Kisah Buruh Pabrik Jadi Atlet Balap Kursi Roda

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Rabu, 05/09/2018 12:25 WIB
Kisah Buruh Pabrik Jadi Atlet Balap Kursi Roda Jainal Aripin jadi andalan Indonesi di balap kursi roda Asian Paragames 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecelakaan motor di daerah Cikalong Wetan arah Purwakarta 2006 silam mengubah jalan hidup Jainal Aripin. Mantan buruh pabrik ini tak mau putus asa dan malah menjadi andalan Indonesia di Asian Para Games 2018.

Jainal menceritakan kisah yang mengubah hidupnya. Pada usia 18 tahun Jainal melaju motornya dengan cukup cepat. Maksud hati mau menyalip truk besar yang melintas tapi nasib berkata lain. Ia jatuh tersenggol bus yang membuat kedua kakinya terlindas.

Saat itu, Tol Cipularang sedang ditutup sehingga bus-bus besar harus melalui jalur alternatif melewati Cikalong Wetan. Jainal mencoba bangkit dari tempat kejadian dan mencari tempat aman dari truk yang berlalu lalang di Cikalong Wetan.


Tapi, ketika mau bangun ia mendapati kedua kakinya sudah hancur. Bahkan, salah satu kakinya sudah putus karena terlindas truk.

"Saya di situ berpikir saya bakalan hidup tanpa kaki. Tapi alhamdulillah enggak ada pikiran kalau saya bakal mati. Alhamdulillah, saya masih bersyukur yang terlindas cuma kaki bukan kepala. Di benak saya cuma satu, saya hidup enggak bakal punya kaki. Itu saja," kata Jainal saat berbincang bersama CNNIndonesia.com di Solo.

Sadar kakinya hilang, Jainal sempat merasa malu dan minder untuk bertemu banyak orang. Pria yang saat ini berusia 30 tahun itu sempat mengalami masa-masa berat ketika banyak orang yang mengejek kondisinya yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Ilustrasi balap kursi roda.Ilustrasi balap kursi roda. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Dukungan dan motivasi dari orang tua dan keluarga akhirnya membuat Jainal bisa bangkit dari keterpurukan. Meskipun diakuinya, kedua orang tuanya sempat tidak menerima kondisi Jainal yang harus kehilangan kedua kakinya.

Maklum, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Jainal adalah tulang punggung keluarga.

"Saat saya mau operasi amputasi, yang tanda tangan (surat persetujuan operasi) bukan orang tua, tapi paman saya. Bahkan ibu saya enggak tau kalau saya diamputasi. Dulu kondisi ibu saya drop enggak terima anaknya kondisinya seperti itu."

"Ibu tahunya saya kecelakaan jatuh saja. Tetangga dan keluarga menutupi kondisi saya. Ibu saya baru tahu kondisi saya seminggu setelah saya diamputasi," ungkap Jainal.

Butuh proses panjang buat Jainal bangkit. Ia juga sempat tidak menerima kondisinya yang awalnya normal berubah 100 persen jadi tuna daksa.

Semua orang terdekat hanya memintanya untuk tabah dan bersabar menerima ujian dari Tuhan. Jainal juga yakin, pasti ada hikmah di balik kejadian yang menimpanya.

Buat Jainal, hal tersulit yang harus dihadapinya setelah menjadi tuna daksa yakni mengembalikan rasa percaya dirinya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang teman yang memperkenalkannya kepada dunia olahraga disabilitas.

Ia dibawa ke National Paralympic Committee (NPC) daerah di Bandung, Jawa Barat. Kemudian, ia diarahkan untuk mengikuti balap kursi roda sampai ia bisa berprestasi seperti saat ini.

Jainal pertama kali tampil di Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) di Bekasi dan langsung mendapatkan tiga medali emas yang membuatnya dipromosikan masuk pelatnas.

Ilusttrasi balap kursi roda.Ilusttrasi balap kursi roda. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jainal pertana kali tampil mewakili Indonesia di Asean Para Games di Singapura 2015. Ia membawa pulang dua perak dan satu perunggu dari Negeri Singa itu.

"Pertamanya saya enggak percaya saya jadi atlet. Tapi ibu saya yang paling pertama mendukung saya di awal karier. Saya paling bahagia saat dengar dia merasa bangga sama saya. Itu yang bikin saya bahagia dan itu yang memacu saya semangat berolahraga," sebut Jainal.

Meski kehilangan dua kakinya, Jainal merasa bersyukur atas kehidupan yang dimiliki saat ini. Selain karier yang bagus, ia juga sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra.

"Anak dan istri jadi motivasi tambahan saya. Di pelatnas, mau enggak mau harus berkorban waktu dan keluarga. Tapi karena teknologi sudah canggih, tiap hari bisa video call sama anak saya. Dia selalu bilang 'ayah jadi nomor satu ya!" ungkapnya.

Jainal kini tengah menjalani pemusatan latihan di Solo jelang Asian Para Games 2018 yang digelar di Jakarta 6-13 Oktober mendatang. Tampil di hadapan publik Indonesia, Jainal berharap bisa mempersembahkan prestasi terbaik. (jun/nva)