Kisah Pilu Menuntun Susan ke Asian Para Games 2018

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/09/2018 01:26 WIB
Kisah Pilu Menuntun Susan ke Asian Para Games 2018 Susan Unggu (kanan) bertekad meraih medali emas di Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah pilu dirasakan Susan Unggu. Ia mengalami kebutaan sejak usia tujuh tahun, tapi pada akhirnya musibah itu menuntun ke Asian Para Games 2018.

Secara kasat mata, nyaris tidak ada yang membedakan Susan Unggu dengan orang-orang pada umumnya. Bola matanya masih terlihat tajam seperti layaknya orang yang bisa melihat normal dengan bulu mata lentik yang menghiasnya. Di balik itu, ada kisah panjang yang mengubah jalan hidupnya.

Usianya masih tujuh tahun ketika terjadi perang antarsuku di Desa Obi, Maluku Utara pada 1998 lalu. Ia bersama keluarganya berlari ke hutan dengan maksud menyelamatkan diri.


Selama beberapa waktu, Susan dan keluarganya tinggal di hutan. Tanpa berbekal makanan, ia dan keluarga hanya memanfaatkan pasokan makanan yang dihasilkan alam untuknya.

Suatu hari, Susan dan keluarga mencoba kembali ke desanya. Di perjalanan pulang, ia masih bisa melihat indahnya ombak di pantai dan gunung yang menjulang tinggi. Namun ternyata, pantai dan gunung itu menjadi pemandangan terakhir yang bisa dilihatnya.

Susan Unggu (kanan) terus berlari meski tidak bisa melihat demi emas Asian Para Games 2018. (Susan Unggu (kanan) terus berlari meski tidak bisa melihat demi emas Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
"Waktu tidur malam, saya teriak-teriak sakit perut. Lalu dikasih obat gosok kayu putih, kemudian tidur lagi. Ketika sadar, seperti ada tetesan air di dahi. Saya kucek ke arah kedua mata saya."

"Pagi harinya, saat dibangunkan dari tidur saya sudah tidak bisa melihat. Saya menangis, teriak-teriak. Enggak ada yang percaya [kalau saya buta], kata mereka mata saya baik-baik saja," kata Susan mengenang peristiwa saat ia kehilangan kemampuan melihat.

Setelah pandangannya hilang, Susan diberikan air untuk cuci muka. Hasilnya, ia masih tetap tidak bisa melihat. Bahkan, matanya sempat diteteskan minyak gosok kayu putih yang kalau diteteskan ke mata normal bakal perih sekali. Namun ia tak merasakan apapun saat itu.

Sesampainya di sebuah desa, Susan juga sempat diberikan pengobatan tradisional dengan menggunakan jahe yang digosokkan ke matanya. Lagi-lagi, hasilnya nihil.

"Sempat lihat ada bayangan, tapi goyang. Digosok lagi, tapi tetap saya tidak bisa lihat. Waktu berobat ke rumah sakit, dokternya tidak tahu kalau saya buta. Saya tetap diminta jalan sendiri, mungkin mereka tidak percaya kalau saya orang buta. Karena mataku ya seperti orang normal," ungkapnya.

Sejak saat itu, Susan terus mengurung dirinya di kamar. Ia terus menangis meratapi nasibnya yang tak lagi bisa melihat. Ia menangis sejadi-jadinya karena takut tak punya teman-teman lagi karena kebutaan permanen yang ia alami.

Keluarganya pun berusaha untuk mengembalikan keceriaan Susan. Di usianya yang masuk 15 tahun, keluarga Susan membawanya pindah ke Manado, Sulawesi Utara.

Perlahan, keluarganya membujuk Susan untuk melanjutkan sekolahnya dengan iming-iming di sekolah ia akan memiliki banyak teman. Ia kemudian melanjutkan sekolah dan memiliki punya banyak teman yang membuatnya lebih ceria.

"Dulu saya sempat ikut belajar pijat. Dulu itu malu kalau ketemu teman karena tidak bisa lihat."

Awal Menjadi Atlet Difabel

Sampai suatu ketika ada seorang temannya di sekolah yang mengajaknya untuk berlari. Susan mengaku sempat ragu, dalam benaknya berpikir: "Apa bisa, orang buta ikut lomba lari?"

"Dulu enggak mau jadi atlet, tapi dibujuk terus. Katanya, kalau ikut lari bisa punya banyak teman-teman," ucap Susan yang membeberkan alasannya mau diajak berlari.

Susan pertama kali turun di lomba resmi pada 2012, saat itu ia mewakili Sumatra Utara tampil di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) di Riau. Ia juga tampil di Peparnas Jawa Barat 2016 dengan memperoleh medali emas.

Susan yang kini sudah memiliki seorang putri tiga tahun hasil pernikahannya dengan Windu Tulango itu juga turun di nomor T-11 100 dan 200 meter putri ASEAN Para Games 2017 Malaysia dengan membawa pulang dua medali perak.

Kesempatan di Asian Para Games

Rentetan prestasi itu yang akhirnya membawa Susan dipercaya untuk tampil di Asian Para Games 2018, Oktober mendatang. Latihan rutin, jauh dari anak dan suami rela dikorbankannya demi meraih prestasi gemilang mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Untuk turun di nomor lari T-11 yang pesertanya kehilangan indera penglihatan, setiap pelari akan mendapatkan pendamping yang menemaninya saat perlombaan.

Para atlet lari Indonesia untuk berlaga di Asian Para Games 2018 tengah berlatih. (Para atlet lari Indonesia untuk berlaga di Asian Para Games 2018 tengah berlatih. (Foto: CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Susan juga pernah mengalami cerita pahit pengalamannya ketika tampil di Kejuaraan Para Atletik China Terbuka 2018. Kala itu, ia didiskualifikasi akibat terlepasnya tali pengikat yang menghubungkannya dengan pelari pendampingnya, Bangkit Theo Sanjaya.

Tiga tahun terakhir, Theo begitu sabar mendampingi Susan. Tak hanya di latihan, Theo juga menjadi sahabatnya di luar lapangan.

Kehadiran Theo punya peran penting buat Susan untuk meraih prestasinya. Kini, catatan waktunya sudah bisa menembus waktu 13 detik. Gemblengan pelatih maupun suntikan semangat dari keluarga dan anaknya di Manado melecut Susan untuk bisa tampil lebih baik lagi.

Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Susan yang kini sudah 27 tahun adalah bukti bahwa kekurangan bukan jadi hambatan baginya untuk terus berprestasi.

"Kalau bisa dapat medali, nanti makan-makan sama teman-teman. Beli bakso," ungkap Susan. (TTF)