ANALISIS

Gemas Menanti Juru Gedor Timnas Indonesia yang Trengginas

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Rabu, 12/09/2018 09:53 WIB
Gemas Menanti Juru Gedor Timnas Indonesia yang Trengginas Evan Dimas menjadi pencetak gol kemenangan Timnas Indonesia ke gawang timnas Mauritius. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Indonesia meraih kemenangan atas timnas Mauritius dengan skor tipis. Seandainya penyelesaian akhir lebih manjur, bukan tidak mungkin skuat arahan mantan pelatih dan pemain Primavera seperti Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy dan Danurwindo menang telak.

Skuat Garuda menuai hasil positif usai menjalani laga uji tanding menghadapi kesebelasan berjuluk The Dodo. Kemenangan adalah hal yang jarang didapat ketika Timnas Indonesia bertemu dengan kesebelasan asal Afrika.
Dalam 10 laga sebelumnya menghadapi timnas asal Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), Indonesia hanya meraih satu kemenangan yakni ketika menjamu Tanzania pada 1997.

Sejak wasit Minoru Tojo membunyikan peluit tanda laga dimulai, Timnas Indonesia yang sering menguasai bola dan sukses memproduksi peluang mencetak gol. Kecepatan Zulfiandi dan kawan-kawan yang berpadu dengan organisasi tim terlihat hampir sepanjang 90 menit.


Sabar menghadapi pressing lawan di lini tengah dan tak tergesa-gesa menggedor pertahanan lawan yang rapat dilakukan secara berulang, sebuah instruksi pelatih yang diterapkan dengan baik di lapangan.
Febri Hariyadi kerap menjadi penyerang sayap di Timnas Indonesia U-23 maupun senior.Febri Hariyadi kerap menjadi penyerang sayap di Timnas Indonesia U-23 maupun senior. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
"Terima kasih kepada pemain karena sudah kerja keras dan bermain sabar, karena untuk membongkar pertahanan rapat tidak gampang. Kalau pemain tidak sabar akan cepat salah. Tapi, alhamdulillah pemain bermain sesuai instruksi, sabar dalam menghadapi pertahanan ketat," ujar Kurniawan Dwi Yulianto yang menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia.

Kualitas pertahanan Mauritius yang cukup apik sebenarnya dapat ditembus oleh Tim Merah Putih melalui pergerakan cepat individu maupun umpan terobosan yang menjurus ke jantung pertahanan lawan.

Hansamu Yama Pranata membuka daftar kans Indonesia untuk mengubah angka di papan skor pada menit ke-11. Menyusul tembakan Evan Dimas yang ditahan kiper Jean-Louis Kevin di pertengahan babak pertama.

Agresivitas pemain Timnas Indonesia pun meningkat pada babak kedua yang berimbas pada jumlah peluang. Boaz Solossa, Stefano Lilipaly, dan Ilham Udin Armayn tercatat melepaskan tembakan tepat sasaran yang masih belum mampu melewati adangan Kevin di bawah mistar Mauritius.
Evan Dimas merayakan gol ke gawang timnas Mauritius bersama Dedik Setiawan.Evan Dimas merayakan gol ke gawang timnas Mauritius bersama Dedik Setiawan. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Dedik Setiawan yang masuk pada menit-menit akhir babak kedua menggantikan Lilipaly juga melepaskan tembakan yang diblok Kevin. Bola rebound dimanfaatkan dengan baik oleh Evan dan menjadi satu-satunya gol tim tuan rumah.

Dalam catatan statistik pertandingan tercatat selama 2x45 menit Indonesia melepaskan 10 tembakan dan tujuh di antaranya mengarah ke gawang.

"Kami berhasil menahan dengan cara kami. Menit-menit terakhir kami membuat kesalahan. Pemain Indonesia sangat bagus, cepat, dan memiliki variasi serangan bagus. Kami beruntung kiper kami tampil bagus malam ini. Kami kebobolan di menit 89, tapi sebenarnya mereka punya banyak peluang," ujar pelatih Francisco Filho usai laga berlangsung.

Ucapan mantan pelatih tim junior Manchester United itu menegaskan Timnas Indonesia sudah mengalami perubahan yang baik di banyak aspek, namun tidak untuk penyelesaian akhir. Masalah klasik yang muncul seiring ketiadaan ujung tombak andal di dalam negeri.
Boaz Solossa tetap mendapat panggilan menghuni lini serang Timnas Indonesia di usia 32 tahun.Boaz Solossa tetap mendapat panggilan menghuni lini serang Timnas Indonesia di usia 32 tahun. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Kemampuan pemain dari sektor lain mencetak gol memang sudah menjadi bagian dari sepak bola modern, tetapi untuk kasus Timnas Indonesia ada sedikit perbedaan karena ketiadaan juru gedor yang mumpuni.

Pemain naturalisasi seperti menjadi pemuas dahaga di tengah keringnya lumbung gol penyerang lokal. Alberto Goncalves dan Stefano Lilipaly pun seolah kian mematenkan anggapan tingkat ketajaman pemain asing berkat gol di Asian Games 2018 lalu.
Dari 13 gol yang dibukukan anak asuh Luis Milla, delapan di antaranya berasal dari kaki dan kepala pemain naturalisasi tersebut.

Jika melihat daftar pencetak gol terbanyak Liga 1 2018, nama-nama asing pun lebih banyak tertera. Hanya ada penyerang veteran Samsul Arif sebagai wakil lokal yang masuk dalam daftar 10 pemain yang paling sering memproduksi gol dengan 10 gol atau terpaut empat gol dari pemimpin daftar topskor Fernando Rodriguez. (ptr)