Secara kasat mata, nyaris tidak ada yang membedakan Susan Unggu dengan orang-orang pada umumnya. Bola matanya masih terlihat tajam seperti layaknya orang yang bisa melihat normal dengan bulu mata lentik yang menghiasnya. Di balik itu, ada kisah panjang yang mengubah jalan hidupnya.
Usianya masih tujuh tahun ketika terjadi perang antarsuku di Desa Obi, Maluku Utara pada 1998 lalu. Ia bersama keluarganya berlari ke hutan dengan maksud menyelamatkan diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suatu hari, Susan dan keluarga mencoba kembali ke desanya. Di perjalanan pulang, ia masih bisa melihat indahnya ombak di pantai dan gunung yang menjulang tinggi. Namun ternyata, pantai dan gunung itu menjadi pemandangan terakhir yang bisa dilihatnya.
Susan Unggu (kanan) terus berlari meski tidak bisa melihat demi emas Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
"Pagi harinya, saat dibangunkan dari tidur saya sudah tidak bisa melihat. Saya menangis, teriak-teriak. Enggak ada yang percaya [kalau saya buta], kata mereka mata saya baik-baik saja," kata Susan mengenang peristiwa saat ia kehilangan kemampuan melihat.
Setelah pandangannya hilang, Susan diberikan air untuk cuci muka. Hasilnya, ia masih tetap tidak bisa melihat. Bahkan, matanya sempat diteteskan minyak gosok kayu putih yang kalau diteteskan ke mata normal bakal perih sekali. Namun ia tak merasakan apapun saat itu.
Sesampainya di sebuah desa, Susan juga sempat diberikan pengobatan tradisional dengan menggunakan jahe yang digosokkan ke matanya. Lagi-lagi, hasilnya nihil.
Sejak saat itu, Susan terus mengurung dirinya di kamar. Ia terus menangis meratapi nasibnya yang tak lagi bisa melihat. Ia menangis sejadi-jadinya karena takut tak punya teman-teman lagi karena kebutaan permanen yang ia alami.
Keluarganya pun berusaha untuk mengembalikan keceriaan Susan. Di usianya yang masuk 15 tahun, keluarga Susan membawanya pindah ke Manado, Sulawesi Utara.
Perlahan, keluarganya membujuk Susan untuk melanjutkan sekolahnya dengan iming-iming di sekolah ia akan memiliki banyak teman. Ia kemudian melanjutkan sekolah dan memiliki punya banyak teman yang membuatnya lebih ceria.
"Dulu saya sempat ikut belajar pijat. Dulu itu malu kalau ketemu teman karena tidak bisa lihat."
Sampai suatu ketika ada seorang temannya di sekolah yang mengajaknya untuk berlari. Susan mengaku sempat ragu, dalam benaknya berpikir: "Apa bisa, orang buta ikut lomba lari?"
"Dulu enggak mau jadi atlet, tapi dibujuk terus. Katanya, kalau ikut lari bisa punya banyak teman-teman," ucap Susan yang membeberkan alasannya mau diajak berlari.
Susan pertama kali turun di lomba resmi pada 2012, saat itu ia mewakili Sumatra Utara tampil di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) di Riau. Ia juga tampil di Peparnas Jawa Barat 2016 dengan memperoleh medali emas.
Susan yang kini sudah memiliki seorang putri tiga tahun hasil pernikahannya dengan Windu Tulango itu juga turun di nomor T-11 100 dan 200 meter putri ASEAN Para Games 2017 Malaysia dengan membawa pulang dua medali perak.
Kesempatan di Asian Para Games
Rentetan prestasi itu yang akhirnya membawa Susan dipercaya untuk tampil di Asian Para Games 2018, Oktober mendatang. Latihan rutin, jauh dari anak dan suami rela dikorbankannya demi meraih prestasi gemilang mengharumkan nama bangsa Indonesia.
Untuk turun di nomor lari T-11 yang pesertanya kehilangan indera penglihatan, setiap pelari akan mendapatkan pendamping yang menemaninya saat perlombaan.
Para atlet lari Indonesia untuk berlaga di Asian Para Games 2018 tengah berlatih. (Foto: CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
Tiga tahun terakhir, Theo begitu sabar mendampingi Susan. Tak hanya di latihan, Theo juga menjadi sahabatnya di luar lapangan.
Kehadiran Theo punya peran penting buat Susan untuk meraih prestasinya. Kini, catatan waktunya sudah bisa menembus waktu 13 detik. Gemblengan pelatih maupun suntikan semangat dari keluarga dan anaknya di Manado melecut Susan untuk bisa tampil lebih baik lagi.
"Kalau bisa dapat medali, nanti makan-makan sama teman-teman. Beli bakso," ungkap Susan. (ttf/sry)
Susan Unggu (kanan) terus berlari meski tidak bisa melihat demi emas Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Para atlet lari Indonesia untuk berlaga di Asian Para Games 2018 tengah berlatih. (Foto: CNN Indonesia/Titi Fajriyah)