Asian Games 2018

Biaya Perawatan di Jakabaring Meningkat Usai Asian Games 2018

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Selasa, 04/09/2018 00:14 WIB
Biaya perawatan venue olahraga di Jakabaring Sport City (JSC) meningkat jadi Rp2 miliar setelah Asian Games 2018 berakhir. Biaya perawatan di Jakabaring Sport City meninggal usai pagelaran Asian Games 2018. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Biaya perawatan venue olahraga di Jakabaring Sport City (JSC) meningkat Rp500 juta setelah Asian Games 2018 berakhir.

Sekretaris PT JSC Mirza Zulkarnain Mursalin mengatakan sebelum Asian Games 2018 biaya perawatan yang mencakup venue, karyawan, dan sebagainya adalah Rp1,5 miliar. Namun setelah venue dan fasilitas pendukung bertambah di JSC, kata dia, otomatis biaya perawatannya pun meningkat.

"Kemungkinan biaya perawatannya menjadi Rp2 miliar. Nah Rp2 miliar itu kan cukup besar, artinya kami harus memiliki rencana untuk bisa mencapai angka itu. Caranya bagaimana?" ucap Mirza kepada CNNIndonesia.com pada Senin (3/9) di Kantor Pengelola JSC.


"Kami berkonsentrasi mengoptimalkan venue yang ada. Untuk konser, kawinan, tidak tidak apa-apa untuk meningkatkan okupasi. Asal, rencana pembangunan di kompleks JSC tidak berubah [untuk persiapan Olimpiade]," ucapnya menambahkan.

Mirza menyampaikan pihak JSC juga akan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan kompleks olahraga tersebut. Ia juga belum tahu kemungkinan mendapat suntikan dana dari pemerintah untuk biaya perawatan itu.

Venue di Jakabaring Sport City akan diproyeksikan untukk menggelar multievent Olimpiade. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Tapi kami yakin kalau tidak dapat [suntikan dana pemerintah], kami bisa survive. Kami yakin JSC ini sangat 'seksi', pasti bakal banyak yang mau. Kami juga sambut baik jika dinas pariwisata ini mau menjadikan JSC sebagai wisata olahraga kota Palembang," katanya.

Senada dengan Mirza, Alice Handoyo selaku manajer Hubungan Masyarakat PT JSC mempersilahkan masyarakat untuk memakai dan turut menjaga fasilitas yang ada di JSC seperti akuatik, dayung, boling, dan lainnya. Selain itu, mantan atlet berkuda ini juga menerangkan Wisma Atlet nantinya juga akan disewakan.

"JSC bisa lebih baik, sukses, dan menyelenggarakan event yang lebih besar lagi dari Asian Games. Senang sekali dan luar biasa menjadi bagian sejarah bagi Asian Games," pungkas dia.

Fed Cup dan Olimpiade

Lebih lanjut, Mirza sadar tanggung jawab pemeliharaan JSC ini begitu besar. Maka dari itu, pihaknya menjalin komunitas-komunitas olahraga setempat untuk berbicara tentang pengelolaan mendatang.

Danau di Jakabaring Sport City direncanakan menjadi venue kejuaraan olahraga-olahraga pantai.Danau di Jakabaring Sport City direncanakan menjadi venue kejuaraan olahraga-olahraga pantai. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Venue dayung yang begitu besar pemeliharaannya, kalau tidak ada event bagaimana? Setelah ngobrol-ngobrol, kami ketemu dengan komunitas voli pantai yang mengajak buat beach game. Beach game itu dari triathlon, voli pantai, dayung, jetski, dan lainnnya," ujar Mirza.

"Menarik juga dan sepertinya untuk anak muda itu keren. Kami senang, dan itu salah satu pemanfaatan yang kami dapat setelah bertemu dengan komunitas olahraga. Dan saya baru tahu juga 16 lapangan tenis di JSC bisa buat Fed Cup, event yang katanya setingkat di bawah Wimbledon," ujarnya melanjutkan.

Gubernur Sumater Selatan, Alex Noerdin, lanjut Mirza, sudah wanti-wanti agar jangan sampai salah mengelola JSC. Mirza yakin akan banyak godaan dari segi komersial.

"Pola pikirnya harus mulai dari PON, SEA Games, Asian Games, dan kemudian Olimpiade. Itu yang dibilang Pak Gubernur," tutur Mirza.

Kebersihan toilet dan sampah akan menjadi evaluasi untuk multievent berikutnya di Jakabaring Sport City.Kebersihan toilet dan sampah akan menjadi evaluasi untuk multievent berikutnya di Jakabaring Sport City. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Hanya kalau dari fasilitas, sepertinya Palembang sendiri [untuk Olimpiade] itu tidak mungkin. Mungkin Palembang-Jakarta seperti yang kami jalankan di Asian Games 2018, tapi kami yakin bahwa itu [Olimpiade di Indonesia] bisa," tuturnya kembali.

Evaluasi Asian Games 2018

Untuk menggapai mimpi tertinggi dalam menyelenggarakan ajang olahraga tingkat dunia, evaluasi yang mendalam terhadap Asian Games 2018 khususnya yang berada di Palembang sangat diperlukan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang Isnaini Madani mengakui ada kekurangan koordinasi antara dinas pariwisata dengan panitia Asian Games 2018. Salah satu dampak dari kesalahan komunikasi itu adalah usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi kurang merasakan euforia Asian Games 2018.

"Dari panitia pusat seharusnya lebih bisa mengajak UKM lokal, banyak UKM yang tidak berani berkontribusi di AG ini sehingga gaungnya tidak kerasa sampai ke akar," kata Isnaini.

Isnaini juga menyayangkan banyak pihak yang tidak bisa mendapatkan cinderamata Asian Games 2018 di Palembang. Boneka maskot Bhin bhin, Atung, dan Kaka, ludes terjual.

"Suvenir Asian Games 2018 itu hanya satu pihak yang jual, pihak lain tidak boleh. Akhirnya yang dirugikan siapa? Ini dampaknya nama baik bangsa, malu kita," katanya lagi.

Sementara itu, Mirza sebagai pengelola JSC lebih menyoroti masalah kebersihan. Dua hal yang menjadi perhatian utama Mirza selama Asian Games adalah toilet dan sampah.

Bahkan, Mirza membenarkan di toilet atlet venue dayung sempat ditemukan pakaian dalam.

"Betul, jadi utamanya [pakaian dalam] yang wanita. Mungkin itu dari atlet, problemnya di saluran toilet wanita mampet. Tapi kami langsung atasi, kami sedot," ucap Mirza.

"Problem kami hanya dua ketika di Asian Games 2018 yaitu toilet dan sampah. Kami tetap memberi perhatian pada masalah itu dan berharap pelayanan lebih baik lagi mendatang," sambung dia. (sry/bac)