Tiga Exco PSSI yang Terseret Kasus Dugaan Pengaturan Skor

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 16:09 WIB
Tiga Exco PSSI yang Terseret Kasus Dugaan Pengaturan Skor Tiga anggota Exco PSSI terseret kasus pengaturan skor. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI terseret kasus dugaan pengaturan skor di sepak bola nasional. Ketiga anggota Exco PSSI itu adalah: Johar Lin Eng, Hidayat, dan Papat Yunisal.

Pada akhir 2018 tiga orang anggota Exco PSSI tersandung kasus pengaturan skor pertandingan di Liga Indonesia. Nama Johar, Hidayat, dan Papat disebut terlibat pengaturan skor dalam acara Mata Najwa di Trans7.

Keterlibatan Johar, Hidayat, dan Papat tidak terjadi di level elite Liga Indonesia atau Liga 1, melainkan di level Liga 2 dan Liga 3.


Berikut tiga nama anggota Komite Eksekutif PSSI yang terseret kasus pengaturan skor di sepak bola nasional:

Hidayat

Hidayat awalnya merupakan pengurus PSSI yang menduduki beberapa posisi di komisi. Mulai dari wakil ketua di bidang kompetisi, ketua komisi pengembangan sepak bola usia muda, hingga wakil ketua bidang sepak bola.

Dalam acara Mata Najwa, akhir November 2018, Manajer Madura FC Januar Herwanto menyebut Hidayat pernah mencoba melakukan suap disertai ancaman agar klub tersebut mengalah dan memberikan kemenangan kepada PSS Sleman dalam lanjutan kompetisi Liga 2 di bulan Mei.

Hidayat langsung mengundurkan diri usai terseret pengaturan skor.Hidayat langsung mengundurkan diri usai terseret pengaturan skor. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)

"Dia mau kasih Rp100 juta dan bilang jangan bilang ke presiden klub. Saya tidak mau kemudian dinaikkan Rp150 juta, saya juga tidak mau. Lalu dia ancam saya untuk 'membeli' pemain Madura FC," ucap Januar saat di Mata Najwa.

Mengetahui namanya disebut dalam kasus pengaturan skor Hidayat akhirnya mengundurkan diri sebagai anggota Exco PSSI pada Senin (3/12). Komdis PSSI juga menghukum Hidayat dengan larangan beraktivitas di lingkup PSSI selama tiga tahun dengan dua tahun dilarang ke stadion, ditambah denda Rp150 juta.

Johar Lin Eng

Mata Najwa 'PSSI Bisa Apa' jilid 2 menyeret anggota Exco PSSI lainnya: Johar Lin Eng dan Papat Yunisal. Bupati Banjarnegara yang juga mantan Ketua Askab PSSI Banjarnegara, Budi Sarwono, mengaku pernah ditawari Johar yang merupakan Ketua Asprov Jawa Tengah untuk menjadi tuan rumah babak 32 besar Liga 3. Namun dengan imbalan Askab PSSI Banjarnegara memberikan Rp500 juta.

Johar Lin Eng kini ditangkap pihak kepolisian karena pengaturan skor.Johar Lin Eng kini ditangkap pihak kepolisian karena pengaturan skor. (ANTARA/I.C. Senjaya)

Selain itu Budhi Sarwono dan juga Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani memiliki laporan transfer uang sejumlah Rp25 juta kepada Johar Lin Eng. Lasmi Indaryani juga mengaku dikenalkan kepada mafia sepak bola yang disebut sebagai Mr. P oleh Johar Lin Eng. Saat merasa dicurangi wasit Persibara pun kerap mengadu dan mengeluh kepada Johar.

Di acara Mata Najwa itu juga ditampilkan sebuah percakapan antara Persibara dengan pihak lain yang membawa nama Johar. Isi percakapan itu soal 'aturan-aturan' agar Persibara naik kasta ke Liga 2. Nama Johar banyak terlibat dengan Askab PSSI Banjarnegara dan Persibara karena memiliki posisi penting di PSSI, yaitu Ketua Komisi Futsal dan Komisi Sepak Bola.

Papat Yunisal terseret kasus pengaturan skor terkait laporan Persibara Banjarnegara.Papat Yunisal terseret kasus pengaturan skor terkait laporan Persibara Banjarnegara. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Papat Yunisal

Nama Papat Yunisal muncul setelah Lasmi merasa ditipu setelah ditawari menjadi Manajer Timnas Indonesia Putri U-16 oleh seseorang yang disebut bernama Miss T, yang belakangan diklaim sebagai anak dari Mr. P. Menurut Lasmi agar prestasi Persibara terus menanjak ia diharuskan memberikan kontribusi kepada PSSI (pusat), salah satunya dengan menjadi Manajer Timnas Indonesia Putri U-16. Saat itu Lasmi dan Budhi Sarwono sudah mengeluarkan Rp300-400 juta untuk pemusatan latihan Timnas Indonesia Putri U-16 di Banjarnegara.

Lasmi menganggap biaya Rp300-400 juta itu untuk operasional (makan dan hotel). Akan tetapi untuk hitung-hitungan lebih rinci dilakukan Miss T dan Papat Yunisal.

Di Kepengurusan PSSI saat ini nama Papat Yunisal tercantum sebagai Ketua Komisi Sepak Bola Perempuan. Posisi itu ideal untuk menentukan seseorang menjadi manajer Timnas Indonesia Putri atau tidak. Selain itu Papat yang juga mantan pemain Timnas Indonesia Putri itu merupakan wakil ketua Komisi Studi Strategis. (sry/ptr)