedot," ucap Mirza.
"Problem kami hanya dua ketika di Asian Games 2018 yaitu toilet dan sampah. Kami tetap memberi perhatian pada masalah itu dan berharap pelayanan lebih baik lagi mendatang," sambung dia. (sry/bac)
Venue di Jakabaring Sport City akan diproyeksikan untukk menggelar multievent Olimpiade. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Danau di Jakabaring Sport City direncanakan menjadi venue kejuaraan olahraga-olahraga pantai. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kebersihan toilet dan sampah akan menjadi evaluasi untuk multievent berikutnya di Jakabaring Sport City. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)