Lagu Bintang Kecil Ubah Hidup Juru Pijat Asian Para Games

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Minggu, 07/10/2018 04:49 WIB
Lagu Bintang Kecil Ubah Hidup Juru Pijat Asian Para Games Tim juru pijat dari penyandang tuna netra selama Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lirik lagu Bintang Kecil mungkin punya kesan bagi sebagian orang Indonesia yang pernah merasakan masa kanak-kanak. Bagi seorang tuna netra yang juga juru pijat di Asian Para Games 2018, Ridwan, lagu itu bahkan menjadi inspirasi yang membuatnya tetap semangat menjalani hidup.

Lagu ciptaan Daldjono tersebut mengubah hidupnya. Pria yang kini 37 tahun asal Jakarta Barat ini tidak lahir dalam keadaan tuna netra. Ia sempat bisa melihat sampai 19 tahun.

"Penglihatan saya mulai menggelap pada 2000. Cerita awalnya itu penglihatan saya berkurang, ditambah pernah jatuh dari motor, kena [tulang] ekor. Waktu itu lagi jalan, ditabrak di daerah Gunung Sahari. Kencang sekali," kata Ridwan kepada CNNIndonesia.com di GBK Arena pada Sabtu (6/10).


"Penglihatan saya berkurang sedikit demi sedikit, setiap bangun tidur penglihatan saya semakin kabur. Sudah pernah coba pakai kacamata juga," katanya menambahkan.

Sempat Putus Asa

Tak mudah Ridwan bangkit dari kegelapan. Ia sempat depresi dan putus asa. Keberadaan teman-teman membuat dirinya masih membuatnya bertahan dan bisa berkreasi hingga saat ini

"Saya meronta-ronta, mereka bilang, 'Matinya nanti saja, yang penting pulang dulu. Pokoknya minum dulu biar tenang.'" ucap Ridwan menirukan perkataan teman kepadanya.

"Saya bilang, 'Kamu tidak mengalami [buta]!' Dia jawab, 'Iya, justru karena saya tidak mengalami, saya mau tanya kamu perasaannya bagaimana?' Pintar itu teman saya. Dari situ, teman-teman meyakinkan," ucapnya melanjutkan.

Acara pembukaan Asian Para Games 2018 berlangsung meriah. (Acara pembukaan Asian Para Games 2018 berlangsung meriah. (Foto: CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Atas keterbatasan tersebut, teman-teman dekat Ridwan dengan suka hati mengantar sahabanya bila ingin berpergian. Dari situ, Ridwan berpikir kalau dia tidak diasingkan mesti tidak lagi bisa melihat.

Lagu Bintang Kecil

Agar terhindar dari pikiran buruk, Ridwan memperdalam agama. Ridwan dibawa teman ke pengajian. Di pengajian tersebut, ia diberi pengertian bahwa hidupnya belum berakhir.

Hingga pada suatu malam, di sebuah pondok tempat dia tinggal bersama rekan-rekan tuna netra lain, Ridwan menemukan pencerahan dari lagu Bintang Kecil.

"Saya mulai bangkit ketika saya dengar teman saya bercerita setelah makan malam. Mereka bilang, 'Ridwan enak ya, pernah melihat. Tahu bagaimana rupa dari perempuan cantik, tahu bagaimana bentuk bintang. Tidak seperti kita.'"

"Mereka lalu nyanyi bintang kecil namun setiap akhir kalimat liriknya diberi tambahan kata 'katanya'. Jadi mereka bernyanyi, 'Bintang kecil, katanya. Di langit yang biru, katanya.' Saya bilang, 'Rasanya di lagu itu tidak ada kata 'katanya'?'

"Mereka bilang, 'Kalau buat kami, itu 'katanya'. Karena kami kan belum pernah lihat.'" ujar Ridwan menirukan ucapan teman sesama tuna netra sejak lahir.

Seketika Ridwan tak bisa menahan air mata. Ia menangis dengan deras dan kemudian bersujud.

"Saya bersyukur, oh ternyata ini hikmahnya. Saya akhirnya menerima keadaan saya sampai sekarang," ujarnya kembali.

Menggeluti Profesi Juru Pijat

Ridwan berkenalan dengan dunia pijat pada 2008 atau ketika dia berusia 27 tahun. Tak main-main, untuk terjun ke dunia pijat profesional, ia ikut sekolah pijat terlebih dahulu selama tiga tahun.

Di sekolah tersebut, dia mengaku belajar teori, praktik setengah tahun, hingga praktik kerja lapangan (PKL). Saat PKL, dia coba menawarkan jasa pijat dari pintu ke pintu.

Ridwan mencoba menunjukkan kebolehannya dalam memijat. (Ridwan mencoba menunjukkan kebolehannya dalam memijat. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)
"Di situ saya hanya minta pesan dan kesan, tidak dibayar atau gratis karena PKL. Lalu saya kalau malam cari di sekitar asrama di Dewi Sartika/Cawang atau perkantoran. Macam-macam penolakan saya dapat," tutur Ridwan.

"Karena tuna netra, orang menganggap bakal repot kalau dipijat. Padahal tidak. Ada lagi yang lucu. Orang kantor itu bilang, 'Sebentar ya Pak, saya hadap atasan.' Lalu ketika dia kembali, tiba-tiba kami dikasih amplop," tuturnya lagi.

Setelah lulus pendidikan tiga tahun, dapat sertifikat. Tarif pijat dia kini Rp80 ribu per satu jam.

CNNIndonesia.com sempat merasakan pijatan Ridwan selama hampir 24 menit dari mulai menelungkup, terlentang, hingga duduk. Nyaris seluruh bagian tubuh dibuat rileks oleh tangan Ridwan.

Kini Ridwan menjalani hidup dengan jauh lebih ikhlas, tanpa beban. Sebisa mungkin, sambil memijat, ia menginspirasi orang lain. (bac)