RD Pernah Ditawari Rp1,5 Miliar oleh Pengatur Skor

CNN Indonesia | Sabtu, 08/12/2018 19:36 WIB
RD Pernah Ditawari Rp1,5 Miliar oleh Pengatur Skor Rahmad Darmawan mengaku pernah dihubungi oleh pengatur skor. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan pelatih Timnas Indonesia, Rahmad Darmawan [RD] mengaku punya pengalaman pribadi terkait pengaturan skor ketika menangani Sriwijaya FC di musim 2008. Kala itu ia sedang membawa Sriwijaya tampil di Liga Champions Asia.

RD menyebut orang yang menghubunginya saat itu merupakan orang Indonesia. Angka Rp1,5 miliar itu disebut RD jumlah dari akumulasi 1,5 bulan gaji pemain Sriwijaya FC yang saat itu belum dibayarkan manajemen.

"Saat itu kami sedang dalam persiapan pertandingan melawan Shandong Luneng [klub asal China] di kandang Sriwijaya. Waktu itu mereka [pengatur skor] menawarkan Rp1,5 miliar," kata RD kepada wartawan, Sabtu (8/12).


"Orang yang telepon saya itu minta ketemu, saya tidak mau temui, kemudian telepon lagi dan mereka mau kita mengalah, karena waktu itu kita sudah tidak pengaruh hasil. Alhamdulillah kita menang 4-2 dan Shandong Luneng gagal. Jadi naik Seoul FC," ungkap RD menceritakan.

"Saya jelaskan ke manajemen, pelatih dan pemain bahwa kita jangan sampai kalah. Kita harus berjuang. Mereka [Shandong Luneng] sempat unggul dulu. Kaget saya, saya takut segala sisi, tapi alhamdulillah kami menang," tuturnya melanjutkan.
Rahmad Darmawan menyebut PSSI bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat bila bertindak baik dalam pemberantasan pengaturan skor.Rahmad Darmawan menyebut PSSI bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat bila bertindak baik dalam pemberantasan pengaturan skor. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Saat ini, isu pengaturan skor di sepak bola Indonesia kembali merebak. RD meminta PSSI untuk menindaklanjuti isu tersebut. Jika ada bukti, sudah saatnya PSSI menjalin kerja sama dengan pihak berwajib.

RD yakin aksi dan tindak lanjut yang dilakukan federasi mampu memulihkan kepercayaan masyarakat sepak bola Indonesia kepada PSSI.

RD meniai PSSI sudah waktunya membentuk tim khusus dengan melibatkan pihak berwajib serta pihak-pihak yang memiliki kapabilitas lainnya. Seperti yang pernah dilakukan di era 70-an dengan membentuk Tim Pemberantas Suap.

"Jadi harus ada tim khusus untuk mengusut kejadian-kejadian yang dianggap bisa menjadi salah satu jalan untuk meneruskan proses atas masalah ini," kata RD.

Menurut RD, yang saat ini melatih Mitra Kukar, tidak perlu takut untuk mengatakan apa yang dirasakan pemain atau pihak lain yang mengalami percobaan pengaturan skor. Sebab, apa yang diungkapkan nantinya bisa membantu federasi atau pihak berwajib untuk menyelesaikannya. (TTF/ptr)