Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Jumpa Lagi dengan Arsenal yang Pernah Kita Kenal

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Sabtu, 08/12/2018 09:21 WIB
Jumpa Lagi dengan Arsenal yang Pernah Kita Kenal Arsenal pernah jadi tim yang atraktif dan menghibur. Di tangan Unai Emery, penggemar kembali berjumpa dengan Arsenal yang pernah mereka kenal. (REUTERS/David Klein)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arsenal pernah jadi tim yang atraktif, menghibur, dan tentunya merebut trofi kemenangan. Di tangan Unai Emery, karakter-karakter itu kembali terlihat. Penggemar sepak bola seperti kembali berjumpa dengan Arsenal yang pernah mereka kenal.

Dalam beberapa tahun terakhir, sosok Arsene Wenger seperti sosok pesakitan di The Gunners. Status pelatih legenda malah seolah tak lagi layak melekat kepadanya yang justru terlihat seperti orang tua renta yang tak mau meninggalkan mainan kesayangannya.

Filosofi dan ambisi Wenger tak lagi sehebat dekade sebelumnya ketika mereka jadi tim yang tak terkalahkan dan mampu menggoyang dominasi Manchester United era Sir Alex Ferguson. Arsenal mengkerdil jadi tim batu loncatan sejumlah pemain.
Jumpa Lagi dengan Arsenal yang Pernah Kita KenalArsenal tak terkalahkan dalam 20 laga terakhir. (Reuters/Carl Recine)
Arsenal seolah tampil seadanya karena target mereka hanya empat besar sejak di awal musim. Target yang bahkan kemudian menjadi sulit diraih oleh pasukan Wenger.


Ketika Wenger memutuskan menyerahkan takhta, ada rasa lega dan suporter Arsenal siap menyambut era baru. Kelegaan itu tentu disertai kecemasan karena pergantian manajer belum memberi jaminan apa-apa karena materi tim Arsenal tetaplah masuk dalam kategori biasa saja.

Rekrutan Arsenal di bursa transfer juga dihiasi nama-nama yang tergolong kurang familiar macam Lucas Torreira dan Matteo Guendouzi.

Manajer yang datang juga tak sepenuhnya memberikan jaminan harapan. Unai Emery memang telah menjadi pelatih besar seiring prestasinya bersama Sevilla dan Paris Saint-Germain. Namun Emery tetap belum masuk kategori elite karena ia tak bisa membawa PSG berprestasi di Eropa, bahkan sempat gagal juara Ligue 1 di musim 2016/2017.

Keraguan makin bertambah setelah melihat dua pekan awal Arsenal diwarnai kekalahan. Hal itu sejatinya terasa wajar mengingat dua pekan perdana Arsenal adalah dua pekan terberat di dunia, menghadapi juara bertahan Manchester City dan Chelsea.

Namun setelah terjerembab di dua laga awal, Emery berhasil membuktikan bahwa ia secara perlahan mampu memupuk kepercayaan diri dan kesolidan di tim Arsenal. Setelah dua kekalahan beruntun, Arsenal membalasnya dengan catatan 12 kemenangan beruntun dan berlanjut menjadi 20 laga tak terkalahkan lewat catatan 15 kemenangan dan dua hasil imbang.

Menilik khusus pada dua laga terakhir yang dimainkan Arsenal, yaitu menghadapi Tottenham Hotspur dan Manchester United dalam kurun waktu empat hari, terlihat jelas bahwa The Gunners kembali menunjukkan permainan penuh gairah yang sempat hilang dalam beberapa tahun belakangan.

Dalam laga lawan Tottenham dan Manchester United, Emery terbukti mampu meracik tim Arsenal yang menyenangkan, menghibur, terus menyerang, dan menciptakan banyak peluang.

Guendouzi dan Torreira terbukti mampu menjadi jangkar yang hebat di lini tengah Arsenal. Dengan formasi 3-4-3, Emery menempatkan Hector Bellerin dan Sead Kolasinac di sisi kanan dan kiri pada formasi empat gelandang. Hal itu membuat Kolasinac dan Bellerin bisa ikut turun membantu bertahan dengan cepat membantu trio Rob Holding-Shkodran Mustafi-Sokratis.

Kecepatan kaki Kolasinac dan Bellerin juga yang menunjang mereka berdua untuk bisa naik dengan cepat. Umpan-umpan silang sering lahir dari kedua pemain tersebut. Sedangkan Alex Iwobi dan Henrikh Mkhitaryan sebagai pendamping Pierre-Emerick Aubameyang di lini depan, sering kali turun ke tengah dan tak hanya berdiam di sisi sayap untuk berkolaborasi menyusun serangan.

Emery mungkin gagal menangani bintang-bintang PSG, namun Emery ahli dalam menjadi pemimpin skuat macam Arsenal yang kualitasnya terbilang masih rata-rata dan tak terlalu mentereng. Di Sevilla, Emery terbukti mampu membawa tim tersebut mencatat rekor tiga kali juara beruntun Liga Europa. Skuat Sevilla dan Arsenal terbilang memiliki kemiripan, sama-sama skuat yang layak masuk kuda hitam.

Emery bisa menarik potensi maksimal dari pemain-pemain yang ada di dalamnya. Pemain-pemain dengan kualitas bukan level utama mampu membuat Arsenal tampil kompetitif dan menarik.

Kelemahan yang Harus Diperbaiki

Namun tentunya belum semuanya sempurna untuk Emery di awal musim ini. Emery masih harus memperbaiki sejumlah kesalahan yang dilakukan oleh lini belakang Arsenal. Kesalahan lini belakang ini yang membuat Arsenal gagal menang di markas Manchester United.

Dikutip dari Opta, Arsenal adalah tim dengan kontribusi pemain cadangan tertinggi dalam hal gol dan assist. Namun dengan kata lain, Emery masih belum bisa menampilkan Arsenal yang langsung galak dari awal pertandingan.
Unai Emery masih gagal membawa Arsenal unggul di babak pertama pada Liga Inggris.Unai Emery masih gagal membawa Arsenal unggul di babak pertama pada Liga Inggris. (Reuters/Peter Cziborra)
Terbukti, dalam 15 pertandingan yang sudah dijalani di Liga Inggris, Arsenal belum pernah unggul di babak pertama. Pembacaan Emery terhadap suasana pertandingan memang sangat baik, namun itu juga berarti Emery masih belum benar-benar tahu komposisi terbaik yang bisa ditampilkan di awal laga.

Masih terlalu muluk berbicara peluang Arsenal untuk jadi juara Liga Inggris, karena Emery saat ini berada pada era yang sama dengan Manchester City milik Pep Guardiola yang memesona dan Liverpool milik Juergen Klopp yang makin klop.

Namun melihat permainan Arsenal dalam dua laga terakhir, Arsenal jelas kembali bergairah. Penggemar sepak bola seolah kembali berjumpa dengan Arsenal dalam periode keemasan, Arsenal yang atraktif dan variatif, Arsenal yang pernah kita kenal. (bac)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS